Thursday, March 14, 2013

Gordievsky: Ada 37 Mata-mata Russia di Inggris

London - Oleg Gordievsky, mantan anggota Dinas Rahasia Uni Sovyet (Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti-KGB), yang membelot ke Inggris tahun 1985, masih tetap kritis terhadap tanah kelahirannya. Dalam wawancara dengan Luke Harding yang dimuat Guardian edisi 11 Maret 2013 lalu, Gordievsky menyatakan jumlah mata-mata Russia di Inggris saat ini hampir sama dengan di masa perang dingin.
Jumlah mata-mata Russia di Inggris menjadi soal yang menarik karena petinggi dua negara itu sedang bertemu di London, Rabu, 12 Maret 2013. Pertemuan yang dilakukan menteri luar negeri kedua negara itu membahas sejumlah isu strategis.

Menurut Gordievsky, 74 tahun, sejumlah besar agen Vladimir Putin itu berbasis di Kedutaan Rusia yang berada di Kensington Palace Gardens, London. Seperti halnya petugas karir, Kedutaan menjalankan jaringan "informan", yang tidak dipekerjakan secara resmi, tetapi secara teratur memberikan informasi yang berguna.

"Ada 37 orang KGB di London saat ini. Sebanyak 14 orang bekerja untuk GRU (intelijen militer Rusia)," kata Gordievsky kepada Guardian. Bagaimana Anda bisa tahu? "Dari kontak saya," ujarnya penuh teka-teki, mengisyaratkan bahwa informasi itu berasal dari sumber-sumber di dalam intelijen Inggris.

Setelah Uni Soviet runtuh, KGB dibagi ke dalam SVR (Sluzhba Vneshney Razvedki) dan FSB (Federal Security Service). SVR merupakan dinas rahasia yang beroperasi di luar negeri, sedangkan FSB untuk domestik. Vladimir Putin, Presiden Russia saat ini, adalah mantan bos FSB.

Menurut Gordievsky, petugas intelijen asing memiliki peran mirip dengan pendahulu mereka: KGB. Di era kapitalisme seperti saat ini, bagaimana pun, mereka juga ingin informasi komersial sensitif yang berguna bagi Moskow. Mereka masih mengawasi persaudaraan pembangkang dan pengusaha Rusia yang keluar dari Kremlin dan pergi ke London, yang itu jadi sumber ketegangan Inggris dan Russia.

Gordievsky mulai membantu intelijen Inggris tahun 1974. Dari 1982-1985, ia ditempatkan di Kedutaan Soviet di London dan ditunjuk sebagai rezident --kepala KGB di Inggris. Tujuannya, membangun jaringan sayap kiri dan kontak dengan serikat buruh, untuk memperoleh rahasia militer Inggris dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Tiba-tiba ia diperintahkan untuk kembali ke Moskow, 22 Mei 1985, dan dibawa ke rumah aman KGB di luar Moskow. Ia dibius dan diinterogasi oleh petugas kontra intelijen Soviet, yang mencurigainya telah menjual rahasia kepada musuh. Setelah diperiksa selama sekitar lima jam, ia akhirnya dibebaskan tapi terus diawasi.

Meski di bawah pengawasan ketat KGB, Gordievsky berhasil mengirim sinyal rahasia untuk Dinas Rahasia Inggris, MI6, tentang situasinya, dan mengaktifkan kembali rencana pelarian rumit yang sudah disiapkan bertahun-tahun sebelumnya.

Pada 19 Juli 1985, Gordievsky pergi untuk joging biasa, tapi berhasil menghindari pengawalan KGB. Ia pun naik kereta ke perbatasan Finlandia, di mana ia sudah ditunggu oleh mobil Kedutaan Inggris. Ia pun diselundupkan, dengan memasukkannya ke dalam bagasi, lalu melintasi perbatasan menuju Finlandia. Dari sana, ia diterbangkan ke Inggris melalui Norwegia.

Pemerintah Soviet mengadili Gordievsky secara in absentia dengan dakwaan pengkhianatan, dan divonis mati. Hukuman itu tidak pernah dibatalkan oleh Kremlin, meski Uni Soviet runtuh. Tahun 2008, Gordievsky mengklaim bahwa ia pernah coba diracun, meski ia menolak untuk mengatakan dengan tepat apa yang terjadi saat itu. Gordievsky mencatat dengan kecut: "...Hanya saya pembelot KGB dari tahun 1980-an yang masih selamat. Saya seharusnya mati."

Gordievsky yakin bahwa Putin berada di balik pembunuhan terhadap temannya, Alexander Litvinenko, tahun 2006. Litvinenko membelot ke Inggris pada 2000 dan menjadi pengkritik yang vokal terhadap Kremlin. Ia tewas setelah diracun dengan polonium-210. Inggris akan melakukan pemeriksaan atas pembunuhan Litvinenko itu pada akhir tahun ini.

Saat ditanya apakah ia berpikir ada prospek perubahan demokratis di Rusia, seperti yang dijaga oleh pengunjuk rasa anti-Kremlin tahun 2010 dan 2011, ia menyebut itu "pertanyaan naif." Dia menambahkan dengan murung, "Segala yang terjadi menunjukkan arah sebaliknya."

Dia mengibaratkan Russia di masa Putin seperti Italia di bawah Benito Mussolini. Ia kemungkinan akan kembali ke Moskow jika ada sebuah pemerintahan yang demokratis, meski peluang untuk itu kecil.

GUARDIAN| WIKIPEDIA | ABDUL MANAN 

No comments: