Skip to main content

Wartawan AS Lampaui Batas Waktu

Koran Tempo 15 Juni 2003

BANDA ACEH - Hingga batas waktu terakhir yang diberikan Pangkoops TNI kemarin, wartawan asal Amerika Serikat, William Nessen, belum menunjukan diri dan tidak diperoleh kepastian nasibnya. Tak diketahui, apakah Nessen masih di Markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau sudah keluar. Yang jelas hingga kemarin pukul 18.00 WIB belum ada kepastian sama sekali.

“Sampai saat ini, dia belum mengontak Pangkoops dan belum juga melaporkan keberadaannnya ke pos TNI terdekat,” kata juru bicara Komando Operasi Militer TNI, Letnan Kolonel Ahmad Yani Basuki kepada Tempo News Room melalui sambungan telepon, Sabtu (14/6) sore. Kepala Dansatgas Penerangan, Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono juga menyatakan belum mendapat kabar dari pasukan TNI yang berada di Beureun. “Kami juga menunggu kabar dari Koops di Lhokshumawe tentang kebaradaan Willian Nessen,” katanya kemarin .

Panglima Komando Operasi TNI Brigjen Bambang Darmono sebelumnya mengultimatum Nessen agar keluar paling lambat Sabtu (14/6), pukul 18.00. Menuurt dia, Nessen berada di Nisam, Aceh Utara, bersama kelompok GAM. Bambang mengaku mendapat informasi Nessen acap terlihat bersama Panglima GAM Muzakkir Manaf (Koran Tempo, 13/6). Berdasarkan catatan Departemen Luar Negeri, Nessen adalah wartawan The Fransisco Cronicle.

Ahmad Yani menegaskan setelah terlewatnya tenggat waktu yang diberikan kepada Nessen, TNI tidak bertanggungjawab atas keselamatan wartawan asal AS tersebut. “Bertanggung jawab apa ? dari dulu pun kami tidak pernah bertanggungjawab atas keselamatan dia,” tegasnya.

Atas dasar itulah, masih menurut Yani, untuk waktu mendatang dan seterusnya, TNI tetap melaksanakan kewajibannya yang utama yaitu memulihkan keamanan di Propinsi Nanggore Aceh Darussalm (NAD). Mengenai respon kedubes AS, Yani mengaku tidak mengetahui persis. “Karena hal itu bukan bagian dari tugas TNI. Lagipula kedubes AS berlokasi di Jakarta. Kami berharap semua pihak bisa saling mengerti.”

William Nessen diketahui memiliki isteri asli dari Aceh, Sadiyah Marhamah, yang kini tinggal di AS. Kemarin, Media Center Kodam Iskandar Muda kedatangan Salahudin yang mengaku masih isteri Sadiyah. Salahudin mengaku sejak Agustus 2001 komunikasi antara mereka terputus. Pada Desember 2001, Sadiyah mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan dikabulkan. “Saya naik banding dan sampai saat ini belum ada keputusan sehingga dia masih istri saya," kata dia.

Salahudin yakin William Nessen bukanlah seorang wartawan. Dia juga menuding Nessen memiliki karakter hendak menghancurkan Aceh ini. Nessen juga dituduhnya tidak punya moral. “Buktinya dia telah mengobrak-abrik keluarga saya.”

Kepala Dansatgas Penerangan Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono menyatakan kedatangan Salahuddin atas inisitifnya sendiri."Bukan kita yang mendatangkan," ujar dia.

Di tengah kesimpang siuran itu, kemarin, seorang Pegawai Negeri Sipil NAD, M. Alip Andjib, menjadi korban penembakan orang tak di kenal di kawasan Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar. Alip, pegawai Dinas Informasi Dan Komunikasi Kota Banda Aceh, ditembak saat hendak berangkat ke kantornya. Dia ditembak
dua orang pengendara motor yang berboncengan dan menyusulnya dari belakang. Dua tembakan pelaku mengenai kepalanya hingga tewas seketika. .

Dua hari yang lalu, dilokasi yang tidak jauh dari kejadian Alip, salah seorang pegawai kantor BKKBN juga tertembak. Ruliansyah saat itu sedianya sedianya akan menghadiri apel kesetiaan di lapangan Blang Padang. Dua butir peluru bersarang di kaki dan di punggungnya. Namun, ia selamat setelah di operasi di rumah sakit Zaenal Abidin, Banda Aceh.

Selain Alip, dua orang PNS tewas tertembak di daerah Aceh Selatan. Mereka adalah Radjimin pegawai kantor Kecamatan Muekek dan Bustami pegawai Puskesmas Muekek Aceh Selatan. Meski demikian, apel kesetiana tetap disampaikan kelompok masyarakat lain di Aceh.

Kemarin, sekitar 5.000 pemuda Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara mengikuti apel kesetiaan di alun-alun Kota Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam acara ini, mereka menyatakan ikrar untuk setia dan mempertahankan negara kesatuan RI.

Ribuan pemuda ini berasal dari seluruh pemuda seluruh pelosok Aceh Utara, dari kecamatan Tanah Jambo Aye sampai Samalanga. Mereka naik angkutan umum dari desanya masing-masing. Saat mengikuti upacara ini, sebagian besar mengenakan kaos merah putih, yang dibelakangnya bertuliskan “Pemuda Indonesia Lhokseumawe (Aceh Utara),” ada juga kaos merah putih yang hanya bertuliskan “Pemuda Indonesia” dan “NKRI.”

Ketua DPD Pemuda KNPI Sumatra Utara, Syarif Jamal, dalam sambutannya menyatakan, ikrar ini untuk meneguhkan komitmen pada negara kesatuan. “Bagi Pemuda, komitmen itu tidak perlu diwujudkan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan bekerja keras untuk pembangunan.” abdul manan-Tempo News Room/da candraningrum/fajar wh/andi dewanto)

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.