Akar Konflik Massa NU Ja-Tim

APAKAH NU punya anak kandung berupa partai politik? Kalau punya, apa? PKB semata wayangkah? Jika ya, bagaimana status partai lain yang juga berpanjikan NU? Itulah sederet pertanyaan yang kalau salahsalah menjawab berpotensi mengobarkan pergesekan keras dalam musim kampanye sekarang.

Di Jawa Timur (Ja-Tim) sendiri, yang selama ini merupakan basis utama NU, gesekan itu semakin terasa. Dan yang paling tampak adalah atara PKB dan PPP. Persoalan utama antara PKB dan PPP di Ja-Tim adalah adanya upaya PKB untuk menarik kembali umat NU yang sejak penyederhanaan partai pada tahun 1973 bergabung dengan partai yang kini dipimpin Hamzah Haz itu. Adapun pangkal masalah PKB dengan tiga partai lain yang berbasiskan massa NU juga--PNU, PKU, dan Partai SUNI--kurang lebih serupa.

Klaim sebagai representasi tunggal ini menurut kubu PKB sangat berdasar. Seperti kata Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Wilayah NU Ja-Tim, yang mendukung kelahiran PKB banyak dari pengurus NU. Selain itu, PKB dilahirkan oleh struktur NU dari pengurus besar sampai ranting bawah. "Dengan demikian, amat wajar jika pengurus mendukung. Akan halnya partaiyang lain, mereka lahir sendiri, tanpa membicarakan dengan NU, serta tak jelas visinya," katanya.

Klaim tadi tak jadi masalah besar seandainya perlakuan pengurus NU tetap adil terhadap semua partai yang merangkul umat mereka. Kenyataannya yang terjadi kemudian, menurut Sekretaris PKU Ja-Tim Muhammad Dong, adalah penganakemasan dan penganaktirian. Yang menjadi anak emas PKB. Padahal, ucap dia, klaim PKB sebagai wadah orang NU salah. Karena, itu bukan kepuusan muktamar, tapi keputusan Pengurus Besar NU.

Pada saat pembentukan PKB, kata Muhammad Dong, orang yang sekarang mendirikan PKU dan PNU juga hadir dan menyetujui rencana pendirian partai haru. Hanya, setelah mereka menyampaikan agar akidah organisasi PKB adalah Islam menurut ahlussunah waljamaah, mereka yang di PKB tidak mau. Ini menimbulkan ketidak puasan. Karena itu, lahirlah PNU, PKU, dan sebagainya. "Itu untuk menampung aspirasi umat yang tidak setuju dengan PKB," ucap Muhammad Dong.

Muhammad Dong menilai, Pengurus Besar NU sudah dieksploitasi oleh PKB. Padahal, Khitah 1926 menegaskan NU tidak akan menjadi partai politik. "Ini kan keputusan muktamar," tutur dia sembari mengingatkan bahwa perpecahan sekarang sangat prinsipiil atau ideologis.

Syumili Sadli, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP Ja-Tim, juga menyebut mestinya NU tidak mendukung satu partai tertentu. Sebab, sejak tahun 1984, NU sudah kembali ke Khitah 1926. Syumili mengingatkan, kembali ke khitah-lah yang kemudian memunculkan slogan"NU itu tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana."

Syumili tak mengingkari PKB dibidani NU. "Kalau membidani, itu bisa siapa saja. Beda dengan yang melahirkan. Kalau dilahirkan, itu ada hubungan nasab (darah). Dengan begitu, sebenarnya, tidak boleh orang NU diarahkan ke PKB," ujarnya.

Lalu, apa jawaban PKB terhadap sekeranjang kritik tadi? Fuad Amin Imron, Wakil Ketua PKB, mengatakan partai selain PKB tidak pantas merasa dianaktirik;. "Bukan anaknya, kok, merasa dianaktirikan?" ucap Fuad Amin. Dia juga tidak setuju kalau dikatakan NU melakukan politik belah bambu: yang satu diangkat, yang lain diinjak. "Mereka keluar sendiri, menyebal," ujarnya.

Soal itu bukan keputusan muktamar, Fuad Amin mengatakan, jika menunggu muktamar, pasti tidak bisa ikut pemilihan umum sebab muktamar lima tahun sekali. Konflik ini, kata Fuad, kembali ke soal pribadi. "Masalahnya bukan perbedaan akidah. Mereka hanya ingin menjadi sopir, sekalipun kudanya--maaf--enggak benar," katanya. Jadi, tegas Fuad, ini hanya kepentingan gengsi: ingin jadi sopir.

Has/Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990524-041/Hal. 22 Rubrik Liputan Utama

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO