Skip to main content

IFJ: Jangan Lupakan Nasib Fery Santoro

Tempo Interaktif, 20 April 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden International Federation of Journalists (IFJ) atau Federasi Jurnalis Sedunia, Christopher Warren, dalam press release yang diterima Tempo News Room hari ini (20/4), menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak melupakan Fery Santoro. Juru kamera RCTI ini disandera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama hampir 10 bulan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Juru Kamera Fery Santoro dan jurnalis senior Ersa Siregar diculik oleh GAM ketika melakukan peliputan di Langsa, Aceh Timur, 29 Juni 2003 lalu. Ersa ditemukan meninggal 29 Desember 2003 dan Fery tetap disandera GAM hingga hari ini.

IFJ telah beberapa kali melakukan usaha untuk pembebasan Ersa dan Fery. Pada 19 Agustus 2003 lalu, pemimpin GAM di pengasingan bahkan membuat kesepakatan soal pelepasan Ersa dan Fery di hadapan Sekretaris Jenderal IFJ, Aidan White. Namun, Ersa akhirnya tewas tertembak dan Fery belum juga dilepaskan. "Para pejuang GAM dan militer Indonesia sama-sama tidak menempatkan keselamatan Fery sebagai prioritas yang harus dihargai," kata Warren.

Warren menilai, penyanderaan terhadap jurnalis adalah tindakan untuk menghukum dan mengintimidasi pers. "Ini adalah tindakan yang menakutkan dan juga tidak efektif," kata Warren. Dia juga menandaskan bahwa jurnalis dan pekerja media berbeda dengan pasukan militer. "Pekerjaan mereka adalah menjaga agar masyarakat mendapatkan informasi tentang apa yang sedang berlangsung. Penyekapan terhadap jurnalis membatasi kemampuan kita untuk memahami tentang apa yang sedang terjadi di wilayah konflik," tambahnya.

IFJ, organisasi yang beranggotakan lebih dari 500,000 jurnalis sedunia, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), afiliasinya di Indonesia, mendesak agar GAM dan TNI membebaskan Fery. Selain itu, juga meminta diadakannya penyelidikan independen atas kematian Ersa, yang ditemukan meninggal setelah terjadi tembak menembak antara GAM dan TNI.

Dalam kasus penyanderaan ini, Pemerintah Indonesia menekankan bahwa mereka hanya akan menggunakan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam bernegosiasi dengan GAM untuk membebaskan Fery. Sedangkan GAM meminta peran International Committee of Red Cross (ICRC). Namun, tak adanya titik dari keduanya membuat nasib Fery menggantung hingga kini. "Kita tidak boleh melupakan Fery Santoro. GAM dan TNI perlu bertanggungjawab atas situasi yang dialami Fery. Keduanya memiliki tanggungjawab penuh untuk melihat Fery bebas secepat mungkin," tegas Warren.

Abdul Manan - Tempo News Room

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.