Skip to main content

Diplomasi Semalam di Kuala Lumpur

BANYAK jalan menuju Roma, salah satunya melalui Malaysia. Pepatah lama yang dipelesetkan itulah mungkin yang diterapkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla dalam mencari penyelesaian damai di Aceh.

Sementara Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono berunding dengan GAM di Jenewa Desember tahun lalu, diam-diam Jusuf membuka jalur diplomasi lain. Bersama beberapa orang Aceh, ia meretas jalan menuju perundingan lain di Kuala Lumpur, Malaysia. Tadinya pertemuan rahasia dengan GAM itu disiapkan untuk mencari formula penyelesaian melalui kompensasi ekonomi pemerintah kepada rakyat Serambi Mekah. Tapi tak sampai terlaksana, perundingan batal karena salah koordinasi.

Koordinasi? Ceritanya berawal pada 20 Mei tahun lalu. Ketika itu di Hotel Kuala Tripa Banda Aceh bertemu Amran Zamzami (bekas Ketua Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh) dengan sejumlah petinggi GAM lokal. Mereka antara lain Sofyan Ibrahim Tiba, Tengku M. Usman, dan Tengku Kamaruzzaman. Pertemuan itu dilakukan untuk membicarakan hasil pertemuan Jenewa yang juga mereka hadiri sepuluh hari sebelumnya.

Dalam pertemuan tersebut, kedua kelompok yang berseberangan kubu politik itu merasa cocok. "Saya yakin, kalau perundingan RI-GAM dilaksanakan dengan baik, 70 persen masalah Aceh bisa selesai," kata Amran.

Dua bulan kemudian, setelah Amran kembali ke Jakarta, Sofyan kembali mengontak. Dalam pembicaraan telepon itu, kedua pihak memberi sinyal agar pertemuan mereka diluaskan: GAM dan wakil RI perlu bertemu di luar jalur resmi perundingan Jenewa. "Pertemuan itu dirancang sebagai second track untuk mewujudkan penyelesaian damai di Aceh," kata Amran.

Amran kemudian membicarakan kemungkinan pertemuan itu dengan sejumlah tokoh Aceh pro-Jakarta. Mereka adalah bekas wartawan Nasrudin Hars, bekas Duta Besar RI di Meksiko Usman Hasan, dan Duta Besar Indonesia di Mesir Bachtiar Aly. Merasa mendapat persetujuan mereka, Amran kemudian menghubungi Jusuf Kalla.

Menteri Jusuf setuju dan pertemuan diam-diam itu diatur. Tempatnya disepakati di Kuala Lumpur pada 6 Maret lalu. Sebagai mediator, Amran dan Nasrudin berangkat lebih awal. Jusuf dengan ditemani seorang kepercayaannya tiba menjelang acara.

Tapi jodoh tampaknya belum datang. Menjelang pertemuan, Nasrudin kembali mengontak Sofyan. Ia menanyakan otoritas rombongan GAM dalam pertemuan itu. Aneh bin ajaib, Sofyan Tiba mengaku datang ke Malaysia dalam kapasitas pribadi. "Padahal beberapa hari sebelumnya dia menjanjikan akan membawa otoritas berunding seperti yang kita inginkan," kata Nasrudin.

Merasa kecele, Amran dan Nasrudin kemudian menghubungi Jusuf Kalla di hotel. "Dengan segala permohonan maaf, kami mohon Bapak tidak usah bertemu karena wakil GAM dalam pertemuan itu tidak kredibel," kata mereka. Jusuf berusaha legawa. "Ya, saya siap. Kita sudah berusaha, jadi Saudara-saudara tidak usah kecewa," katanya.

Kepada TEMPO, Sofyan mengaku bahwa ia memang tak membawa mandat siapa-siapa dalam perundingan itu. "Pertemuan itu memang bukan antara GAM dan pemerintah Indonesia, tapi antara saya dan Jusuf Kalla sebagai sesama orang Kadin," katanya. Sebelum masuk GAM, Sofyan adalah salah seorang pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh.

Sofyan mengatakan ia juga tidak sreg dengan pertemuan itu karena Jusuf tak datang sendiri. Dalam pertemuan itu, rencananya, Menteri Jusuf membawa Duta Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Hadi A. Wayarabi Alhadar, sebagai pendamping.

Juru bicara GAM di Swedia, Zaini Abdullah, membenarkan cerita Sofyan Ibrahim Tiba. "Kami menerima laporan tentang rencana pertemuan tersebut. Yang kami dengar, Jusuf Kalla berniat menjumpai anggota kami, Sofyan Ibrahim Tiba," kata Zaini.

Tercorengkah muka pemerintah Indonesia atas kejadian ini? Jusuf Kalla membantahnya. "Pertemuan itu hanya untuk menjajaki pembicaraan dengan GAM. Jika berhasil, kita kan bisa membicarakan kemungkinan konsesi ekonomi politik," katanya.

Semula terdengar kabar bahwa Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono terpukul atas kejadian tersebut. Soalnya, saat ini Susilo adalah pejabat resmi yang bertanggung jawab atas negosiasi RI dengan GAM.

Tapi desas-desus ini disangkal Menteri Susilo. "Apa yang dilakukan Pak Jusuf Kalla merupakan paket strategi pemerintah untuk menyelesaikan Aceh," katanya.

Walhasil, pertemuan Kuala Lumpur memang tak membawa hasil apa-apa. Jadi, "Anggap saja itu pengalaman kita semalam di Kuala Lumpur," kata Amran Zamzami.

AZ, Abdul Manan, Amal Ihsan (Tempo News Room)

TEMPO Edisi 030427-008/Hal. 28 Rubrik Nasional

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.