Skip to main content

Tak Lekang Diterpa Krisis

Krisis yang makin mengimpit tak meminggirkan warung-warung makan pinggir jalan di kota-kota besar. Mereka masih bisa menikmati sisa-sisa rezeki.

MUNGKIN benar kata orang, bisnis makanan tak mengenal krisis. Soalnya, setiap orang--kendati penganggur-tetap membutuhkan makan. Karena itu, tak heran jika di aman krisis yang makin mengimpit ini, penjuai makanan kaki lima masih mampu bertahan, sebagian malah tambah penghasilannya.

Tengok saja dari Kota Medan sampai Ujungpandang dan dari Jakarta sampai Surabaya, penjual makanan dengan berbagai ukuran tenda memenuhi tempat-tempat strategis baik siang maupun malam, dari skala kecil hingga skala besar. Dari pelanggan tukang becak sampai pelanggan tukang insinyur. Menunya sangat beragam begitupun harganya.

Di Yogyakarta bahkan ada menu "nasi kucing" seharga Rp 300. Jangan kaget, menu ini bukan nasi dengan lauk kucing goreng, namun menu belisi nasi sekitar lima sendok nasi dengan lauk teri, sambal pedas, atau oseng-oseng tempe. Disebut "nasi kucing" karena persis menu kucing. Menurut Parmin, yang menekuni usaha ini empat thun lalu, harga sebelum krisis jangan kaget hanya Rp 100. Begitu pula nasi goreng ala Parrnin yang berdagang di Jalan Wates, sebelum krisis harganya hanya Rp 250, kini Rp 500.

Kalau soal adu murah memang Yogya tempatnya (lihat Boks). Tapi, kondisi ini tidak berlaku di Jalan Malioboro, sentra utama warung lesehan. Kalau tidak hati-hati dan menanyakan tarif lebih dulu, bisa-bisa makan nasi gudeg dan paha ayam harus membayar Rp 10 ribu. Kecuali pendatang yang masih tertarik makan sambil duduk-duduk di jalan utama Kota Yogya, mahasiswa dan penduduk tetap cenderung mengerumuni warung "nasi kucing" atau "warung hik", hidangan istimewa kampung. Dari berjualan "nasi kucing" itu, Parmin mampu mengantungi keuntungan Rp 15 ribu per malamnya.

Di Surabaya, para penjual makanan yang banyak berjajar di sepanjang Jalan Kedungdoro, Kertajaya, Semolowan atau Embong Blimbing, misalnya. tak surut dilanda krisis. Walau rata-rata keuntungannya mengalami penurunan, mereka masih mampu bertahan dan menikmati keuntungan. Bu Pari yang membuka warung di sekitar Kertajaya dan berjualan nasi pecel mengaku omzetnya mengalami penurunan. Dulu Bu Pari menghabiskan 15 kilogram beras, namun kini hanya bisa menanak beras sebanyak 10 kilogram. "Tetap ada untung. Sebab, meski krisis, orang kan masih butuh makan," ujarnya.

* Modal Sendiri

Di Jakarta bisnis makanan malah lebih bagus peruntungannya. Warung-warung makan yang tersebar hampir di seluruh penjuru ibu kota ini rata-rata tetap menikmati keuntungan walau berkurang. Contohnya Emiwati, 38 tahun, yang membuka warung makan warisan orang tuanya di depan Bioskop Grand Senen, Jakarta Pusat. Emi yang berjualan nasi dengan aneka lauk masih bisa untung kotor Rp 200 ribu per hari. Memang dulu, keuntungannya bisa lebih bebas lagi.

Nasib pedagang makanan kaki lima ini masih lebih baik dibanding pemilik warung tegal (warteg). enurut Ketua Umum Koperasi Warteg, Sastoro, para pedagang warteg yang kini masih bertahan sebenarnya sekadar bertahan, tanpa ada keuntungan samasekali. Menurut dia, dulu keuntungan pedagang warteg bisa meneapai Rp 300--Rp 400 ribu per hari. Kini bisa mencapai untung Rp 100 ribu saja termasuk lumayan. Menurut Sastoro, dari 26 ribu unggota, yang bangkrut mencapai 35 persen dan kembang kempis 25 persen. "Yang masih bertahan adalah yang memiliki tempat berdagang sendiri, tidak ngontrak sedangkan pedagang makanan kaki lima tidak dibebani dengan mengontrak tempat," ujarnya.

Kendati begitu, toh, sebagian besar warteg masih jalan. Menurut Anggito Abimanyu, ekonom dari Universitas Gadjah Mada pemerhati warung makan kaki lima ini menilai, eksisnya warung makan kaki lima di saat krisis ekonomi saat ini karena adanya limpahan dari level di atasnya. Maksudnya, ketika orang tidak mampu lagi makan di level atas (misalnya di hotel, restoran, fastfood), ia akan makan di level warung makan pinggir jalan atau kaki lima itu.

Orang berusaha membagi duit yang sudah mepet sekarang ini untuk makan sebagai upaya bertahan hidup. Akhirnya tak ada pilihan lain kecuali di warung makan kaki lima. Di samping itu, menurut Mubyarto, Asisten Menteri Koordinator Ekonomi dan Industri Bidang Ekonomi, daya tahan warung makan atau usaha kecil lain cukup kuat karena usaha kecil mengandalkn kekuatan sendiri, tidak mengandalkan modal pinjaman atau utang.

Fadjar Hariyanto/Laporan Eko Yulistyo A,.E, Reko Alum, Silvester Keda (Jakarta), Abdul Manan (Surabaya), Prasetya (Yogya)

D&R, Edisi 990111-022/Hal. 56 Rubrik Bisnis & Ekonomi

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…