Skip to main content

Jalan Jihad Jabhat Nusrat

Kelahirannya tak diumumkan terbuka. Media Manara al-Bayda, dalam video yang dirilis ke forum jihad Shumukh al-Islam, mengabarkan pembentukan Jabhat Nusrat al-li-Ahl al-Sham Min Mujahidin al-Sham fi Sahat al-Jihad, yang dikenal dengan Jabhat Nusrat. Dalam deklarasinya, sang pemimpin, Abu Mohammad al-Julani, menyebut kelahiran organisasi ini sebagai jawaban atas seruan jihad untuk membela rakyat Suriah melawan pasukan pemerintah Bashar al-Assad.


Jabhat Nusrat muncul di awal 2012, saat perang sipil di Suriah yang sudah di ambang tahun kedua tak menunjukkan tanda-tanda berakhir. Sementara pemerintah otoriter negara-negara bagian gerbong Arab Spring, sudah bertumbangan. Husni Mubarak di Mesir jatuh, Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia tumbang, dan Muammar Qadafi di Libya terbunuh.

Lahir belakangan setelah kelompok oposisi di Suriah malang melintang melawan tentara Assad, namun Nusrat perlahan membangun reputasi. Kelompok yang diperkirakan beranggotakan 5.000 orang ini sudah memiliki ketrampilan tempur karena sebagian besar merupakan veteran perang di Irak saat melawan tentara Amerika Serikat dan sekutunya. Suplai senjata dan pendanaannya cukup kuat dari sekutu jihadnya di Irak.

Tiga bulan setelah kelahirannya, Nusrat tercatat melancarkan tiga kali serangan terhadap pasukan Assad. Secara keseluruhan, penyerbuan naik dari tujuh pada Maret 2012 menjadi 60 selama Juni. Menurut Elizabeth O'Bagy, dalam laporan berjudul Jihad in Syria (2012), dalam kurun waktu setidaknya tujuh bulan, Nusrat sudah menyerang militer Assad di lima kota penting Suriah: Aleppo, Hama, Deir Ezzor, Idlib, dan Damaskus.

Menurut Site Intelligence Group, Nusrat juga mengaku bertanggung jawab terhadap 45 serangan dalam satu hari sekaligus di Damaskus, Deraa, Hama, dan Homs, yang menewaskan puluhan orang, termasuk 60 yang tewas dalam pemboman bunuh diri tunggal. Site, organisasi yang memonitor perkembangan kelompok jihad itu, menyebut klaim itu disertai bukti foto.

Belum berusia setahun, Nusrat telah menyerang jantung militer Assad: serangan ganda dengan bom bunuh diri ke kantor pertahanan Suriah di Aleppo pada 10 Februari dan ke markas besar intelijen Suriah di Deir Ezzor, 19 Mei 2012. Nusrat juga tak ketinggalan dalam pertempuran-pertempuran di kawasan perang terpanas Suriah, Aleppo, sejak Juli tahun lalu hingga kini.

Beberapa analis menyebutkan banyaknya serangan Nusrat menjadi bukti kelompok ini beranggotakan orang-orang terlatih. Nusrat memang bukan paramiliter arus utama penentang Assad yang berpayung di bawah Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army). Namun ketika menyerang, kelompok di luar Tentara Pembebasan tetap berkoordinasi dengan FSA.

Popularitas Nusrat pun meningkat. Batalion yang semula bergabung dengan kelompok bersenjata lain, banyak yang beralih ke Nusrat. Abu Feras, juru bicara untuk Dewan Revolusi Aleppo mengatakan, para pejuang Nusrat dianggap sebagai pahlawan karena mereka melawan tanpa takut atau ragu-ragu. Salah satu aktivis Dewan Revolusi Homs mengatakan, popularitas Nusrat juga karena sebagian besar anggota pasukannya berasal dari dalam negeri, tidak seperti Al Qaidah Irak (AQI) yang ikut meramaikan palagan Suriah.

Alasan lain yang melejitkan popularitas Nusrat adalah pergeseran taktiknya. Setelah sejumlah serangan spektakuler pada awal 2012 yang mengakibatkan penduduk sipil tewas, Nusrat lebih berhati-hati. Dalam pernyataan dalam video terbaru yang dirilis divisi media Nusrat, al-Bayda Manara, mereka tak akan melakukan operasi jika ada warga sipil dan membatasi target hanya ke sasaran militer.

Omar, 25 tahun, dan mantan wajib militer, memilih bergabung dengan Nusrat sebagai reaksi terhadap represi yang ia alami sebagai orang Sunni oleh militer yang sebagian besar dari kelompok Alawit --klan yang banyak menguasai pos pemerintahan di Damaksus di bawah Assad. "Banyak orang ingin bergabung ke Nusrat, tapi kami tidak memiliki senjata yang cukup untuk memasok mereka," kata Omar di pedesaan dekat Kota Aleppo.

Rakyat Suriah pun menunjukkan dukungan mereka terhadap Nusrat secara terbuka. Pada Juni di Kota Binnish, utara Kota Idlib, Nusrat dipuji selama demonstrasi massa. Ratusan orang merayakan --seperti tampak dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube-- setelah kota itu dibebaskan dari cengkeraman tentara Assad.

Dalam video lain, penduduk setempat bersorak dan melambaikan bendera Nusrat saat parade di Salah al-Din, Aleppo. Pada Desember 2012, ada petikan video, massa di selatan Suriah yang berteriak " Nusrat melindungi kami."

Namun ada hal mendasar yang membuat Nusrat tidak bisa diterima sepenuhnya oleh publik Suriah yang selama ini mendukung tindakan mereka: ideologinya. Nusrat yang berlandaskan salafi jihadi, memiliki cita-cita mendirikan negara kekhalifahan Islam dan menolak legitimasi negara modern.


Seorang guru wanita di distrik pusat Aleppo, Mogambo, menyebut pemikiran Nusrat itu mengerikan. "Kami tidak ingin bangkit untuk berpindah dari kehinaan di bawah Assad untuk situasi yang sama di bawah Al Qaidah," katanya. Menurut Farouk Tayfour, wakil kepala al Ikhwan al Muslimin di Suriah, beberapa pemberontak bergabung ke Nusrat untuk mempertahankan rumah mereka tanpa menerima ideologinya.

Wajah asli Nusrat terbuka ketika pimpinannya, Julani menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin Al Qaidah Ayman Al-Zawahiri melalui suara rekaman yang diunggah di internet 10 April lalu. "Anak-anak Nusrat memperbaharui janji setia kepada Syekh Jihad Ayman al-Zawahri dan menyatakan kepatuhan," kata Julani. Sehari sebelumnya, pemimpin Al Qaidah Irak (AQI) Abu Bakr al-Baghdadi mengatakan kelompoknya dan Al Nusrat akan merger dengan nama Negara Islam Irak dan Levant --sebutan untuk bagian timur Mediterania.

Bagi kelompok pemberontak, yang lebih dikhawatirkan adalah masa depan dukungan Amerika Serikat dan negara Eropa. Amerika Serikat, yang mencurigai Nusrat punya hubungan dengan Al Qaidah, menetapkannya sebagai organisasi teroris sejak 10 Desember 2012 lalu. Amerika juga tak bersedia membantu memasok peralatan militer bagi oposisi Suriah, kecuali makanan. Negara Eropa dan Amerika sudah mengakui koalisi oposisi Suriah sebagai wakil resmi rakyat Suriah. Namun hingga Maret lalu, Uni Eropa masih menerapkan embargo senjata terhadap Suriah, termasuk untuk pemberontak.

Dewan Keamanan PBB pun mempertimbangkan sanksi untuk Nusrat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis Philippe Lalliot, Jumat dua pekan lalu mengatakan, salah satu opsi yang tersedia bagi mereka adalah bertindak di Dewan Keamanan PBB dengan dasar resolusi 1267 yang memberikan sanksi terhadap Al-Qaidah dan afiliasinya. Tekanan berupa pembekuan aset dan larangan bepergian bagi anggota dan pemimpin kelompoknya.

Khawatir merosot dukungan internasionalnya, tokoh oposisi Suriah mengkritik Nusrat. Moaz al-Khatib, pemimpin Koalisi Nasional Oposisi Suriah dan Tentara Revolusi mengatakan, "Intinya, ideologi Al-Qaidah tidak sesuai dengan kita dan kekuatan revolusioner di Suriah harus mengambil sikap yang jelas mengenai hal ini," kata Moaz.

Pertempuran dan kekerasan di Suriah yang diawali demonstrasi damai 15 Maret 2011 lalu, tak akan berakhir segera. Kondisinya makin rumit karena keterlibatan kekuatan militer asing yang ingin "berpetualang" di tanah Suriah. Sikap Presiden Assad yang tak hendak menyerah dan malah menuding negara-negara sekutu Amerika hendak mengembangkan penjajahan baru di Suriah, bak menambah minyak di atas api. Korban tewas juga tak akan berhenti di angka sekitar 70 ribu dan jumlah pengungsi ke luar negeri bisa beranjak dari sekitar satu juta jiwa.

Abdul Manan (New York Times | Reuters | observers.france24.com | Al Arabiya | Thedailybeast | English.al-akhbar.com)

MAJALAH TEMPO | 28 April 2013 (dalam format .pdf)

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…