Skip to main content

TNI Kembali Dituding Menyiksa Warga Sipil

29 Mei 2003

TEMPO Interaktif, Bireuen: TNI kembali dituding menyiksa dan menembak mati warga kampung, yang bukan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Peristiwa itu terjadi di Desa Lawang, Kecamatan Peudada, kurang lebih 15 kilometer dari Kota Bireuen, Selasa (27/5) pagi.

Ketika dimintai konfirmasi, Juru Bicara Komando Operasi TNI Letkol Ahmad Yani Basuki mengakui ada oknum prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 144 yang melakukan kekerasan pada warga kampung itu. Namun, Yani Basuki juga menegaskan bahwa warga yang ditembak mati, Abu Bakar (35 tahun), adalah anggota GAM yang diduga terlibat dalam aksi perampasan KTP milik warga. “Ada bukti sekarung KTP yang ditemukan aparat,” katanya.

Meski begitu, istri korban, Aisyah (30 tahun) menuturkan versi lain kematian suaminya. Menurutnya, Abu Bakar diambil di rumahnya, Selasa (26/5) pagi, dipukuli, dibawa ke belakang rumahnya lalu ditembak mati.

Aisyah juga mengaku melihat bagaimana pasukan TNI berseragam loreng dan membawa senjata api masuk ke dalam rumahnya, setelah dia dan suaminya menunaikan salat subuh. “Mereka membawa suami saya ke meunasah (surau kampung--) di depan rumah,” katanya.

Sekitar pukul 10.00 WIB, suaminya kembali dibawa masuk ke dalam rumah. Aisyah mengaku melihat sendiri wajah suaminya sudah lebam oleh bekas pukulan. Abu Bakar lalu dibawa kurang lebih 10 meter, ke belakang rumahnya. Di sana kepalanya dipukul dengan kayu balok seukuran dua kali lengan orang dewasa. Bakar tersungkur lalu diseret lebih jauh ke tengah belukar di belakang rumahnya sendiri. “Saya dengar suara tembakan,” kata Aisyah sambil terisak.

Ketika suaminya dibawa ke belukar di pekarangan belakang rumah mereka, Aisyah mengaku tidak berani keluar rumah. Anak terkecilnya, Sa’adiah (1, 5 tahun) terus menangis. Dia lalu mengaku mengintip dari dinding bambu di samping dapur rumahnya. “Saya melihat sendiri tentara menyeret suami saya,”
katanya berulang-ulang.

Sekitar jam 12.00 siang, baru Aisyah berani keluar dari rumah. Laki-laki yang tersisa di kampung, lalu membantu mengambil mayat Abu Bakar dan memandikannya di meunasah. Dia dikuburkan sore itu juga. Tanah di kubur Abu Bakar sendiri masih merah, ketika sejumlah wartawan datang ke kampung itu, Rabu (28/5) siang.

Tgk. Usman Ahmad (61 tahun) imam meunasah di Desa Lawang juga bersaksi bagaimana sepasukan tentara berseragam loreng masuk ke kampungnya, Selasa (26/5) pagi sekitar jam 06.30. “Mereka mengetuk pintu rumah saya dengan sopan dan bilang ‘Assalamualaikum’,” kata Usman. Tentara itu meminta semua warga berkumpul di meunasah. “Warga yang laki-laki hanya ada 12 orang. Sisanya perempuan,” kata Usman. Pemuda kampung yang lain, kata Usman, sudah lari ke atas gunung

Kepada seluruh warga yang berkumpul, prajurit TNI menanyakan keberadaan anggota GAM yang ada di kampung itu. “Kami jawab tidak tahu,” kata Usman. Pria renta ini mengakui pasukan GAM seringkali melewati jalan-jalan kampung di desanya. “Namun, mereka hanya lewat dan tidak tahu kemana,” kata Muhtar (45 tahun), penduduk desa yang lain.

Setelah warga menjawab ‘tidak tahu’, pukulan dan hantaman popor senjata mulai mendera tubuh sebagian warga. Maimun Ahmad (30 tahun), Hamdani (45) , dan Rojali AR (35 tahun) menderita pemukulan paling parah. Ketiganya kini dirawat di RS. Fauziah, Kabupaten Bireuen.

Ketika ditemui pers di atas ranjang rumah sakit, Rojali sama sekali tidak bisa membuka mulutnya. Darah kering menutup mata kiri dan sebagian bibirnya. Bekas hantaman popor senjata juga nampak di dadanya. Maimun dan Hamdani juga menderita luka sejenis. Ketika diwawancarai, Maimum beberapa kali terbatuk. “Dada saya sakit, dihantam,” katanya.

Hamdani, yang juga pegawai negeri golongan dua di Kecamatan Peudada, mengaku dipanggil tentara di rumahnya Selasa (27/5) pagi lalu. Setelah dikumpulkan di meunasah, Hamdani mengaku diajak pasukan TNI ke sebuah jembatan gantung di perbatasan desanya. “Saya ditanya siapa yang punya gubuk di bukit-bukit sebelah jembatan gantung,” kata Hamdani. Ia mengaku menjawab tidak tahu, dengan alasan perbukitan di seberang sungai itu, sudah bukan wilayah desanya.

Selama perjalanan, Hamdani mengaku dipukul dan ditendang berulangkali. “Saya belum sempat berdiri, sudah disepak lagi,” kata Hamdani sambil menunjukkan bekas luka di betisnya.

Di sana, menurut Hamdani, sebuah gubuk dan sebuah sepeda motor yang diduga milik GAM dibakar habis. Dua buah rumah milik seorang janda; Siti Hawa (60 tahun) dan milik Sabri, warga kampung setempat juga dibakar. Di depan kedua rumah itu, nampak rangka sebuah sepeda motor yang hangus dibakar.

Namun juru bicara Komando Operasi TNI di Aceh Letkol Yani Basuki membantah semua keterangan itu. “Tidak mungkin pasukan kita melakukan melakukan tindakan begitu keji,” kata Yani. Menurut Yani, operasi ke kampung Lawang didasari informasi awal yang mengindikasikan adanya aktivitas GAM di
lokasi itu. “Sebelum pasukan bergerak ke sebuah titik, pasti didasari adanya indikasi awal,” kata Yani lagi.

Yani Basuki juga berjanji akan terus menelusuri informasi tentang adanya kekerasan yang dilakukan oknum prajurit TNI di Desa Lawang. “Kan ada atasan yang berhak menghukum, ada proses. Kami pasti akan menegakkan aturan hukum,” katanya tegas.

Wahyu Dhyatmika/Abdul Manan – TEMPO News Room

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.