Skip to main content

Pertemuan Presiden-Ketua Fraksi DPR Batal

Jum'at, 18 Maret 2005 | 17:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para ketua fraksi DPR, yang rencananya dilaksanakan Jumat (17/3) ini, batal dilaksanakan. Pembatalan ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam jumpa pers di kantor Wakil Presiden, Jakarta, usai salat Jumat.

"Memang ada permintaan kepada Presiden untuk menjelaskan lebih dalam sebenarnya apa sebabnya kenaikan harga BBM itu. Tapi karena semuanya sudah lebih transparan, banyak dijelaskan sebelumnya, karena itu acara dimaksud tidak jadi diadakan. Dibatalkan," kata Kalla. Presiden menganggap, ujar Kalla, penjelasan sebelumnya di rapat konsultasi sudah jelas.

Rencananya ketua-ketua fraksi di DPR akan menemui Presiden di Istana Merdeka sekitar pukul 21.00 WIB. Fraksi-fraksi di DPR sendiri terbelah menyikapi kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Rapat Paripurna yang sudah digelar sejak Selasa (15/3) pekan ini belum berhasil mengambil keputusan tentang sikap DPR. Dari enam fraksi yang awalnya jelas menolak kenaikan BBM, kini tinggal PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang bertahan dengan sikapnya. Rapat Paripurna DPR rencananya akan dilangsungkan Senin pekan depan.

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.