Orang Golkar di Partai Nahdliyin

RESMINYA baru setengah tahun lalu Sigid Haryo Wibisono bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Tapi namanya sudah kondang sebagai ”orang dekat” Ketua Dewan Syura PKB Abdurrahman Wahid. Ia dituding berada di belakang pemberangusan pengurus PKB Jawa Timur. Dia bukan kiai, bukan anak kiai, dan sebelumnya adalah politikus Partai Golkar.

Lahir 11 November 1966, Sigid datang dari keluarga militer. Ayahnya bekas Kepala Staf Kodam Diponegoro Brigadir Jenderal Mardiyo. Ibunya, Tatik Mardiyo, masih sepupu Tien Soeharto.

Pria kelahiran Semarang ini banyak berbisnis. Hingga kini, sarjana ekonomi manajemen Universitas Diponegoro ini tercatat sebagai komisaris di sejumlah perusahaan—di antaranya PT Multi Primarasa Sejati, PT Mulya Sentra Eka Mandiri Jakarta, dan Mulya Sentra Eka Mandiri.

Di ranah politik, Sigid pernah menjadi anggota DPRD Jawa Tengah di Komisi C, yang membidangi keuangan dan perusahaan daerah. Cuma setahun ia di sini sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 25 Agustus 1998. Di Golkar, ia Wakil Ketua Partai Beringin Jawa Tengah sejak 14 Desember 2004, selain menjadi anggota staf khusus Menteri Sosial sejak 2005.

Status wakil ketua di Golkar ini sempat menjadi tanda tanya. Tapi Abdurrahman Wahid menyatakan Sigid sudah mundur dari Golkar sejak 26 Januari lalu. Iqbal Wibisono, Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah, mengatakan Golkar memang baru menanggapi serius pengunduran dirinya setelah tersiar kabar Sigid menjadi anggota Dewan Syura PKB. ”Partai Golkar akhirnya menunjuk Sutoyo Abadi sebagai penggantinya,” kata Iqbal kepada Sohirin dari Tempo.

Menurut Gus Dur, dirinyalah yang merekomendasikan Sigid masuk PKB pada Oktober 2006. Entah apa yang membuat Gus Dur terpikat. Tapi rencana itu batal karena Sigid memilih tetap di Golkar. Tiga bulan kemudian, Sigid memutuskan meninggalkan Beringin dengan meneken surat pernyataan mundur 26 Januari 2007.

Tak lama menjadi anggota Dewan Syura PKB, pada 27 Agustus lalu Sigid dipercaya menjadi Wakil Ketua Sementara PKB Jawa Timur. Kehadiran Sigid mendatangkan kontroversi. Ia dituding mendalangi pembekuan PKB Jawa Timur dan mengganti Abdul Kadir Karding sebagai Ketua PKB Jawa Tengah.

PKB kubu Gus Dur menampik tudingan bahwa Sigid berada di balik aksi main pecat tersebut. ”Gus Dur menerima masukan dari siapa saja. Tapi keputusan itu tergantung Gus Dur sendiri,” kata Wakil Ketua PKB Niam Salim.

Menurut sumber lain di PKB pusat, Sigid menjadi sasaran tembak karena para seteru Gus Dur sulit ”menembak” cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. Selain Gus Dur, yang jadi pusat sengketa adalah Yenny Wahid, Sekretaris Jenderal PKB dan putri Gus Dur. ”Sigid gampang jadi sasaran tembak karena orang baru,” kata sumber di PKB. Soal nama Sigid disebut dalam penggantian Abdul Kadir Karding juga dibantah. ”Rencana penggantian (Abdul Kadir) disiapkan sebelum Sigid masuk PKB,” kata sumber tersebut. Seorang pengurus PKB pusat mengatakan Sigid kini diperlakukan sebagai ”state enemy number one”.

Kedekatan Sigid dengan Gus Dur sebetulnya bukan tanpa alasan. Saat ini Sigid adalah ”teman dekat” Yenny Wahid. Sumber Tempo di lingkungan Istana Wakil Presiden menyebutkan Sigid hadir dalam pertemuan antara Gus Dur dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Lebaran lalu. Dalam pembicaraan santai itu, Kalla sempat menggoda Gus Dur soal hubungan Yenny dan Sigid. ”Kapan resepsinya? Saya siap jadi saksi, lo,” kata Kalla seperti ditirukan sumber itu.

Tempo berusaha menghubungi Sigid melalui telepon selulernya, tapi tak diangkat. Kontak ke nomor telepon rumahnya dijawab seorang perempuan bahwa Sigid tak ada di tempat. Ketika Tempo mendatangi rumahnya di Jalan Patiunus, Jakarta Selatan, seorang pria yang mengaku ajudan Sigid dan anggota satpam berujar, ”Sigid tak mau diganggu.”

Yenny Wahid menjawab konfirmasi Tempo melalui pesan pendek (SMS). Posisi Sigid di PKB, kata Yenny, sama dengan kader lain. Hubungan Sigid dengan dirinya atau Sigid dengan Gus Dur murni profesionalisme kepartaian. ”Sama seperti Gus Dur dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar) yang mempunyai hubungan keluarga. Memutuskan masalah partai tetap melalui mekanisme rapat,” ujarnya.

Abdul Manan, Imron Rosyid, Jalil Hakim

Majalah Tempo
Edisi. 38/XXXVI/12 - 18 November 2007

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO