Skip to main content

Perkara "Tempo" Mulai Disidangkan

Kamis, 17 April 2003

Jakarta, Kompas - Perkara penganiayaan terhadap Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Bambang Harymurti dan wartawan majalah ini, Ahmad Taufik, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (16/4). Dua terdakwa kasus ini, David Tjiu (45) dan Hidayat Lukman alias Teddy (49), diadili terpisah.
Dalam surat dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Ramdhanu Dwi H mengungkapkan, tanggal 8 Maret 2003 David memaksa atau meminta Bambang Harymurti untuk mengungkapkan identitas sumber berita berjudul "Ada Tomy di Tanabang". Berita tersebut dimuat pada halaman 30 dan 31 majalah Tempo edisi 3 Maret 2003.
"Bambang Harymurti tidak bersedia menyebutkan sumber berita itu. Kemudian, dengan mempergunakan tangan, terdakwa memukul perut Bambang Harymurti satu kali, menendang kakinya satu kali, menepuk-nepuk kepala Bambang Harymurti dengan tangan tiga kali, mendorong Harymurti hingga kacamatanya jatuh," ujar jaksa dalam dakwaannya.
Jaksa penuntut umum mendakwa David melanggar Pasal 335 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang perbuatan tidak menyenangkan. Ancaman hukumannya satu tahun penjara.
Seusai pembacaan dakwaan, Ketua Majelis Hakim Sunaryo memberikan kesempatan kepada terdakwa menyampaikan tanggapan. Atas pertanyaan itu, David menjawab, "Ada yang benar, ada yang tidak."
Namun, David dan penasihat hukumnya, di antaranya Farhat Abbas dan Elza Syarief, bersepakat tidak mengajukan eksepsi. Dengan begitu, sidang yang berlangsung kurang dari 30 menit ini akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi pekan depan.
Sementara itu, dalam persidangan terpisah, Teddy didakwa Jaksa Penuntut Umum M Manik melanggar Pasal 335 KUHP. Pemaksaan dan perbuatan tidak menyenangkan dilakukan Teddy terhadap Ahmad Taufik, wartawan Tempo.
Dakwaan jaksa menyebutkan, Teddy, David, Haris, Yosef, dan beberapa pengunjuk rasa diterima Ahmad Taufik bersama Abdul Manan, karyawan Tempo, di Lantai III Kantor Majalah Tempo, di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, 8 Maret 2003. Dalam pertemuan itu, Teddy menanyakan sumber berita tulisan yang sama dan meminta sumber berita itu segera dihadirkan di sana.
Penjelasan yang diberikan Ahmad Taufik justru ditanggapi Teddy dengan pernyataan yang melecehkan. Teddy juga tampak berlaku lebih jauh. "Terdakwa berdiri, kemudian melemparkan kotak tisu yang terbuat dari kayu ke Ahmad Taufik, tetapi mengenai Abdul Manan sehingga korban lecet berdarah di bagian hidung dan kacamatanya pecah," ujar M Manik dalam dakwaannya.
Keterlibatan Tomy
Farhat, penasihat hukum kedua terdakwa, menepis kesan keterlibatan pengusaha Tomy Winata dalam pengerahan massa yang berbuntut perkara ini. Ketika ditanyai apakah Tomy termasuk saksi yang akan diajukan dalam persidangan selanjutnya, Farhat mengatakan, "Enggak, enggak sampai ke sana."
Kedua terdakwa ini berstatus tahanan kota terhitung sejak 1 April 2003. David maupun Teddy didampingi tim penasihat hukum yang sama. Persidangan kedua terdakwa tersebut dipimpin majelis hakim yang sama.
Seusai sidang, David meninggalkan pengadilan dengan menumpang mobil Toyota Land Cruiser warna hitam dengan nomor polisi B 237 FJ. (DAY)

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.