Skip to main content

Tim Kasus Munir: Ada Indikasi Kuat Terlibatnya Direksi Garuda

Kamis, 03 Maret 2005 | 17:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan Munir berkesimpulan, pembunuhan terhadap aktivis hak asasi manusia itu merupakan kejahatan konspiratif. Hal ini disampaikan Ketua TPF Munir, Brigjen Marsudi Hanafi, usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Presiden, Jakarta, Kamis (3/3).

"Dari dua kali pertemuan dengan Garuda, terdapat bukti kuat peristiwa meninggalnya Munir adalah hasil kejahatan konspiratif," kata Marsudi, yang dalam jumpa pers itu didampingi Wakil Ketua TPF Munir, Asmara Nababan. Ikut dalam konperensi pers itu, Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra.

Hasil pemeriksaan tim, kata Marsudi, tak menemukan bahwa kejahatan itu dilakukan oleh perseorangan atau dengan motif pribadi. "Terdapat indikasi kuat terlibatnya oknum PT Garuda Indonsia dan pejabat direksi Garuda di dalamnya, baik langsung maupun tidak langsung, dalam peristiwa meninggalnya Munir."

Dalam pertemuan itu, anggota TPF yang menemui Presiden adalah Hendardi, Usman Hamid, Mun'im Idris. Sedangkan Presiden didampingi Menko Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Kepada TPF, Presiden mengatakan bahwa pengungkapakan kasus Mun8ir ini merupakan tes atau ujian bagi kita, apakah kita sudah berubah. Selain itu, kata Marsudi, "Presiden mendukug sepenuhnya untuk pengkapakan kasus ini. Semua institusi membuka ruang untuk membantu pengungkapan kasus Munir."

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h