Skip to main content

Rama Prihandana, Direktur Utama PT RNI: Secara Keseluruhan Untung…

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Rama Prihandana, yakin bahwa pihaknya tak bersalah dalam kasus impor gula kristal (raw sugar). “Negara tak dirugikan dalam impor gula tersebut,” katanya. Bahkan, kata Rama, proyek impor raw sugar pada 2003 itu secara keseluruhan untung. Kamis lalu wartawan Tempo Abdul Manan mewawancarai Rama di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Petikannya:

Polisi menduga negara dirugikan dalam kasus impor gula kristal pada 2003. Bagaimana ini bisa terjadi?
Kalau saya pedagang baju, saya bikin baju dan beli kancing. Apakah kalau saya beli kancing terlalu mahal, itu harus menjadi fokus saya? Harusnya kan bajunya untung berapa? Nah, proyek impor raw sugar secara keseluruhan untung. PT Rajawali ini BUMN berbentuk holding company. Satu transaksi tak bisa dilihat sendirian. Proyek ini dijatuhkan pada holding company, lalu kita berikan pekerjaan ini kepada anak perusahaan. Uangnya di situ-situ saja. Bahwa nanti anak perusahaan untung, nanti dikonsolidasi. Kalau tak salah, untungnya Rp 1,1 miliar.

Tapi itu dinilai merugikan…
Karena hanya melihat di holding. Pemerintah sebagai pemegang saham RNI minta dividen bukan dari Rajawali I, Rajawali II, tapi dari RNI. Setelah semua anak perusahaan itu digabungkan. Untungnya berapa, itu yang diminta sekian persen.

Kerugian di induk perusahaan itu karena perhitungan yang meleset?
Bisa saja. Yang jelas, kami memberikan keuntungan kepada sebagian anak perusahaan. Kami baru bangkit sejak 2002. Karena harga pokok produksi kita terlalu tinggi, semua BUMN gula tidak ada yang untung ketika itu. Waktu itu harga pokok produksi mencapai Rp 3.472, sementara harga pasar impor Rp 2.650. Jadi, setiap kilogram yang dijual rugi hampir Rp 800. Kalau hanya bicara tentang laba-rugi, mungkin saya tutup semua pabrik gula waktu itu. Ngapain pusing-pusing? Saya baru masuk awal 2002. Untuk menyehatkan Rajawali, saya mengembangkan obat dan perdagangan. Waktu itu pabrik gula memiliki 15 ribu karyawan. Kalau sekadar buat untung cepat, bisa saja dengan menutup pabrik gula. Artinya memberlakukan PHK bagi 15 ribu karyawan. Akhirnya kami menaikkan produktivitas, lalu melakukan efisiensi. Kami menekan biaya produksi, terutama penggunaan bahan bakar, karena kontribusi bahan bakar mencapai 20 persen dari harga pokok. Kami menggantinya dengan daun tebu kering, serbuk gergajian, dan batu bara muda. Kami juga mengaktifkan pabrik yang selama ini tidak berfungsi atau kapasitasnya belum terpenuhi.

Selain memeriksa kasus gula kristal, polisi juga memeriksa soal penjualan tanah RNI di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Kenapa tanah itu dijual Rp 9 juta per meter persegi, di bawah harga nilai jual obyek pajak (NJOP)?
Harganya tidak di bawah NJOP. Harga pasar waktu itu Rp 7 juta per meter persegi. Kami jual Rp 9 juta. Kalau penjualannya pada 2003, jangan dinilai dengan harga tahun 2004, dong. Kedua, tanah Mega Kuningan itu milik proyek Badan Kerja Sama Pengembangan Kawasan Lingkungan Kuningan. Pemiliknya PT Abadi Guna Papan 51 persen dan RNI 49 persen. Jadi, jangan lihat ini keputusan saya sendiri. Seandainya pada 2003 tak terima dana cash, pabrik gula tak akan sebaik hari ini. Kenapa waktu itu tak meminjam bank untuk renovasi pabrik? Bank mana yang mau memberikan pinjaman? Harga gula ketika itu jelek.

Apakah persoalan impor gula, penjualan tanah di Kuningan, serta beberapa kasus lainnya yang kemungkinan akan diperiksa polisi itu sudah dilaporkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) 2003?
Sudah. Semuanya sudah diaudit dan dipertanggungjawabkan dalam RUPS. Pertanggungjawaban kami diterima.

Tapi polisi kini memeriksanya?
Ya, mungkin ini karena ada pengaduan masyarakat.

Anda siap jika kelak dijadikan tersangka?
Masa, nggak siap? Kalau tidak siap, sama saja saya tak siap jadi direktur utama. Menjadi direktur utama itu harus siap dengan segala risikonya.

Majalah Tempo, 17 Juli 2006

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.