Skip to main content

Pengacara Tempo Melaporkan Dugaan Pemalsuan Surat

29 September 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sembilan pengacara Tempo melaporkan kasus pemalsuan surat dan alat bukti ke Mabes Polri, Jakarta, Senin (29/9) sekitar pukul 08.50 WIB. Tim pengacara diterima oleh Direktur I Reserse Kriminal Mabes Polri, Brigjen Aryanto Sutadi.

Juru bicara tim pengacara Trimoelja D. Soeryadi kepada polisi menyampaikan empat dokumen atau surat yang diduga dipalsukan. Keempat dokumen itu, masing-masing Surat Perintah Penyitaan tertanggal 12 Maret 2003, Berita Acara Penyitaan tertanggal 11 Maret 2003, surat Gubernur DKI tertanggal 13 Maret 2003 dan surat Desmond J. Mahesa tertanggal 13 Maret 2003.

Menurut Trimoelja, keempat surat itu diduga palsu atau dipalsukan. Beberapa indikasinya, kata Trimoelja, antara lain adanya Berita Acara Penyitaan tertanggal 11 Maret padahal Surat Perintah Penyitaannya tertanggal 12 Maret. Selain itu, adanya surat Gubernur yang tertanggal 13 Maret yang disita tanggal 11 Maret. "Bagaimana mungkin ada penyitaan sementara suratnya belum keluar," kata Trimoelja.

Trimoelja menduga ada rekayasa dalam pembuatan surat yang terkait dengan kasus pidana pencemaran nama baik Tomy Winata oleh wartawan majalah TEMPO. "Ini menunjukkan bagaimana dekatnya Tomy Winata dengan kekuasaan," kata Trimoelja.

Abdul Manan - Tempo News Room

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h