Skip to main content

Antara Astagfirullah dan Alhamdulillah

Dukungan terhadap apa yang diperjuangkan organisasi Islam radikal cenderung turun. Tapi yang setuju masih signifikan.

INI berita buruk bagi mereka yang mengidolakan Islam garis keras. Hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan dukungan terhadap organisasi Islam radikal dalam tiga tahun belakangan ini cenderung menurun. ”Kecenderungan turunnya signifikan,” kata Direktur Eksekutif LSI Saiful Mujani, ketika menyampaikan temuan lembaganya pada Jumat pekan lalu. Survei ini melibatkan 1.200 responden di semua provinsi di Indonesia.

Bagi Saiful, hasil jajak pendapat ini tak mengejutkan. Survei yang dilakukan secara konsisten sejak 2005 ini juga menemukan kecenderungan menurunnya orientasi nilai politik Islamis dibanding nilai politik sekuler. Sebanyak 57 persen responden mengaku memegang nilai politik sekuler, 33 Islamis, dan 10 tak bersikap.

Lembaga yang dikategorikan sebagai organisasi gerakan Islam di sini adalah organisasi yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islamis, yang bertujuan menyebarkan nilai Islamis atau membela Islam dari kekuatan yang dianggap mengancam Islam. Mereka antara lain Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), Jamaah Islamiyah, Pesantren Ngruki, Hizbut Tahrir Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Umumnya responden menyatakan tak setuju terhadap perjuangan Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, atau Hizbut Tahrir (lihat tabel). Fakta ini disebabkan banyak faktor, di antaranya paparan media massa. ”Banyaknya pemberitaan media terhadap aksi sweeping yang dilakukan FPI juga mempengaruhi turunnya persetujuan responden,” kata Saiful. Faktor lainnya, keterbatasan tenaga dan sumber dana. Yang juga tak boleh diabaikan adalah perlawanan dari masyarakat yang sebagian berpaham sekuler. Ia menyebut kekalahan calon PKS dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebagai salah satu bentuk perlawanan kelompok sekuler. Dari keseluruhan responden, ”Yang terlibat aktif pada organisasi-organisasi itu di bawah 2 persen,” kata Saiful.

Ketua I DPP FPI Ahmad Sobri Lubis tak mempedulikan hasil survei itu. ”Itu kan hanya survei. Bisa jadi, yang disurvei memang tidak tahu,” kata Sobri. Temuan itu, kata dia, tak mencerminkan keadaan sebenarnya. ”Di lapangan, perjuangan kami mendapat dukungan luas.” Ketua Pusat Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia Fauzan Al-Anshari punya pandangan sama. ”Temuan ini aneh. Saya yang berada di lapangan dan melakukan sosialisasi justru melihat animo masyarakat luar biasa,” kata Fauzan.

Dia mengaku lebih percaya pada temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada 2004. Lembaga itu menemukan bahwa dukungan terhadap syariat Islam mencapai 75 persen. ”Jumlah itu lebih rasional karena muslim Indonesia jumlahnya sekitar 88 persen dari total penduduk,” kata Fauzan.

Menurut dia, berkurangnya dukungan itu juga dipicu oleh pemberitaan media yang menyorot sisi negatif dari aktivitas gerakan Islam radikal seperti MMI dan FPI. Ia menyebut soal pemberitaan sweeping terhadap tempat hiburan. ”Yang disorot media sisi negatifnya saja,” kata Fauzan. Sobri Lubis menyetujui Fauzan. ”Kampanye buruk media yang bisa jadi memicu lahirnya pendapat semacam itu,” katanya.

Fauzan juga tak setuju dengan hasil survei LSI yang menyebut kecenderungan masyarakat semakin sekuler. Kalaupun ada, gejala itu hanya di perkotaan. Namun dia juga mengakui bahwa nilai-nilai syariat Islam yang diperjuangkan MMI, termasuk upaya mendorong syariat Islam dan lahirnya KUHP syariat Islam, kurang tersosialisasi kepada masyarakat luas. ”Karena ustad di tingkat bawah masih banyak sosialisasi tentang akhlak,” kata dia.

Pendapat berbeda datang dari aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL)—organisasi yang gencar menyerang pandangan Islam radikal. ”Saya berkomentar alhamdulillah dan astagfirullah mendengar temuan ini,” kata Hamid Basyaib, salah satu aktivis JIL. ”Alhamdulillah karena sebagian besar masyarakat masih berpandangan sekuler. Astagfirullah karena yang mendukung Islam garis keras masih 33 persen,” kata dia.

Namun Hamid juga tetap bersyukur bahwa sikap 33 persen itu tak tercermin pada dukungan terhadap partai politik berbasis Islam. Dalam survei LSI ini juga ditemukan, responden yang akan memilih mencoblos partai Islamis, yaitu PPP dan PKS, cenderung stagnan dari 5 sampai 7 persen. ”Sentimen terhadap dua partai Islamis itu cenderung stagnan, kalau bukan menurun,” kata Saiful.

Abdul Manan
Majalah Tempo
Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007

Comments

andri said…
yah masa dibilang partai demokrat 20%. lima persen aja sudah syukur
http://pendengardakta.blogspot.com/2009/02/partai-demokrat-mendapat-5-suara-saja.html

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.