Skip to main content

Pemerintah Siapkan Dana Berapapun untuk Nias dan Simeleu

Selasa, 29 Maret 2005 | 20:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga ketua Badan Kordinasi Penanganan Bencana Nasional (Bakornas) memastikan bahwa pemerintah akan menyediakan berapapun besarnya dana untuk tanggap darurat di Nias dan Simeleu. "Kita punya dana darurat yang tersedia. Tapi berapapun, kita akan membiayai. Berapa saja," kata Kalla dalam jumpa pers kepada wartawan di Kantor Kepresiden, Selasa (29/3) sore.

Jumpa pers ini digelar setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden dan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang digelar mendadak di Istana Presiden, sekitar pukul 12.00 WIB. Menteri yang mendampingi Presiden dan Wakil Presiden dalam jumpa pers adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menteri Dalam Negeri Ma'ruf, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Polri Jenderal Da'ii Bachtiar.

Sebelum rapat mendadak ini, juga ada rapat serupa di kantor Wakil Presiden, Selasa pagi, sekitar pukul 09.30 WIB. Rapat yang dipimpin Jusuf Kalla ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Sosial Bachtiar Chamzah, Kepala Polri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Koordinator Ekonomi Aburizal Bakrie dan Menteri Perencanaan Nasional Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Jalil.

Rapat di kantor Wakil Presiden, salah satunya memutuskan untuk mengirimkan Menteri Sosial dan Menteri Kesehatan ke daerah bencana, dengan pesawat TNI Hercules, ke Sibolga. Sebab, bandara di Nias tak bisa didarati pesawat. Kemungkinan kedua menteri beserta bantuan makanan dan tenaga medis yang dibawa akan diangkut dengan helikopter atau kapal.

Dalam jumpa pers usai pertemuan di kantor Wakil Presiden, Sofyan Jalil mengatakan, pemerintah memiliki dana tanggap darurat. Yang ada di rekening menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Sihab, kata Sofyan, dananya ada sekitar Rp 15 miliar. Itu belum termasuk dana tanggap darurat yang selama ini dipakai untuk bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Nias.

Dalam jumpa pers, Yudhoyono menyatakan, pihaknya menunda kunjungan ke Australia, Selandia Baru dan Timor Leste, yang rencananya kan dilakukan selama enam hari. Presiden ingin memastikan bahwa proses tanggap darurat ini berjalan dengan baik terlebih dahulu. "Kunjungan akan saya lakukan beberapa saat setelah berhasil menjalankan tanggap darurat di kedua daerah itu," kata Presiden.

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.