Skip to main content

Pemerintah Gembira Sambut Gembira Kabar Pembebasan Dua Wartawan Indonesia

Senin, 21 Pebruari 2005 | 17:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah menyambut gembira kabar pembebasan dua wartawan Indonesia, Meutya Hafid dan Budiyanto, di Irak. Informasi tersebut akan dikonfirmasi lebih lanjut oleh pemerintah. "Sampai detik ini, kami belum memperoleh kepastian dimana dan kepada siapa dua warga negara itu diserahkan," kata Menteri Luar Negeri, Nur Hassan Wirajuda, kepada wartawan usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan di Jakarta, Senin (21/2).

Menurut Menteri Luar Negeri, pihaknya menerima informasi pembebasan ini melalui beberapa media. Salah satunya adalah berita dari Associated Press (AP) dan Televisi Qatar Al-Zajerah. Namun pemerintah masih akan melakukan konfirmasi lebih lanjut atas berita tersebut.

Menteri Luar Negeri menambahkan, tim penanggulangan krisis departemennya yang di Jakarta dan Aman, Yordania kemarin mendapatkan informasi bahwa kedua warga negara Indonesia itu akan diserahkan kepada organisasi Al Hayat Al Ulama Al Muslimin di Bagdad. Penghubung RI di Bagdad, juga mendapatkan informasi serupa. Namun, saat pengurus Masjid Al Hayat didatangi mereka mengaku tidak tahu.

Mengenai motif pembebasan dua sandera, Menteri Luar Negeri mengatakan, pihaknya juga belum bisa melakukan konfirmasi. Berdasarkan berita Associated Press yang diterima pihaknya, kedua wartawan itu dibebaskan karena adanya penghormatan terhadap persaudaraan islam antara Indonesia dan Irak. Selain itu, penyandera juga menghormati posisi Indonesia yang menolak pendudukan di Irak. Menlu juga menambahkan, ini juga karena adanya klarifikasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai status kedua wartawan itu yang disampaikan 19 Februari lalu. "Itu cukup menjawab pertanyaan yang mereka ajukan," kata Wirajuda.

Presiden, kata Menteri Luar Negeri, menyambut gembira berita pendahuluan tentang pembebasan ini. Presiden berharap berita ini dapat diklarifikasi lebih lanjut. Presiden juga ingin tahu kepada siapa kedua wartawan itu diserahkan, dan bagaimana pengaturan pemulangan keduanya ke Indonesia. Kepada Presiden, Menlu berjanji akan terus mengupdate perkembangan berita terbaru secara berkala kepada Presiden. Menteri Luar Negeri menambahkan, pihaknya mendapatkan informasi bahwa Ketua Palang Merah Indonesia kemarin sudah tiba di Abu Dabi. Salah satu yang dilakukan adalah melakukan kontak dengan Organisasi Internasional Bulan Sabit Merah. Kontak dengan lembaga ini dilakukan karena Bulan Sabit Merah punya kantor perwakilan di Bagdad. Sebelumnya, pemerintah juga melakukan kontak dengan lembaga ini saat pembebasan Casingkem, salah satu warga negara Indonesia yang pernah disandera di Irak pada September 2004 lalu.

Abdul Manan-Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.