Skip to main content

Jalur Maut GAM

GAM menghilang dari kota dan desa. Mereka menyebar di hutan, gunung, dan rawa.

TAK salah bila pasukan Gerakan Aceh Merdeka menasbihkan diri sebagai penentu lokasi pertempuran. "Kamilah yang menentukan kapan dan di mana perang akan berlangsung," kata juru bicara GAM, Teungku Sofyan Daud. Taktik gerilya membuat pasukan GAM, yang telah raib dari kota dan kampung, bisa muncul di mana saja.

Sofyan Daud sendiri sampai kini tak tentu rimbanya. Ia hanya bisa dihubungi lewat telepon bergerak satelit yang selalu ditentengnya selama bergerilya. Menurut data Satuan Tugas Mobil 1 TNI, posisi Panglima GAM Wilayah Pase ini di sekitar Rantau Seulamat, Aceh Timur. Sebelumnya ia dan pasukannya dikabarkan berada di sekitar rawa-rawa dekat Desa Meunasah Raya di kawasan Jambo Aye, Aceh Utara. Sepekan lalu, TNI mengepung dan menyiram rawa-rawa itu dengan peluru. Tapi dia lolos.

Ke mana Sofyan dan pasukannya? Tak seorang pun tahu. Sofyan pun enggan ditanya soal posisinya.

Di seantero Aceh, ada empat daerah yang ditandai sebagai daerah hitam--daerah basis GAM--yaitu Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie. Di daerah-daerah inilah sebagian besar dari 5.000 anggota GAM tersebar. Patut dicatat, keempatnya terletak di sepanjang jalur darat dari Banda Aceh menuju Medan. Tidak mengherankan jika di jalur ini kerap terjadi sweeping dan penghadangan oleh GAM. Korbannya tak hanya aparat TNI, tapi juga warga sipil yang tengah melintas.

Pada 3 Juni lalu, misalnya, GAM menghadang konvoi truk TNI di Desa Simpang Tiga Beracan, Kecamatan Trieng Gading, Pidie. Dua anggota TNI luka ringan dalam peristiwa ini. Dua hari kemudian, GAM menghadang 21 anggota pasukan Cakra 21 yang tengah menuju Alue Bate, Peureulak, Aceh Timur, dari Panton Labu, yang melukai anggota Tim Cakra, Prajurit Kepala Junaidi.

Penghadangan besar dilakukan pasukan khusus GAM pada Selasa, 10 Juni, menjelang petang di jalan Desa Matang Kumbang, Kecamatan Peusangan, Aceh Utara. Sekitar 60 anggota TNI dihujani tembakan senjata berat dari punggung bukit Sudan di seberang jalan. Pertempuran besar sampai hari gelap ini menewaskan tujuh prajurit TNI dan lima anggota GAM, satu di antaranya anggota pasukan khusus wanita GAM, Inong Balee.

Gerilya GAM tampaknya membuat pasukan TNI harus senantiasa waspada, terutama tatkala melewati jalur maut tersebut.

Tomi Lebang, Abdul Manan (Aceh)

+++

Posisi Strategis
- Kawasan Paya Meuligoe, Aceh Timur
- Keude Geurubak, Idi Rayeuk, Aceh Timur
- Kuala Simpang Ulim, Simpang Ulim, Aceh Timur
- Leupen Sireun, Aceh Utara.

Tempat Latihan
- Sungai Leu'i, Aceh Tamiang : Daerah ini merupakan tempat latihan bagi tentara baru GAM.
- Paya Meuligoe, Aceh Timur : Pendidikan lanjutan setelah dari Sungai Leu'i.
- Keude Geurubak, Idi Rayeuk, Aceh Timur : Pendidikan tingkat perwira untuk tentara GAM. Banyak panglima GAM di berbagai daerah lulusan kamp pelatihan ini.

Penyebaran Kekuatan
DESA TANJUNG KERAMAT, KABUPATEN ACEH TAMIANG
Panglima: Syamsuddin
Kapolda: Rajali
Gubernur: Teungku Dun alias Abu Tapa
Pasukan: 300 personel
Senjata: 10 pucuk

IDI RAYEUK, ACEH TIMUR
Panglima: Ishak Daud
Pasukan: 400 personel
Senjata: 217 pucuk

DESA MATANG ULIN, KECAMATAN LHOKSUKON, ACEH UTARA
Panglima: Muzakkir Manaf
Wakil Panglima Wilayah Pase: Sofyan Daud
Panglima Muda Daerah I Wilayah Pase: Ramli Basam
Gubernur Wilayah Pase: Said Abnan
Pasukan: 100 personel
Senjata: 80 pucuk

KECAMATAN RANTAU SEULAMAT, ACEH TIMUR
Panglima Wilayah Peureulak: Teungku Sanusi bin Malih
Pasukan: 827 personel Senjata: 344 pucuk

PAYA MEULIGOE, ACEH TIMUR
Panglima Wilayah Peureulak: Teungku Sanusi bin Malih
Pasukan: 217 personel
Senjata: tidak diketahui pasti

KUALA SIMPANG, ACEH TIMUR
Panglima Sagoe: Bahrom
Pasukan: 18 personel
Senjata: 8 pucuk

ACEH UTARA
Panglima Wilayah Batee Iliek: Teungku Darwis Jeunib
Wakil Panglima Wilayah Batee Iliek: Cut Manyak
Pasukan: 1.318 personel
Senjata: standar 815, rakitan 75

DESA JAMBO MEURITI, KECAMATAN JAMBO AYE, ACEH UTARA
Panglima Sagoe: Apacik
Kapolres: Saefuddin
Pasukan: 100 personel
Senjata: 80 pucuk

TEMPO Edisi 030622-016/Hal. 32 Rubrik Laporan Utama

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.