Skip to main content

Memburuknya Hubungan Pakistan-AS

Kepala Dinas Mata-mata Pakistan, Letnan Jenderal Zaheer ul Islam, menunda perjalanannya ke Amerika Serikat. Penundaan ini menandai kian buruknya hubungan dua sekutu yang seharusnya kompak dalam perang melawan kelompok Islam garis keras.

Zaheer adalah Direktur Jenderal Dinas Intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI). Ia menggantikan Letnan Jenderal Ahmad Shuja Pasha Maret 2012 lalu.

Memburuknya dua sekutu ini dipicu oleh sejumlah peristiwa. Di antaranya, kasus serangan udara NATO di dekat perbatasan Pakistan dan Afghanistan pada 26 November 2011 yang menewaskan 24 tentara Pakistan.

Sebagai balasan setidaknya atas dua peristiwa itu, Pakistan meminta Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya minta maaf atas serangan udara itu. Pakistan juga menutup wilayahnya yang selama ini dipakai sebagai jalan konvoi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengirim suplai kepada tentaranya di Afganistan.

Amerika Serikat memberi isyarat tak akan meminta maaf atas peristiwa itu. Juga tak mau membayar £3300 seperti diminta Pakistan untuk setiap truk pasokan NATO yang menggunakan jalan yang berada di teritori Pakistan untuk menuju Afganistan tersebut.

Bukannya tak ada upaya untuk meredakan ketegangan ini. Pakistan juga diundang dalam pertemuan NATO yang diselenggarakan di Chicago, Amerika Serikat, akhir Mei lalu. Namun, belum ada titik temu yang memuaskan dari pertemuan itu soal penutupan perbatasan Pakistan-Afganistan untuk suplai logistik pasokan NATO.

Penyebab lain dari ketegangan dua sekutu itu adalah serangan pasukan khusus Amerika Serikat ke Abbottabad yang menewaskan pemimpin Al Qaidah, Usamah bin Ladin pada 2 Mei 2011.

Ketegangan kian runcing setelah Islamabad menghukum dokter Shakeel Afridi dengan pidana penjara 33 tahun atas perannya membantu Amerika Serikat menemukan bin Ladin di kota Abbottabad. Meski sejumlah dokumen menyebut bahwa hukuman terhadap Afridi lebih karena terkait dukungannya terhadap kelompok Islam radikal, keputusan itu dikecam para pejabat di Washington.

Kerjasama intelijen antara ISI dan Dinas Intelijen AS, CIA, memang akan terus berlanjut, namun penundaan kunjungan Zaheer ke markas CIA di Langley itu dipandang publik sebagai aksi balasan Islamabad atas kritik Washington terhadap Pakistan selama ini.

Dalam pesan teks singkat yang dikirim kepada wartawan, militer Pakistan mengatakan bahwa penundaan kunjungan Zaheer karena situasi di tanah air. “Tidak ada alasan lain dari penundaan kunjungan itu,” kata sang juru bicara.

Dua tahun lalu, ISI melakukan hal serupa ketika Perdana Menteri Inggris David Cameron menyebut bahwa Pakistan menerapkan kebijakan ganda dalam menangani terorisme. Menjawab kritik itu, ISI membatalkan perjalanan yang sudah direncanakannya, ke London.

Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.