Skip to main content

Jaksa Agung: Baru Lima Cukong yang Diketahui

Kamis, 24 Pebruari 2005 | 06:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengatakan, dari 20 data cukong pembalakan kayu yang diterimanya, hanya seperempat dari 20 nama yang bisa ditelusuri. "Yang bisa ditindaklanjuti sementara seperempatnya. Yang lainnya tidak tidak ketemu," kata Rahman yang ditemui di sela-sela pelantikan Ketua Muda Mahkamah Agung di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/2).

Menurut Rahman, pihaknya menerima 20 nama cukong kayu dari Menteri Kehutanan MS Ka'ban. Namun, data-data itu tidak detail. Karena itu, pihak intel Kejaksaan Agung melakukan verifikasi atas nama-nama tersebut. "Baru nanti kita tingkatkan ke penyidikan," kata dia.

Rahman menambahkan, data-data yang diterimanya sudah dicek. Dari Beberapa alamat itu, sebagian ternyata orangnya sudah tidak ada di situ. Pihaknya memilih mulai dari orangnya. "Kalau orangnya ketemu, bisa ditelusuri. Ternyata beberapa alamat itu sudah tidak ada lagi," kata dia.

Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, ditemui di tempat yang sama mengatakan, pihaknya tidak bisa memberi instruksi kepada hakim dalam menangani perkara. "Tapi kita sudah memberi petunjuk bahwa perkara mengenai kayu masuk perkara yang harus diberi perhatian khusus," kata dia.

Dia meminta agar tak sepenuhnya menyalahkan pengadilan karena ada yang divonis ringan. Dia meminta agar dilihat berapa kasus yang sebenarnya masuk ke pengadilan. Selain itu, kata Bagir, kasus kayu yang dibawa ke pengadilan juga harus didukung dakwaan bagus, bukti kuat dan pelakunya yang benar. "Kalau yang diajukan kenek mobil (pengangkut kayu), kan susah," kata Bagir.

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h