Skip to main content

RUU RN Bisa Pidana Wartawan

Arfi Bambani Amri - detikcom

Jakarta - Kecaman terhadap RUU Rahasia Negara meluas. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebut RUU ini bisa mempidana wartawan yang melakukan kegiatan jurnalistik. "Bisa membuat wartawan bisa dipidana. Bisa-bisa nanti wartawan menulis mengenai persenjataan TNI dipenjara karena perbuatan itu bisa dikategorikan pidana," cetus Sekjen AJI Abdul Manan dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis, (28/9/2006).

Manan menilai, RUU Rahasia Negara cenderung memberikan kewenangan luar biasa kepada pemerintah untuk mengkategorikan rahasia negara. Akibatnya, wartawan bakal kesulitan menunaikan kewajibannya sesuai undang-undang. "Sebagaimana kita tahu, wartawan bertugas untuk menyampaikan informasi publik. Dengan RUU ini tentunya tidak bisa melaksanakan tugas itu," ujar pria berkacamata ini.

AJI berpendapat UU Rahasia Negara tidak diperlukan. Substansinya sudah diatur dalam UU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik (KMIP). "Menurut kami itu sudah diatur dalam RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik (KMIP). Tidak perlu ada UU Rahasia Negara," kata Manan. (aba/fay)

Sumber: Detik.com, 28 September 2006

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h