Skip to main content

Apa di Balik Sikap Keras AS Soal Mata-mata Israel Jonathan Pollard

Blog intelnews.org, 11 Juni 2012 lalu, menulis soal Jonathan Jay Pollard, seorang analis di Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditangkap karena melakukan kegiatan spionase untuk Israel. Peristiwa penangkapan Pollard sudah terjadi 27 tahun lalu, dan hingga kini Amerika Serikat tak mau membebaskannya, meski ada permintaan berkali-kali dari sekutunya di Timur Tengah itu.


Intelnews mengutip  wawancara reporter dan produser untuk Radio BBC program Witness, Mike Lanchin, dengan Ron Olive, mantan Asisten Agen Khusus Kontraintelijen Angkatan Laut AS, yang pada Juni 1986 membongkar kasus Pollard, yang berujung pada penangkapan mata-mata dan penuntutan ke pengadilan. Olive saat ini menjalankan firma konsultan keamanan di Arizona, AS.

Menurut Olive, ia dan timnya butuh waktu lebih dari enam bulan untuk mengumpulkan bahan untuk memulai kasus melawan Pollard. Berdasarkan hasil tim investigasinya, Pollard mencuri banyak dokumen yang berklasifikasi sangat rahasia, melebihi dari mata-mata lainnya dalam sejarah negara ini,  meski hanya dalam periode yang singkat.

Investigasi yang dilakukan tim Olive menunjukkan bahwa kontak pertama Pollard dengan intelijen Israel terjadi tahun 1984, hampir tak lama setelah ia mulai bekerja untuk Kantor Intelijen Angkatan Laut (US Office of Naval Intelligence -ONI). Kantor Olive mulai waspada setelah Pollard terlihat meninggalkan kantornya membawa amplop cokelat di bawah lengannya saat ia bersama koleganya di ONI.

Reaksi awal Olive mulanya meremehkan dan tahu bahwa Pollard tak cukup cerdas untuk melaksanakan aksi spionase. Tapi ia setuju untuk mengawasi Pollar. Ternyata terbukti bahwa analis AL itu sering meninggalkan kantornya dengan membawa amplop cokelat berisi dokumen. Akhirnya, Olive, bersama agen FBI, menggeledah rumah Pollard, di mana mereka kemudian menemukan dokumen dengan klasifikasi rahasia dalam jumlah banyak di kamar mandi dan di bawah kasurnya.

Dalam pemeriksaan, Pollard mengatakan kepada agensi kontraintelijen bahwa ia sering membawa bahan-bahan ke rumah karena ia tak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan tugas administrasinya di kantor. Hebatnya, kata Olive, agen FBI mempercayai itu dan keluar dari pengusutan kasus ini.

Tapi Olive bertahan dan menginginkan agar Pollard diuji dengan alat pendeteksi kebohongan. Setelah Pollard menolak tes itu, Olive menginterogasinya selama 3 jam, di mana akhirnya sang analis menyerah dan mengaku bahwa dia dibayar lebih dari US$ 30 ribu oleh handler-nya sebagai balasan atas aksi mata-matanya itu. Pollard akhirnya ditangkap tahun 1985 setelah ia dan istrinya, Anne, berusaha –tapi gagal– untuk mendapatkan suaka di Kedutaan Israel di Washington DC.

Siapa yang menjadi handler Pollard? Pengadilan atas kasus Pollard akhirnya menyebut nama Kolonel Aviem Sella, veteran di Angkatan udara Israel, sebagai orang yang merekrutnya. Saat itu, Sella baru lulus dari New York University, setelah meninggalkan posisinya sebagai kolonel karena ingin mengejar master degree dalam ilmu Komputer. Usai perkenalan dengan Sella awal 1984, Pollard mulai memberikan informasi rahasia kepadanya. Imbalannya, Pollard mendapatkan uang tunai $10 ribu dan cincin berlian dan saphir sangat mahal, yang akhirnya digunakannya untuk menikah dengan pacarnya, Anne. Pollard juga dikabarkan setuju menerima $1.500 per bulan untuk aktivitas mata-mata berikutnya.

Olive mengatakan, Pollard tidak pernah menunjukkan rasa penyesalan atas tindakannya itu. Saat ditanya apa yang memotivasi Pollard bersedia menjadi mata-mata Israel, Olive mengatakan, “Apa yang memotivasi Pollard adalah satu hal yang memotivasi orang untuk menjadi pengkhianat dan mengkhianati negaranya selama beberapa dekade dan berabad-abad: keserakahan, uang. Sekarang ia berpura-pura bahwa aksinya itu semata karena kecintaan kepada Israel. Sekarang ia memiliki 10 ribu pendukung yang mencoba mengeluarkannya dari penjara.”

Israel memang melakukan banyak cara untuk melepaskan mata-matanya itu. Yitzhak Rabin adalah Perdana Menteri israel pertama yang meminta agar Pollard dibebaskan dari hukuman penjara seumur hidup. Kepada Presiden AS Bill Clinton tahun 1995, Yitzhak meminta Pollard diampuni. Namun permintaan itu tak membuahkan hasil.

Pada Maret 2012, saat kunjungan resmi ke Washington, Presiden Israeli Shimon Peres and Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa mereka mengangkat masalah Pollard ini saat bertemu Presiden Barrack Obama. Tapik keduanya tak memberi seperti apa respons Obama. Hingga saat itu, tidak ada jawaban resmi dari Gedung Putih soal permintaan Benjamin Netanyahu tahun sebelumnya.

Pada April 2012, Pollar dilarikan ke ruang emergensi setelah mengeluh sakit parah. Presiden Israel Shimon Peres menyampaikan surat yang ditandatangani 80 anggota DPR Israel. Surat yang ditujukan kepada Presiden Obama itu meminta pembebasan Pollard, atas nama warga Israel.

* * *

Salah satu Duta Besar Israel di Washington mengatakan, pejabat AS curiga Pollard tak beraksi sendiri. Itamar Rabinovich, diplomat paling senior Israel di daratan Amerika dari tahun 1993 hingga 1996, mengatakan beberapa waktu lalu bahwa kemungkinan itulah yang menjadi alasan penolakan Washington untuk membebaskan Pollard.

Menurut Rabinovich, bagaimanapun alasan utama penolakan AS untuk melepaskan Pollard karena komunitas intelijen AS berpikir bahwa Israel menyembunyikan secara penuh aktivitasnya di daratan Amerika. Rabinovich juga menambahkan, Washington percaya Israel melindungi orang Amerika lainnya yang bekerjasama dengan Pollard atau bekerja bersamaan dengannnya saat itu. “Mereka curiga dia tak hanya satu-satunya, tapi masih ada Pollard lainnya,” kata Rabinovich.

Rabinovich juga menambahkan, klaim terkait soal kerugian yang ditimbulkan oleh Pollard terhadap Amerika, adalah satu hal. Tapi ada  klaim tersembunyi yang tidak disampaikan secara terbuka, tapi tersirat. Amerika, kata Rabinovich, “Menghukum Israel atas harga dari yang dilakukan Pollard. Mereka marah terhadap Israel melebihi dari kepada Pollard.”

Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.