Cuma Soal Nasi Padang

Betulkah Antasari Azhar mengangkat sejumlah kawan dekatnya menjadi penasihat bayangan?

ANTASARI Azhar mengaku punya kebiasaan baru. Setiap menghadiri hajatan, dia tidak bakal berlama-lama. Habis salaman dengan sahibul hajat, dia langsung kabur. Walhasil, cuma beberapa menit ia habiskan di tempat hajatan.

Padahal, sebelumnya dia terhitung betah di tempat pesta. Habis salaman, Antasari menuju meja makan. Mencicipi hidangan lalu mengobrol ke sana kemari. Dia juga suka reuni dengan keluarga atau handai taulan di tempat pesta.

Terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi awal Desember lalu, Antasari mengaku mengubah kebiasaan. ”Saya takut hajatan seperti itu dimanfaatkan orang bermasalah untuk ketemu.” katanya. Apalagi, ujarnya lebih lanjut, ”Saya disorot media terus-terusan.”

Selain main petak umpet di tempat pesta, Antasari mengaku sekuat tenaga merapatkan barisan karyawan KPK. Sebab, begitu Antasari terpilih awal Desember lalu itu, merebak kabar bahwa sejumlah deputi dan staf segera meninggalkan komisi itu.

Sejumlah staf dan deputi yang mau mundur itu pernah mengadu kepada petinggi Indonesia Corruption Watch (ICW). Yang memilih bertahan di KPK, kata Adnan Topan Husodo dari ICW, ”Akan meng-counter kasus titipan yang dibawa Antasari.”

Saat itu beredar kabar bahwa rupa-rupa alasan orang menolak Antasari. Ada yang merasa tidak cocok dengan gaya kepemimpinannya, ada pula yang gerah karena Antasari disebut-sebut bakal membawa pasukan sendiri ke komisi itu.

Pasukan itu beranggotakan tim sukses yang berkeringat menyokong Antasari ke kursi ketua. Mereka itu disebut-sebut yang mengurus lobi ke sejumlah partai politik, anggota Dewan di Senayan, dan sejumlah kalangan.

Anggota tim sukses itu pula yang sekuat tenaga membela ketika Antasari digebuk sejumlah lembaga swadaya masyarakat karena rekam jejaknya buram tak karuan.

Saat pencalonan berlangsung, Antasari memang dituduh memiliki riwayat buruk dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari tuduhan menerima uang suap hingga tudingan gemar bertaruh di meja judi.

Dia, misalnya, dituduh memperlambat eksekusi Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiudin Kartasasmita. Saat menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, dia dituding memperlambat eksekusi sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Selain itu, Antasari juga dituduh menyelamatkan Djoko Chandra dalam kasus Bank Bali dan menerima uang Rp 3 miliar dari seorang tersangka korupsi ketika menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara.

Nah, tim sukses itulah yang rajin meng-counter semua isu itu dalam berbagai kesempatan. Sebagai balas jasa, kata sumber Tempo, anggota tim sukses itu hendak diberi tempat di komisi itu.

Kebetulan, sejumlah jabatan sedang lowong. Dua kursi deputi, yakni Deputi Pengawasan Internal dan Deputi Penindakan, sedang kosong.

Hingga kini komisi itu juga baru memiliki dua orang penasihat. Padahal, menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, jumlah penasihat empat orang. Di luar deputi dan penasihat itu, komisi itu masih memerlukan pegawai setingkat staf.

Namun, pasukan Antasari itu membentur tembok, sebab di komisi itu ada mekanisme penerimaan anggota baru. Gagal masuk ke dalam, kata sumber Tempo, jadilah anggota tim sukses itu diparkir di badan penasihat bayangan. Para penasihat bayangan itulah think tank Antasari dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua komisi itu.

Mereka yang kerap diminta saran itu, antara lain, Chairul Imam dan beberapa teman Antasari saat bekerja di Kejaksaan Agung. Mereka datang dari rupa-rupa tingkatan, dari jaksa tinggi hingga jaksa junior.

Chairul Imam memang sudah kenal lama dengan Antasari. Saat Chairul menjadi Direktur Tindak Pidana Korupsi, Antasari menjadi Kepala Subdirektorat Penyidikan. Chairul disebut-sebut kerap membela Antasari ketika digebuk sejumlah kalangan.

Kepada Tempo, Chairul Imam mengaku kerap berdiskusi dengan Antasari di kantor, rumah, atau di restoran sembari menyeruput kopi. Namun, dia membantah keras menjadi tim sukses dan tim penasihat. ”Nanti dikira saya tukang nyetir Antasari,” katanya.

Saat Antasari digebuk sejumlah kalangan, Chairul mengaku sering memberi penjelasan. Tapi, dia merasa pembelaan itu dilakukan semata-mata karena semua tuduhan itu tidak fair.

Antasari, kata Chairul, dituduh menerima rumah dari Tommy Soeharto di Pondok Indah. Tuduhan itu sama sekali tanpa bukti. ”Kalau memang rumah itu ada, potret saja, biar semua orang tahu,” katanya. Mungkin karena ngomong begitu, sambung Chairul, ”Saya lalu dikira anggota tim sukses.”

Soal menjadi anggota tim penasihat bayangan juga dibantah Chairul Imam. Setelah diangkat menjadi Ketua KPK, katanya, Antasari dan sejumlah kawan-kawannya pernah bertemu di rumah Chairul Imam.

Macam-macam topik dibahas dalam pertemuan itu. Dari modus-modus korupsi hingga strategi memberantasnya. ”Yah, semacam brainstorming-lah. Kalau ada manfaatnya, mengapa tidak?” kata Chairul. Menurut dia, itu diskusi biasa antarteman dan bukan sebagai tim penasihat.

Antasari sendiri mengaku bahwa saat berjuang menjadi anggota komisi itu dia dibantu sejumlah orang-orang dekatnya. Mereka, antara lain, bekas atasannya di Kejaksaan Agung dan sejumlah jaksa junior.

Bantuan mereka macam-macam, mulai dari menulis makalah hingga sekadar berdiskusi soal berbagai modus korupsi di Indonesia, juga kiat memberantasnya.

Setelah terpilih menjadi Ketua KPK, tutur Antasari, dia masih rajin bertukar pikiran dengan para sahabatnya itu. Namun, Antasari memastikan, ”Orang-orang itu bukan tim penasihat bayangan. Toh, siapa pun saya ajak diskusi.”

Antasari juga menyadari situasi internal yang disebut-sebut kurang bersahabat terhadap dirinya. Itu sebabnya, setelah dilantik dia langsung mengumpulkan semua deputi dan staf di komisi itu. ”Dalam rapat itu kami menyatukan langkah agar kompak,” kata Antasari.

Abdullah Hehamahua, penasihat lama KPK yang kini diangkat kembali oleh Antasari, merasa pertemuan itu efektif meredam keresahan internal. Dalam pertemuan itu, kata Abdullah, Antasari secara tegas mengatakan bahwa dia tidak akan mengubah kode etik dan standar penerimaan kepegawaian di komisi itu.

Kalau ada perbedaan antara pimpinan yang lama dan yang baru, kata Abdullah, itu soal perbedaan gaya dan selera saja. ”Ada yang selera nasi gudeg dan ada yang senang nasi Padang, tapi dua-duanya empat sehat lima sempurna,” kata Abdullah.

Wenseslaus Manggut, Abdul Manan, Retno

Majalah Tempo
Edisi. 46/XXXVI/07 - 13 Januari 2008

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO