Skip to main content

Demam 'Turne' Presiden Golkar

Sejumlah orang yang disebut-sebut akan dicalonkan Golkar sebagai presiden telah membentuk tim sukses. Mereka bergerilya ke sejumlah daerah.

KANTOR Pusat Partai Golkar Semarang, Jawa Tengah, Jumat pekan lalu mendadak meriah. Pengurus Partai Beringin di tingkat provinsi dan kabupaten provinsi itu tumpah-ruah. Semua rapi-jali: ada yang berjas, ada pula yang berbatik-ria.

Hari itu mereka kedatangan tamu penting dari Jakarta, yakni Jenderal (Purn.) Wiranto. Bekas Panglima TNI ini disebut-sebut sebagai salah satu calon presiden 2004 asal Golkar. "Kehadiran Pak Wiranto ke sini untuk mencari dukungan menjadi calon presiden," kata H. Suhud, Wakil Ketua Golkar Jawa Tengah.

Aksi Wiranto turne berkeliling daerah itu hanya salah satu gerilya calon presiden Golkar. Setelah Partai Beringin meniatkan diri mencari calon presiden di luar partai, ramai-ramai orang mendekati dan didekati pengurus Golkar. Selain Wiranto, mereka yang disebut-sebut akan diusung Golkar menjadi presiden adalah Agum Gumelar (Menteri Perhubungan), Nurcholish Madjid (cendekiawan), Aburizal Bakri (pengusaha), Surya Paloh (praktisi pers), Sri Sultan Hamengku Buwono X(Gubernur Yogyakarta), dan beberapa lainnya. Selasa pekan ini Golkar akan menggelar rapat pimpinan untuk membahas konvensi nasional yang akan menetapkan calon presiden.

Wiranto kabarnya sudah mengantongi restu dari Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Golkar. Seorang petinggi partai itu berkisah bahwa restu itu diberikan Akbar dalam sebuah pertemuan di Jakarta awal Januari lalu.

Merasa dibukakan pintu, mantan ajudan Soeharto itu langsung merapatkan barisan. Ia melakukan safari daerah. Sehari sebelum ke Semarang, Wiranto bertamu ke kantor Golkar Sumatera Barat. Sebelumnya lagi ia menemui pengurus Golkar Kalimantan Timur.

Menurut seorang pengurus Golkar, gerak cepat Wiranto dimotori tim sukses yang salah satu anggotanya adalah pengurus Golkar pusat, Marwah Daud Ibrahim. Selain itu, Wiranto juga disokong sebagian mahasiswa dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Secara tersirat, Marwah mengaku ikut mendukung Wiranto. "Saya kira Pak Wiranto layak (jadi presiden)," katanya. Ia juga mengaku kerap bertemu dengan tokoh yang dituding bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan di Timor Timur ini. Dalam pertemuan itu mereka sering membicarakan soal pencalonan Wiranto.

Wiranto membantah tengah menggalang kekuatan. Pertemuan di Semarang, katanya, cuma silaturahmi biasa. "Sebagai mantan penasihat Golkar, tidak ada salahnya kalau saya bersilaturahmi. Pertemuan itu dimaksudkan mencari solusi bersama membebaskan bangsa dari krisis berkepanjangan," katanya.

Calon lain yang juga rajin bertamu ke daerah adalah Surya Paloh, bos harian Media Indonesia dan pemilik Metro TV. Di Golkar, ia disokong pengurus Golkar Nanggroe Aceh Darussalam, daerah kelahiran Surya. Pekan lalu, lelaki dengan berewok tebal ini mendatangi pengurus Golkar Jawa Barat di Hotel Papandayan, Bandung. Hajatan itu terkesan mendadak. Sejumlah pengurus partai yang tengah berkunjung ke kabupaten dipanggil pulang oleh Ketua Golkar Jawa Barat supaya ikut dalam pertemuan itu. Di sana Surya berpidato. "Saya terpanggil untuk membangun kehidupan demokrasi di Indonesia," kata Surya seperti ditirukan seorang pengurus Golkar Jawa Barat.

Tak puas hanya bicara ramai-ramai, malam harinya Surya bertemu empat mata dengan Ketua Golkar Jawa Barat, H. Noerhaman. "Isinya, membahas pencalonan Surya menjadi presiden," kata Noerhaman. Selain ke Bandung, Surya juga telah bergerilya ke Jawa Timur. Di sana ia bertemu dengan pengurus Golkar dan organisasi lain yang berpatron ke Golkar.

Safari Surya Paloh diatur oleh tim sukses yang dikomandani bekas pengurus Golkar asal Aceh, Usman Hasan. Menurut seorang pengurus Beringin, bersama Usman juga terdapat Tadjudin Noer Said (mantan pengurus Golkar), Laurens Tato (Media Indonesia), serta wartawan Media dan Metro TV lainnya. Tim ini kerap mengadakan diskusi yang menghadirkan pengurus Golkar seperti Slamet Effendy Yusuf, Enggartiasto Lukito, bahkan Akbar Tandjung sendiri.

Menurut Usman Hasan, bersama tim kecil itu Surya telah bertemu dengan sejumlah pengurus Golkar di Aceh, Jawa Timur, Lampung, Banten, Jawa Tengah, dan beberapa daerah lainnya. Tim Surya mengaku disokong oleh 18 dari 30 Golkar tingkat provinsi.

Kepada wartawan TEMPO Tomi Lebang beberapa waktu lalu, Surya mengaku keseriusannya menjadi calon presiden. Soal dana jangan khawatir. "Saya cukup mapan. Semua ini memberi saya dukungan logistik yang besar," katanya. Selain bos perusahaan pers, Surya juga pemilik hotel dan perusahaan jasa katering.

Tapi Surya punya banyak pesaing. Calon lain yang juga rajin bertamu ke daerah adalah Agum Gumelar, Menteri Perhubungan yang juga Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Agum disebut-sebut sudah menemui sejumlah pengurus Golkar daerah. Gerilya Agum ini dibenarkan Akbar Tandjung. "Saya kira beberapa tokoh seperti Pak Agum dan Surya Paloh sudah ketemu dengan beberapa pengurus Golkar daerah," kata Akbar.

Di kalangan Golkar, Agum santer disebut-sebut memiliki tim sukses yang dipimpin Yamin Tawary (Ketua Golkar Maluku Utara). Tim inilah yang menggalang dukungan dan menggelar rapat bersama Agum.

Walau mengaku terkesan dengan figur Agum Gumelar, Yamin Tawary membantah ikut serta dalam tim itu. "Saya tahu Pak Agum mau maju. Tapi, soal tim sukses, saya belum dihubungi," tuturnya. Namun, Yamin mengaku ia kerap bertemu Agum Gumelar untuk membicarakan soal pencalonan tersebut.

Agum Gumelar menampik berita tentang gerilya politiknya itu. "Itu ngawur," ujarnya. Sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas), ia mengaku kerap diundang untuk memberi ceramah di Golkar dan sejumlah lembaga onderbouw-nya.

Dari kalangan pengusaha, muncul Aburizal Bakrie, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Walau nama sudah masuk bursa, menurut juru bicara Aburizal, Mara Satriawangsa, hingga kini bosnya belum menyiapkan tim sukses. Mereka menunggu hasil rapat pimpinan Golkar untuk membahas mekanisme konvensi Golkar yang akan diputuskan akhir pekan ini. Meski begitu, Aburizal yakin dukungan bisa didulang lewat Kadin, yang menyebar di setiap provinsi dan kabupaten. Jika dukungan di Golkar mengental, "Saya tidak akan mundur sedikit pun," kata Mara menirukan Aburizal.

Calon lain yang juga disebut-sebut membentuk tim sukses adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia, kabarnya, telah menunjuk beberapa mantan pentolan Golkar untuk duduk di tim suksesnya. Tapi SBY--begitu nama Susilo biasa disingkat--selalu menjawab diplomatis setiap pertanyaan menyangkut pencalonannya itu diajukan. "Lebih bagus jika saya tidak merespons semua itu, meskipun saya tidak bisa menghentikan, karena itu proses demokratisasi." Ia cuma ketawa ketika ditanya soal tim sukses.

Dari daerah, calon yang disebut-sebut siap berkibar adalah Sultan Hamengku Buwono X. "Kalau memungkinkan, kami akan mencalonkan Sultan sebagai presiden," kata H.M. Sudarmo, Ketua Golkar Yogya. Pengurus Golkar di sana tengah menggodok tim sukses. Tapi, tentang pencalonannya, jawaban Sultan selalu sama: "Silakan tanya ke rakyat, apakah saya pantas dicalonkan," katanya.

Meski gerilya politik telah digelar, tak ada kepastian siapa yang akan dipilih Beringin. Ada kabar, belakangan pengurus Golkar pusat khawatir gerilya para tokoh ke daerah bisa menjadi bola liar. Itulah sebabnya, pekan lalu muncul surat edaran yang melarang para tokoh menggalang dukungan ke daerah-daerah sebelum konvensi diputuskan. "Mungkin pengurus pusat Partai Golkar kebakaran jenggot karena banyak yang mencalonkan Surya Paloh," kata Usman Hasan sesumbar.

Perjalanan para tokoh merebut kursi Beringin memang masih panjang. Jika pun mereka lolos dari konvensi, mereka masih harus bertarung di pemilu presiden 2004. Di sana para petarung akan berhadapan dengan Megawati, yang sedari awal telah dicalonkan PDI Perjuangan. Ada kabar bahwa PDIP bersedia berkongsi dengan Golkar asalkan partai itu mau hanya mengisi kursi wakil presiden. Disebut-sebut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla adalah figur wakil presiden yang disukai Mega.

Di luar Mega, masih ada pula nama Amien Rais yang diusung oleh Partai Amanat Nasional. Meski PAN bukan partai besar, prestasi Amien sebagai king maker tetap harus diperhitungkan. Amien adalah tokoh di belakang naik dan jatuhnya Presiden Abdurrahman Wahid serta diangkatnya Mega sebagai presiden pada 2001 lalu.

Pemilu 2004 memang masih tahun depan dilaksanakan. Gerilya para tokoh adalah pemanasan sebelum pertandingan sebetulnya dilaksanakan.

Wenseslaus Manggut, Abdul Manan, Heru Purnomo (Yogyakarta), Sohirin (Semarang), Nunung Nurhayati (Tempo News Room)

TEMPO Edisi 030504-009/Hal. 31 Rubrik Laporan Utama

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.