Lilin (Yang) Meredup di Bumi Amerika

Suratkabar di Amerika Serikat. Foto: Google

“HELP WANTED. Immediate opening. American newspapers seek individual who can rescue the print media from impending bankruptcy…” Ilustrasi dari tulisan bak iklan satu halaman itu muncul di Majalah Time, 2 Maret 2009, dalam edisi yang membahas situasi darurat suratkabar Amerika Serikat menyusul krisis keuangan negara itu sejak 2007 lalu.

Walter Isaacson, sang penulis laporan berjudul “How to save Your Newspaper”, menulis laporan tiga halaman -plus satu “iklan”-tentang krisis surat kabar Amerika Serikat: oplah yang cenderung turun, sejumlah pemutusan hubungan kerja, dan adanya media cetak yang beralih penuh ke online seperti yang dilakukan The Christian Science Monitor.

Pesan dari tulisan mantan redaktur pelaksana majalah TIME ini, yang juga bisa dilihat dari sejumlah artikel dan kolom di Majalah Bulanan American Journalism Review edisi Juni/Juli 2009, cukup jelas: surat kabar Amerika Serikat tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dalam beberapa pekan ini, kata Douglas A. McIntyre dalam Majalah TIME edisi 9 Maret 2009, “Industri suratkabar Amerika masuk dalam periode baru kemunduran”.

* * *

The Rocky Mountain News, koran tertua di Colorado, Amerika Serikat, menerbitkan edisi perpisahan pada 27 Februari 2009 lalu –suratkabar itu terbit pertama tahun 1859. Sungguh tak terbayangkan bahwa surat kabar yang sudah berumur lebih dari satu abad menemani keseharian warga Colorado itu akhirnya tutup.

Selain koran tutup, dalam setahun ini setidaknya ada sejumlah korporasi media raksasa Amerika Serikat yang mengajukan bangkrut. Tribune Co., setelah didera krisis keuangan hebat, mengajukan perlindungan pailit awal Desember 2008. Padahal, perusahaan itu memiliki sejumlah aset-aset tak kecil, di antaranya suratkabar The Los Angeles Times, The Chicago Tribune, The Sun of Bultimore, serta 23 stasiun televisi di penjuru Amerika Serikat.

Berdasarkan catatan Audit Bureau of Circulations, sirkulasi 507 harian di Amerika Serikat anjlok 4,64 persen pada enam bulan yang berakhir September. Raksasa media Amerika Serikat EW Scripps Co, yang memiliki 15 surat kabar dan 10 stasiun televisi, mengumumkan pemangkasan 500 tenaga kerja bulan lalu dan menjual salah satu surat kabar andalannya, Rocky Mountain News. McClatchy Co. telah memberhentikan sementara para karyawannya, dan akan menjual salah satu koran andalannya, The Miami Herald.

Gannett Co yang menerbitkan USA Today dan 84 surat kabar lainnya, mengumumkan pemangkasan 1.000 tenaga kerja pada Agustus lalu dan berencana memberhentikan 10 persen lagi tenaga kerjanya. Surat kabar yang prestisius semacam New York Times bahkan berencana meminjam US$ 225 juta untuk meredakan tekanan terhadap arus kas perusahaan.

Koran Wall Street Journal membuat daftar 10 suratkabar besar yang kemungkinan menutup edisi cetaknya dan hanya terbit dalam edisi online. The Philadelphia Daily News, milik Philadelphia Newspapers LLC, dan The Minneapolis Star Tribune, mengajukan kebangkrutan; The Miami Herald, milik McClatchy dan yang sirkulasinya sekitar 220,000 itu kemungkinan malah akan terbit online -meski sebelumnya sempat diduga akan dimerger dengan South Florida Sun-Sentinel.

Berita buruk ini sebenarnya tak sepenuhnya tiba-tiba. Data Isaacson juga memaparkan bahwa sejumlah analis sebelumnya sudah melihat ada sinyal peringatan itu: sirkulasi surat kabar sebenarnya sudah menunjukkan trend penurunan sejak tahun 1990-an, dan uang pendapatan dari iklan juga turun drastis seperti air terjun dalam 10 tahun terakhir.

Krisis keuangan Amerika Serikat, tak bisa dipungkiri, menjadi kontributor terbesar atas krisis ini. Sebut saja nasib yang dialami Tribune. Korporasi itu memiliki aset sekitar US$ 7,6 miliar. Hanya saja, utang korporasi itu hampir dua kali asetnya: sekitar US$13 miliar. Selain salah manajemen, Tribune juga bermasalah dengan merosotnya tingkat pendapatan iklan akibat tergerus oleh pesatnya perkembangan industri layanan internet.
Trend menurunnya industri media cetak di AS juga telah diwanti-wanti oleh sejumlah analisis, termasuk lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings. Beberapa waktu lalu, lembaga tersebut mengeluarkan peringatan bahwa “Akan ada lagi surat kabar dan kelompok penerbit suratkabar yang mengalami masalah dengan utang, ditutup, atau dilikuidasi pada tahun 2009 dan beberapa kota bisa jadi tanpa memiliki surat kabar lokal pada tahun 2010.”

Isaacson, yang juga Chief Executive Officer Aspen Institute, mengatakan, fakta tentang penutupan ini sangat terang benderang dan ini saatnya untuk memikirkan kemungkinan beberapa kota besar di Amerika Serikat tak lagi memiliki suratkabar dan majalah mingguan serta jaringan berita tetap beroperasi dengan jumlah pekerja tak lebih dari beberapa wartawan saja.

Rachel Smolkin mengulas cukup panjang soal ini dalam “Cities Without Newspapers” di American Journalism Review edisi June/July 2009. Mengutip The State of the News Media, penilaian rutin oleh Pew Research Center’s Project for Excellence in Journalism, mencatat bahwa keuntungan suratkabar anjlok 23 persen dalam dua tahun terakhir. Sekitar 1 dari 5 wartawan yang bekerja tahun 2001 kini sudah tidak bekerja lagi, yang itu akan memburuk tahun 2009 ini. Saat ini belum ada kota besar yang tak memiliki surat kabar, tapi itu juga segera datang.”

* * *

Tak semua orang setuju bahwa situasi pers Amerika dalam keadaan kiamat. John Morton, melalui tulisan berjudul “Not Dead Yet” dalam American Journalism Review Juni/Juli 2009, mengingatkan: ada sekitar 1000 koran harian di negara ini, yang sekitar 70 persennya masih untung dan jauh dari bahaya kebangkrutan. Tapi dia mengakui koran kecil terus tumbuh dengan baik meski dengan keuntungan lebih rendah dibanding dua atau tiga tahun lalu.

Chairman MediaNews Group Dean Singleton, dalam sebuah wawancara, menilai analis media tidak melakukan tugas yang baik dalam menganalisis keadaan dan terlalu melihat pernyataan-pernyataan sisi buruk dari situasi sekarang. “Saya masih percaya diri bahwa industri suratkabar tidak hanya akan bertahan, tapi akan terus tumbuh berkembang sepanjang waktu,” kata Singleton.

Tapi, koran tutup dan sejumlah korporasi menyatakan bangkrut bukan peristiwa biasa. Apalagi jumlahnya bukan satu atau dua. Ada hal yang berubah, baik di kalangan pembaca dan pasar, dan itu harus disikapi segera oleh suratkabar. Mengabaikan fakta yang sangat terang benderang ini, jelas bukan sikap tepat menghadapi tantangan di era baru ini. Sebagian suratkabar Amerika sebenarnya sudah menjawab tantangan itu.

* * *

Will Skowronski, dalam Circulation Boost? di American Journalism Review edisi June/July 2009 melihat media melirik perkembangan teknologi sebagai salah satu cara menyiasati keadaan ini. Salah satunya adalah dengan gaget cukup populer yang diluncurkan toko penjualan buku online Amazon: Kindle. Teknologi ini sekilas mirip e-paper yang ditawarkan melalui internet, yang juga juga sudah diadopsi oleh sejumlah suratkabar besar Indonesia seperti antara lain oleh Kompas (e-paper.kompas.com) dan Koran Tempo (e-paper.korantempo.com).

Amazon meluncurkan Kindle tahun 2007 dan diperbarui Februari 2009 lalu dengan Kindle 2, harganya $359 — setara Rp 3,9 juta. Versi terbarunya akan keluar dengan layar lebih lebar. Pengguna Kindle dapat mendaftar melalui Amazon.com untuk berlangganan 37 koran lokal, nasional dan internasional papers dengan biaya berkisar dari Rp 64 ribu sampai Rp 164 ribu per bulan. Suratkabar itu akan dikirimkan secara nirkabel tiap pagi melalui jaringan Sprint’s 3G data -yang alat ini sudah termasuk dalam pembelian Kindle.

Kindle dan e-paper jelas beda. Malah, pada Kindle tipe tertentu kita bisa melihat sekitar 3500 arsip berita terdahulu dan tentu saja tidak harus repot menyiapkan PC atau notebook seperti saat akan membaca e-paper. Gadget itu juga memungkinkan kita membaca ratusan bahkan ribuan buku yang tersedia di Amazon.com. Buku yang dipesan akan dikirim melalui jaringan pita lebar nirkabel dalam waktu kurang dari 60 detik.

September, iRex Technologies juga akan menjadi perusahaan pertama yang akan menawarkan pembaca elektronik dengan layar 10 inci. Gaget ini akan memungkinkan pembaca untuk mengakses lebih dari 800 suratkabar -meski itu tentu saja mensyaratkan gaget itu terkoneksi dengan internet dan penggunanya akan menerima isi suratkabar melalui teknologi wireles. Gaget ini akan memperkaya pasar dalam pangsa pembaca elektronik, selain Kindle dan Sony Reader yang sudah ada lebih dulu.

The New York Times, Boston Globe, Washington Post, dan The Free Press and News saat ini sudah tersedia melalui Kindle. Dengan berlangganan cara ini, suratkabar akan menawarkan penurunan biaya langganan kepada yang mau berlangganan untuk waktu yang lama. Bagi suratkabar, kata Skowronski, cara ini memberi dampak besar bagi kesehatan industri karena memangkas biaya cetak dan pengiriman yang memang memakan biaya cukup besar dalam komponen biaya.

Rich Gordon, Direktur Inovasi Digital di Northwestern University’s Medill School of Journalism mengatakan, suratkabar mulai mengadopsi teknologi baru ini karena menyediakan kemampuan yang tak dimiliki suratkabar tradisional dengan cetak kertas. Tapi, kata Gordon, sebelum kita mengasumsikan bahwa e-reader ini adalah format masa depan suratkabar kita, masih perlu dilihat kebutuhan dan masalah yang dihadapi pembaca dengan teknologi baru ini sembari mencari solusi untuk distribusinya yang lebih baik.

Selain teknologi baru dalam wajah suratkabar, yang juga dipikirkan -sebagian sudah dilakukan-adalah beralih ke online. The Christian Science Monitor sudah melakukannya. Harian Wall Street Journal mengefektifkan edisi online, dengan mensyaratkan membayar langganan bulanan bagi yang ingin mengaksesnya. Isaacton menilai cara langganan -apalagi berbayar-ini tak menyelesaikan masalah.

Metode pembayaran dengan metode iTunes –gaget keluaran Apple, yang contentnya beraneka ragam, dari music sampai video-bisa dipertimbangkan. Itu juga membutuhkan koin digital, yang bisa dipakai untuk membeli suratkabar dan sebagainya di dunia maya. Hanya saja, kata dia, perusahaan micropayment seperti yang pernah kita kenal seperti Flooz, Beenz, CyberCash, Bitpass, Peppercoin and DigiCash, gagal karena jeleknya teknologi atau mental dalam bertransaksi.

* * *

Krisis ini memang memantik perdebatan lama tentang masa depan suratkabar. Pemicunya bukan semata karena krisis keungan yang menghantam Amerika, tetapi karena infiltrasi internet yang sudah tak bisa diabaikan. “Daripada membaca suratkabar cetak, saat ini orang lebih suka untuk mobile dan bisa mengakses berita suratkabar secara keseluruhan secara mobile. Kita pun bisa meng-update setiap satu atau dua jam sekali,” kata pemilik raksasa media, Ropert Murdoch, seperti dikutip AFP, 29 Mei 2009 lalu.

Tak hanya tahun ini wartawan Amerika menggelisahkan masa depan suratkabarnya. Dalam edisi 5 Desember 2006, Majalah TIME pernah memuat laporan utama tentang masa depan suratkabar. Scott Bosley mengatakan, kata-kata suratkabar akan menghilang. “Kita akan lebih bicara tentang berita daripada suratkabar karena akan banyak cara bagi orang untuk mendapatkan berita. Perusahaan suratkabar akan menjadi industri informasi. Definisi berita akan meluas dan cara kita mendistribusikannya juga berubah,” kata Direktur Eksekutif Aosiasi Editor Suratkabar Amerika itu.

Dalam artikel Notes from a New Dean di American Journalism Review, Kevin Klose mengungkapkan kegelisahannya melihat berita-berita buruk tentang suratkabar. Apakah journalisme punya masa depan di negara ini, khususnya apakah journalisme bisa independen, menghasilkan uang dan membayar tagihan wartawan yang meliput berita, atau membayar penulis seperti dia? Kevin mengatakan, “ya”.

Berdasarkan pengalamannya dalam dunia jurnalisme di negara ini dan luar, jurnalimse independen itu adalah oksigen bagi demokrasi. “Tak peduli sebearapa parah ketidakpuasan kita sebagai publik, individu atau komunitas atau wilayah, kita akan selalu kembali ke dasar keterlibatan demokrasi, yaitu melakukan hal terbaik untuk mencari apa yang terjadi di sekitar kita,” kata Kevin.

Matinya suratkabar memang bukan berita baik bagi demokrasi. Sam Schulhofer-Wohl and Miguel Garrido, dalam National Bureau of Economic Research Working Paper No. 14817 meneliti tutupnya The Cincinnati Post pada akhir 2007– yang memiliki motto “Hidupkan lilin, dan orang-orang akan menemukan jalannya sendiri”. Dalam temuannya yang tertuang dalam Do Newspapers Matter? Evidence from the Closure of The Cincinnati Post, Sam Schulhofer-Wohl and Miguel Garrido menemukan bahwa suratkabar, yang berada di peringkat underdog dan sirkulasi 27 ribu sekalipun, memiliki dampak penting bagi kehidupan publik.

Masa depan suratkabar, khususnya di Amerika Serikat, memang terlalu pagi untuk divonis buruk. Ibarat lilin, meminjam metafora Cincinati Post tentang fungsi surat kabar, nyalanya tak padam, tapi mungkin hanya meredup. Belum bisa dipastikan apakah ini akan berlangsung sementara, atau untuk waktu yang lama.

Abdul Manan

* Dimuat di Majalah Al-Fikr, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Edisi No. 16 Th. XVII/Juli-September 2009

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO