Dari 3.000-an Media Massa, Baru 30 Media yang Punya Serikat Pekerja


TEMPO Interaktif, Jakarta – Federasi Serikat Pekerja Media Independen mencatat dari 3.117 media yang ada di Indonesia baru 30 media yang telah membentuk Serikat Pekerja (SP). Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen, Abdul Manan, menilai industri media memang yang paling lamban ketimbang industri lainnya.


“Pers Indonesia telah lahir sejak 1800-an, tapi serikat pekerja media baru dirintis tahun 1978. Ini sangat berbeda dengan pekerja di Kereta Api yang sejak berdirinya tahun 1800 langsung memiliki serikat pekerja,” kata Manan, ketika menjadi pembicara dalam workshop pekerja media membangun serikat yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Sabtu, 17 September 2011.

Menurut Manan, sejak awal berdirinya, industri media memang berbeda dengan industri lainnya. Sejak kelahirannya media syarat dengan semangat idealisme perjuangan, sehingga hubungan perindustrian di internal media saat itu belum dirasa perlu. Permasalahan di internal perusahaan media baru mencuat tahun 1978 di mana jurnalis mulai mempertanyakan status mereka apakah sebagai buruh dan sebagai profesi.

Sejak saat itulah beberapa pekerja di media lantas mulai merintis berdirinya SP. Selain untuk menyelesaikan masalah perburuhan, SP media juga mulai melakukan penyusunan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). “Masih memprihatinkan, dari 30 SP yang berdiri, baru enam yang telah memiliki PKB, yaitu Tempo, SWA, KBR68H, Smart FM, Antara, dan Kedaulatan Rakyat,” kata mantan Sekjen AJI ini.

Karena itu, Federasi Serikat Pekerja Media Independen saat ini terus berupaya mendorong pekerja media untuk merintis SP. Rintisan ini diupayakan tidak hanya untuk para pekerja tetap di media, melainkan juga bagi pekerja media berstatus nontetap yang biasa disebut sebagai koresponden/kontributor.

FATKHURROHMAN TAUFIQ | EKO WIDIYANTO

TEMPO Interaktif, Sabtu, 17 September 2011 | 16:25 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO