Skip to main content

Tim Pembebasan Ferry Santoro Raih Udin Award 2004

Sabtu, 07 Agustus 2004 | 21:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tim Media untuk Pembebasan Ferry Santoro menjadi penerima Udin Award 2004, sedangkan penghargaan Tasrif Award 2004 diberikan kepada Ketua Bali Corruption Watch Putu Wirata Dwikora.

Pengumuman pemberian penghargaan ini dilakukan oleh salah satu dewan juri, Abdullah Alamudi, dari Lembaga Pers Dr. Soetomo, dalam acara resepsi 10 tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Hotel Nikko malam ini (7/8).

Tim Media untuk Pembebasan Ferry dinilai layak mendapat penghargaan karena berani mengambil risiko untuk membebaskan Ferry Santoro, sedangkan Tasrif Award diberikan kepada Putu karena dia dinilai memiliki komitmen yang kuat untuk mengungkap kasus korupsi dan membantu memberikan informasi yang mendorong media melakukan kontrol sosial.

Nominator Udin Award 2004 lainnya adalah Nani Afrida, wartawan Jakarta Post, serta tiga wartawan Tempo, Bambang Harymurti, Iskandar Ali, dan Ahmad Taufik. Sementara nominator Tasrif Award 2004 lainnya adalah LBH Pers dan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Soehandoyo.

Adapun juri untuk kedua penghargaan tersebut terdiri dari enam orang, yaitu Abdullah Alamudi, Ichlasul Amal (Ketua Dewan Pers), Munir (Direktur Eksekutif Imparsial), Hanif Suranto (Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), Pemred Harian Kompas Suryopratomo, dan Pemred Majalah Gatra Iwan Qodar Himawan.

Penghargaan Udin Award dan Tasrif Award telah dilakukan sejak 1997 dan telah menjadi agenda rutin AJI setiap tahun.

Abdul Manan - Tempo News Room

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h