Skip to main content

Sebagian Dana Simpanan TKI di Malaysia Sudah Diambil

Kamis, 18 November 2004 | 04:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Atase Ketenagakerjaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Abdul Malik, mengatakan, sebagian dana simpanan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia sudah diambil. Berdasarkan data yang dimilikinya, yang belum mengambil cuma sedikit, yaitu sekitar 300 TKI. Pernyataan ini disampaikan Malik saat dihubungi melalui telepon kemarin malam, Rabu (17/11).

Migrant Care, lembaga swadaya masyarakat yang menangani masalah tenaga kerja di luar negeri, menduga ada sekitar Rp 1 triliun dana asuransi TKI yang masih "parkir" di Malaysia. Dana itu dipungut dari TKI selama 1998-2002. Hanya, kata Direktur Migrant Care Wahyu Susilo, sebagian besar TKI belum mengajukan klaim atas dana itu karena tidak atau belum mengetahui perihal dana tersebut.

Menurut Wahyu, dana asuransi itu dikumpulkan oleh majikan atau perusahaan yang menggunakan jasa TKI di Malaysia. Gaji TKI dipotong berkisar 12-13 persen setiap bulannya. Dana itu kemudian diserahkan ke satu lembaga bernama Kumpulan Wang Simpanan Pekerja atau Employee Prominent Fund (EPF) secara bulanan atau tahunan (Koran Tempo, 17/11).

Menurut Malik, uang yang ditarik pada 1998-2002 itu bukan untuk asuransi, melainkan simpanan yang disetorkan majikan kepada EPF. Aturan untuk menyerahkan uang simpanan ini berdasarkan ketentuan undang-undang di Malaysia. Dana simpanan yang disetorkan sebesar 11 persen dari gaji pokok (basic) TKI. "Jumlah dananya bisa lebih dari Rp 1 triliun," katanya. Karena TKI memiliki gaji pokok berbeda-beda, jumlah simpanan yang dimiliki pun tak sama.

Namun, Malik menegaskan, dana yang disimpan di EPF itu secara otomatis akan dibayarkan kepada TKI yang masa kerjanya berakhir. "Kalau ada yang belum menerima, biasanya karena kurangnya kelengkapan dokumen," kata dia. Misalnya dokumen atau paspornya hilang atau habis masa berlakunya. Menurut Malik, sebagian besar penyebab dana itu belum bisa ditarik oleh TKI semata-mata masalah administrasi.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris, yang dihubungi melalui telepon, belum bisa memberikan komentar soal dana simpanan ini. "Langkah saya belum sampai ke sana," kata dia. Dia mengingatkan, dirinya menduduki posisi ini belum satu bulan. Yang prinsip, kata Fahmi, kalau sesuai dengan aturan, dana itu akan tetap ada.

Abdul Manan - Tempo

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h