Skip to main content

Jacob Menipu Lagi

Mantan Ketua Tim Konsultasi Cendana, Johanes Jacob, menjadi tersangka kasus penipuan.

BAGAIMANA kabar Johanes Jacob? Dari Surabaya terdengar kabar tak enak: mantan Ke tua Tim Konsultasi Cendana (TKC) itu menjadi tersangka dalam kasus penipuan. "Memang ia (Johanes) diperiksa di sini, sebagai tersarigka. Tapi belum ada penahanan," kata Kolonel (Pol.) R.M. Ediana, Kepala Direktorat Serse Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur.

Menurut sumber D&R di Polda Jawa Timur, pemeriksaan Johanes berawal dari pengaduan seorang bernama Fery sekitar dua bulan lalu. Dalam pengaduan itu, Fery mengaku dirugikan Johanes dalam transaksi jual-beli kuda. Uang pembelian sudah disetor, tapi kuda tak kunjung dikirim.

Maka, polisi pun memanggil Johanes. Saat diperiksa, pria kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur, menceritakan soal jual-beli kuda tersebut. Johanes mengaku membuat perjanjian jual-beli dengan Kuo Chu San, pria asal Taiwan. Mengenai orang bernama Fery, ia mengaku tak kenal sama sekali.

Anehnya, perjanjian bisnis itu hanya lisan. "Karena dasarnya saling percaya," ujar Johanes kepada polisi. Rencananya, Johanes menyiapkan seratusan kuda untuk diekspor ke Filipina, dan sebagai imbalannya Kuo Chu San membayar Rp 273 juta. Tapi, uang sudah diterima, kuda-kuda tak dikirim.

Rupanya, Johanes kesulitan memenuhi persyaratan ekspor ternak: mulai dari izin sampai kewajiban mengarantina terlebih dahulu. "Semua itu perlu biaya besar," kata Johanes. Akibatnya, ratusan kuda yang sudah dikumpulkannya dibiarkan terbengkalai di sebuah desa di Wangiapu, Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Belum lagi urusan kuda itu selesai, datang lagi pengaduan Seniwati. Perempuan asal Surabaya itu diduga istri Kuo Chu San, hasil pernikahan bawah tangan. Kali ini pengaduan menyangkut kontrak dengan perusahaan penerbangan Bouraq. Menurut Seniwati, Johanes melanggar kesepakatan dengan suaminya.

Ceritanya, Kuo Chu San dan Johanes bersepakat mencarter pesawat Bouraq untuk penerbangan ke Nusa Tenggara Barat. Johanes akan bertindak mewakili Kuo Chu San meneken kontrak dengan pihak Bouraq. Lalu, kepada Johanes diserahkan uang US$ 60 ribu plus Rp 54 juta, untuk biaya carter pesawat.

Rencananya, pesawat carteran itu akan dipakai pada 15 Maret lalu. Ternyata penerbangan itu dibatalkan. Namun, kata Seniwati, uang carter pesawat tadi tak dikembalikan Johanes. Benar begitu? Kepada polisi, Johanes mengatakan uang itu sudah dikembalikan kepada Kuo Chu San.

* Penipu Ulung

Siapa yang betul? Polisi sendiri masih bingung menghadapi perkara ini. Soalnya, perjanjian yang dilakukan Johanes dan mitra bisnisnya, Kuo Chu San, selalu tanpa bukti tertulis, hanya lisan. Dengan begitu, polisi tak bisa langsung membuktikan kesalahan Johanes.

Perkara ini juga tak cukup kuat menyeret Johanes ke sel tahanan. Dalam kasus jual beli kuda, misalnya, Fery yang melaporkan ternyata bukanlah korban langsung penipuan Johanes. Begitu pula Seniwati, yang melaporkan kasus pesawat carteran Bouraq. Kalau begitu, satu-satunya cara adalah mempertemukan Johanes dan Kuo Chu San, agar duduk soalnya menjadi terang.

Apa pun, perkara-perkara itu menambah daftar kasus penipuan yang diduga pernah dilakukan Johanes Jacob. Cerita-cerita miring itu sempat beredar luas saat ia ditunjuk sebagai Ketua TKC sekaligus kuasa hukum Soeharto, medio Juni 1998. Menurut cerita-cerita itu, sejak remaja Johanes memang dikenal sebagai penipu ulung.

Seorang wanita yang mengaku kakak kelas Johanes di SMA Wangiapu, misalnya, pernah bercerita bahwa sejak remaja Johanes dikenal suka membuat. Saat tinggal di Surabaya, akhir 1960-an, Johanes dikabarkan punya banyak masalah. Konon, kata perempuan sumber D&R tadi, Johanes pernah pula berkongsi bisnis perjalanan dengan Nyonya Eltari, istri Gubernur Nusa Tenggara Timur saat itu. Namun, usaha yang berdomisili di Denpasar itu pun amblas dengan meninggalkan banyak utang. Johanes pun kabur dari Denpasar.

Sejak itu nama Johanes jarang terdengar di kalangan keluarga besar Wangiapu. Entah bagaimana, di pertengahan tabun 1980-an terdengar selentingan kabar Johanes berhasil masuk pergaulan keluarga Cendana. Lalu, Johanes pun mulai sering datang ke NTT, mendatangi para bupati untuk minta sumbangan macam-macam. Karena selalu membawa nama Cendana, para bupati pun segan kepadanya. Belakangan, ia memang diangkat menjadi Ketua TKC. Tugasnya, antara lain, menangkis berbagai hujatan kepada Soeharto dan anggota keluarga Cendana.

Benarkah semua cerita itu? Kepada D&R, Johanes pernah membantah dengan tegas. "Itu sudah risiko. Memang, banyak orang yang tidak suka saya membela Pak Harto," ujarnya saat itu. Namun, jabatan itu pun tak berlangsung lama. Entah apa pasalnya, Johanes tak dipakai lagi oleh keluarga Cendana. Buktinya, dalam tim pembela Soeharto, nama Johanes tak tercantum lagi.

Eh, belakangan, Johanes malah dikabarkan tersangkut perkara penipuan.

Imran Hasibuan/Laporan abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990517-040/Hal. 59 Rubrik Hukum

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.