Skip to main content

Terpental Karena Bagir

Sidang kasus Harini berjalan kembali setelah hakim ad hoc diganti. Tak semata demi kelancaran sidang.

ADA yang lain dalam sidang Harini Wijoso di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat pekan lalu. Hari itu lima kursi majelis hakim telah penuh diduduki. Sebelumnya, dalam enam kali persidangan terakhir, hanya kursi ketua majelis hakim Kresna Menon dan hakim anggota Sutiyono yang terisi. Tiga kursi hakim lainnya kosong melompong. Pemiliknya, hakim ad hoc Ahmad Linoh, Dudu Duswara, dan I Made Hendra Kusumah memilih walk out.

Linoh, Dudu, dan Made Hendra terpaksa menghentikan aksi mereka karena sejak Senin pekan lalu posisi mereka sudah digantikan hakim ad hoc baru. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Cicut Sutiarso menunjuk Slamet Subagio, Sofialdi, dan Ugo sebagai pengganti “trio hakim walk out” itu. “Semoga sidang-sidang selanjutnya berjalan lancar,” kata Kresna Menon kepada Tempo.

Penggantian ini memang sudah diperkirakan. Setelah ketiga hakim itu walk out pada awal Mei lalu, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta segera turun tangan. Kelima hakim itu dipanggil Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Ben Suhanda. Dalam pertemuan yang juga diikuti Cicut Sutiarso, Ben hanya menyampaikan satu pesan, “Kalau bisa bersidanglah lagi. Caranya bagaimana, silakan kalian musyawarah.”

Tapi, kubu hakim karier dan hakim ad hoc tetap berseberangan. Pada sidang berikutnya aksi walk out tetap mereka lakukan. Pemicunya sama. Mereka kecewa dengan sikap Kresna Menon yang tak bersedia memanggil Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan sebagai saksi. Padahal, menurut mereka, keterangan Bagir sebagai saksi dalam kasus percobaan penyuapan terhadap hakim agung yang dilakukan Harini penting.

Lantaran tetap menemui jalan buntu, akhirnya Mahkamah Agung turun tangan. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yusidisal, Mariana Sutadi, pada akhir Mei lalu memanggil kelima hakim ke ruang kerjanya. Pertemuan itu juga dihadiri Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pengadilan Khusus Iskandar Kamil.

Dalam pertemuan sekitar satu jam tersebut, awalnya Mariana memberi kesempatan kepada tiga hakim ad hoc itu untuk mengeluarkan unek-unek mereka. Setelah itu, Mariana membacakan pendapat-pendapat tiga hakim ad hoc seputar sikap mereka tentang rencana pemanggilan Bagir Manan. “Rasanya waktu itu kami seperti diadili,” ujar salah seorang hakim ad hoc.

Menurut hakim tersebut, argumen mereka disalahkan Mariana. “Satu pun tidak ada benarnya,” ujarnya. Hakim tersebut juga heran bagaimana mungkin materi musyawarah yang mestinya rahasia bisa keluar. Di akhir pertemuan, Mariana meminta sidang tetap dilanjutkan dengan agenda yang ditetapkan ketua majelis. Kamis pekan lalu, saat ditemui Tempo, Mariana emoh bercerita perihal pertemuannya dengan lima hakim tersebut. “Tak ada komentar,” ujarnya pendek.

Pertemuan di Mahkamah Agung itu pun tak membawa hasil. Sidang-sidang kasus Harini tetap saja diwarnai walk out-nya para hakim ad hoc sampai Senin pekan lalu Cicut Sutiarso datang ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Waktu itu Cicut kembali meminta pendapat lima hakim perihal perlunya kesaksian Bagir. Yang pertama ditanya adalah Kresna Menon. Hakim ini tetap pada pendiriannya, menganggap kehadiran Bagir tak perlu. Demikian juga Sutiyono. Giliran Dudu, Linoh, dan Made, jawabannya ketiganya sama: Bagir harus dihadirkan.

Merasa tak ada titik temu, Cicut pun mengeluarkan sinyal adanya perombakan majelis hakim kasus Harini. “Kalaupun nanti ada pergantian, ini bukan berarti hukuman,” katanya. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang juga merangkap Ketua Pengadilan Tipikor ini juga tak menyebut-nyebut jumlah dan siapa saja hakim yang akan diganti. “Mungkin nanti konsideransnya adalah Pasal 198,” kata Cicut.

Tapi, mendengar pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang disebut Cicut itu, para hakim ad hoc mafhum siapa yang akan diganti. Pasal itu menyatakan ketua pengadilan berhak mengganti hakim yang berhalangan. “Kami tahu, kami yang kena,” kata salah satu hakim ad hoc.

Selang tiga jam, tebakan itu menjadi kenyataan. Lewat juru bicara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Ridwan Mansur, Cicut mengumumkan pergantian hakim kasus Harini. Nama Linoh, Dudu dan Made dicoret, digantikan Slamet Subagio, Sofialdi, dan Ugo. Adapun Kresna dan Sutiyono tetap dipertahankan.

Kepada Tempo yang Jumat pekan lalu menemuinya di Tabanan, Bali, Cicut membenarkan bahwa Senin pekan lalu ia menggelar pertemuan dengan lima hakim tindak pidana korupsi. Menurut Cicut, saat itu ia meminta para hakim melanjutkan sidang kasus Harini. “Tapi, karena tidak bisa, maka harus diganti,”
katanya.

Penggantian majelis hakim kasus Harini ini mendapat kritik dari Koalisi Pemantau Peradilan. Menurut juru bicara Koalisi, Firmansyah, mestinya yang diganti ketua majelis hakimnya. Apalagi, kata Firmansyah, Komisi Yudisial sebelumnya juga sudah mengeluarkan rekomendasi agar Kresna Menon diberhentikan sebagai hakim selama setahun.

Firmansyah menilai, usaha mencegah Bagir Manan dihadirkan sebagai saksi bisa jadi karena ada kekhawatiran Ketua MA ini bakal “diadili” karena menerima Harini Wijoso di ruang kerjanya. Jika ini terjadi, maka akan merembet ke mana-mana. “Sebab, di Mahkamah Agung banyak tertulis: Mahkamah Agung
tidak menerima tamu yang berhubungan dengan perkara,” katanya. ***

Abdul Manan, Rofiqi Hasan (Tabanan)

Majalah Tempo, 19 Juni 2006

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…