Sunday, June 03, 2012

Memburuknya Hubungan Pakistan-AS

Kepala Dinas Mata-mata Pakistan, Letnan Jenderal Zaheer ul Islam, menunda perjalanannya ke Amerika Serikat. Penundaan ini menandai kian buruknya hubungan dua sekutu yang seharusnya kompak dalam perang melawan kelompok Islam garis keras.

Zaheer adalah Direktur Jenderal Dinas Intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI). Ia menggantikan Letnan Jenderal Ahmad Shuja Pasha Maret 2012 lalu.

Memburuknya dua sekutu ini dipicu oleh sejumlah peristiwa. Di antaranya, kasus serangan udara NATO di dekat perbatasan Pakistan dan Afghanistan pada 26 November 2011 yang menewaskan 24 tentara Pakistan.

Sebagai balasan setidaknya atas dua peristiwa itu, Pakistan meminta Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya minta maaf atas serangan udara itu. Pakistan juga menutup wilayahnya yang selama ini dipakai sebagai jalan konvoi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengirim suplai kepada tentaranya di Afganistan.

Amerika Serikat memberi isyarat tak akan meminta maaf atas peristiwa itu. Juga tak mau membayar £3300 seperti diminta Pakistan untuk setiap truk pasokan NATO yang menggunakan jalan yang berada di teritori Pakistan untuk menuju Afganistan tersebut.

Bukannya tak ada upaya untuk meredakan ketegangan ini. Pakistan juga diundang dalam pertemuan NATO yang diselenggarakan di Chicago, Amerika Serikat, akhir Mei lalu. Namun, belum ada titik temu yang memuaskan dari pertemuan itu soal penutupan perbatasan Pakistan-Afganistan untuk suplai logistik pasokan NATO.

Penyebab lain dari ketegangan dua sekutu itu adalah serangan pasukan khusus Amerika Serikat ke Abbottabad yang menewaskan pemimpin Al Qaidah, Usamah bin Ladin pada 2 Mei 2011.

Ketegangan kian runcing setelah Islamabad menghukum dokter Shakeel Afridi dengan pidana penjara 33 tahun atas perannya membantu Amerika Serikat menemukan bin Ladin di kota Abbottabad. Meski sejumlah dokumen menyebut bahwa hukuman terhadap Afridi lebih karena terkait dukungannya terhadap kelompok Islam radikal, keputusan itu dikecam para pejabat di Washington.

Kerjasama intelijen antara ISI dan Dinas Intelijen AS, CIA, memang akan terus berlanjut, namun penundaan kunjungan Zaheer ke markas CIA di Langley itu dipandang publik sebagai aksi balasan Islamabad atas kritik Washington terhadap Pakistan selama ini.

Dalam pesan teks singkat yang dikirim kepada wartawan, militer Pakistan mengatakan bahwa penundaan kunjungan Zaheer karena situasi di tanah air. “Tidak ada alasan lain dari penundaan kunjungan itu,” kata sang juru bicara.

Dua tahun lalu, ISI melakukan hal serupa ketika Perdana Menteri Inggris David Cameron menyebut bahwa Pakistan menerapkan kebijakan ganda dalam menangani terorisme. Menjawab kritik itu, ISI membatalkan perjalanan yang sudah direncanakannya, ke London.

Abdul Manan

No comments: