Skip to main content

Bank Indonesia Minta Merger Bank Dilakukan Secara Cermat

Rabu, 16 Pebruari 2005 | 14:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah meminta proses merger bank-bank pemerintah, dilakukan secara cermat. Seperti diketahui, PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI) dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN) dikabarkan akan merger.

Bank-bank yang akan merger itu, kata Burhanuddin, harus mempersiapkan langkah-langkah yang benar. “Merger antara suatu bank dengan bank lain itu bukan semata soal teknis saja, tapi juga menyangkut budaya kerja antarunit bank. Ini tidak mudah dan butuh waktu,” katanya di Jakarta hari ini, usai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden.

Karena itu, menurut dia, proses bank harus dipelajari dan dilakukan secara hati-hati. Selain itu, bank-bank yang akan merger juga harus meningkatkan teknologi informasi.

Burhanuddin mengaku, Bank Indonesia sama sekali tidak punya keinginan sama sekali untuk menghambat proses merger bank-bank pemerintah tersebut. Apalagi, proses merger itu adalah wewenang pemilik bank.

“Kami sangat pro kepada bank-bank yang akan merger, karena BI dari segi pengawasan, justru akan makin mudah dan secara kelembagaan bank hasil merger itu juga akan lebih kuat,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Urusan Usaha Restrukturisasi dan Privatisasi Usaha Jasa Keuangan Kementerian BUMN Parikesit Suprapto sebelumnya mengatakan, rencana penggabungan bank-bank milik pemerintah masih sebatas ide. Hingga kini, belum ada kajian apapun.

Terkait dengan kabar bakal digabungkannya BNI dengan BTN, menurut Parikesit, sepenuhnya merupakan kewenangan masing-masing bank. Namun, untuk melakukan merger, bank-bank yang sudah menjadi perusahaan public harus terlebih dulu meminta persetujuan rapat umum pemegang saham.

Saat ini saham BNI mayoritas dimiliki pemerintah (99,13 persen) dan publik 0,87 persen. Sedangkan mayoritas kepemilikan BTN adalah pemerintah.

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h