Skip to main content

Dari Jalur Tikus sampai Rute Ganja

PERANG di Aceh hampir genap sebulan. Korban terus berjatuhan. Di pihak TNI, sedikitnya 23 tewas, 50 terluka, dan seorang hilang. Korban warga sipil mencapai 68 orang. Di pihak GAM, sedikitnya 172 tewas, 111 ditangkap, dan 144 menyerah. Padahal anggota GAM mencapai 5.300 orang. Fakta ini mengundang pertanyaan besar, ke manakah ribuan anggota GAM lainnya?

Tiarap atau membaur bersama masyarakat sipil keluar dari Aceh. Itulah yang ditengarai Panglima Komando Operasi TNI Brigjen Bambang Darmono. "Saya pikir selama darurat militer mereka tiarap atau membaur di tengah masyarakat sipil," katanya. Kenyataannya memang banyak anggota GAM yang ditangkap di luar Aceh, mulai dari Medan, Riau, Pekanbaru, hingga Jakarta, setelah pemerintah memberlakukan status darurat militer di Tanah Rencong. Inilah jalur dan tujuan pelarian gerilyawan anggota GAM.

+++

Sumatera Utara

MEDAN : Ini daerah tujuan favorit, karena itulah paling banyak pejabat GAM ditangkap di sini. Panglima Sagoe GAM Wilayah Pase untuk kawasan Ponggui, Aceh Utara, Mustafa Ibrahim (27 tahun), Isnandar (27), sekretaris GAM wilayah Medan, dan Nurdin (32), anggota tentara GAM, ditangkap polisi 27 Mei 2003

LANGKAT : Untuk masuk kawasan Sumatera Utara, ada dua jalur: darat dan laut.

Jalur darat ditembus dengan memasuki kawasan pegunungan Bukit Barisan, juga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser serta perkebunan kelapa sawit di perbatasan Kabupaten Langkat dan Aceh Timur serta Aceh Tamiang. Jalur ini sering disebut "jalur pasokan ganja".

Jalur laut umumnya menggunakan kapal nelayan. Sebelum masuk kawasan Pangkalan Susu, Pangkalan Brandan, mereka singgah di Pulau Kampai. Pulau ini pernah menjadi sarang GAM dan membuat kawasan ini pernah diserbu satuan Brimob. Kini di pulau itu ditempatkan satuan Brimob.

KARO : Kini jalur ini berbatasan dengan Kabupaten Dairi-Aceh Tenggara. Di sini Panglima Sagoe GAM Wilayah Liang Pange dan Bunbun Alas, Aceh Tenggara, M. Amin, ditangkap Batalion 122/Tombak Sakti setelah sebelumnya anak buahnya tertangkap saat menyusup dari lintas perbatasan wilayah itu.

DELI SERDANG : Polisi menangkap 10 pejabat GAM, antara lain Yahya bin Hanafiyah, Wakil Panglima GAM Wilayah Deli Serdang.

Palembang, Sumatera Selatan : Tengku Ali alias Yanto bin Marli. Tertangkap 5 Juni 2003. Ali mengaku melarikan diri melalui jalur darat bersama seorang kawannya, Amri (30) karena ketakutan.

Bengkulu : Polisi menangkap 9 pejabat GAM, antara lain Moh. Jamil bin Abdul Rahman, penasihat GAM wilayah Bengkulu, Said bin Said Syah, A.N. Nasru Alias Ayah Kumis, Darwin, Zukifli bin Alamsyah, Musa bin Jamil, Edi Junaidi bin Alamsyah, Mansyur bin Wahab, dan Asri M. Saleh.

Jonggol, Jawa Barat : Nurdin Apadin diduga pemasok amunisi GAM dari Jakarta di bawah komando langsung Panglima Tinggi GAM, Muzakir Manaf.

Riau : Pada 12 Juni, polisi menangkap tujuh anggota GAM yang melarikan diri lewat jalur laut.

Jakarta : Irwandi Yusuf alias Isnandar alias Faseh, juru propaganda GAM, ditangkap di Cipinang, Jakarta Timur, pada 23 Mei.

Batam : Terdapat 42 titik yang dinilai menjadi pintu masuk pelarian mereka. Titik itu meliputi pelabuhan-pelabuhan liar yang ada di Batam.

Pulau Phuket, Thailand : Diduga anggota GAM keluar-masuk Aceh-Pulau Phuket untuk berbelanja senjata. Di Thailand inilah mereka bertemu pembantu utama Hasan Tiro, Zakaria Zaman alias Karim Bangkok. Akhir April lalu, tim gabungan Cakra Tujuh Marinir menangkap tiga anggota GAM di wilayah laut Pantai Kreung Geugeua, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Mereka bersenjata AK-47, pistol Colt standar kepolisian, dan FN-16.

+++

Jalur Utama : Tujuan utamanya Medan. Jalur ini meliputi kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang. Beberapa anggota GAM disinyalir melewati jalur ini bersama pengungsi.

Jalur Barat Sumatera : Jalurnya berawal dari Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, hingga Aceh Singkil. Namun, melihat intensitas konflik yang tinggi di daerah barat Aceh, jalur ini tak lagi diminati.

Jalur Udara : Peluang terbesar lewat Bandara Iskandar Muda di Banda Aceh. Umumnya mereka menempuh jalan darat dulu hingga ke Medan dan baru terbang dari Bandara Polonia ke kota-kota lain di Jawa.

Jalur Laut : Jalur ini memanfaatkan Pelabuhan Malahayati. Tapi saat ini Malahayati sudah "ditutup" rapat, sehingga kecil kemungkinan jalur ini dipakai. Trennya kini menyusup ke Medan dengan menyamar sebagai nelayan dan tinggal di rumah kerabat mereka di pantai Timur Selat Malaka hingga Tanjung Balai Asahan. Di kawasan Tanjung Tiram Asahan pernah terjadi baku tembak aparat dengan GAM.

Jalur Tikus : Jalur ini menjadi primadona karena kemungkinan lolos lebih besar. Caranya, anggota GAM menyelinap dan kabur melalui rawa-rawa yang terdapat di sepanjang pantai timur dan sebagian barat Aceh. Salah satu contoh adalah saat kontak senjata di Matang Nibong, Peureulak, Aceh Timur, 22 Mei lalu. Saat itu 11 anggota Detasemen Pemukul Baladika yang dipimpin Kapten Riyanto melintas di daerah tersebut. Tiba-tiba dia diserang oleh sekitar 100 anggota GAM. Kontak senjata pun pecah, tapi GAM bisa lolos lewat rawa-rawa ini. "Mereka kabur dengan speedboat dan sebagian dengan perahu biasa ke laut," kata Riyanto.

Adi Prasetya, Abdul Manan (NAD), Bambang Soed (Medan)

TEMPO Edisi 030622-016/Hal. 30 Rubrik Laporan Utama

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.