Pergulatan Menantang Zaman

Pesantren selalu tumbuh dan tidak ada cerita tutup. Mengapa tetap bertahan, dan apa sebenarnya yang dilakukan?

KRISMON atau tak krismon pesantren jalan terus. Dari lebih 9.000 pesantren rasanya belum pernah terdengar cerita tutup atau bangkrut. Dari sisi kepemimpinan pun pesantren tak pernah kering: ketika kiainya meninggal, generasi berikutnya sudah disiapkan mengemban tugas. Bagaimana ini semua dijaga?

Ini sebuah contoh. Ketika KH. Zarkasyi dan KH. Sahal, dua pemimpin Pesantren Gontor, meninggal pada tahun 1970-an, putra-putra beliau langsung menggantikannya, dan Gontor pun berkembang. Kini, sekitar 100 pesantren di Jawa dan luar Jawapunya hubungan dengm Gontor. Sekarang, pesantren yang telah menjadi "holding " ini dipimpin KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Ketika sekolah modern berkembang dan bertambah banyak, pesantren ternyata tak terpengaruh: tetapi dibanjiri para calon santri. Ada yang beruhah rnernang, cap bahwa pendidikan di pesantren itu "kuno dan dusun" pelan-pelan terkikis oleh perkembangan zaman. Pesantren pun menjadi pilihan setelah sejumlah nama dari pesantren mencuat di pentas nasional. Sebut saja Prof: Dr. Quraish Shihab, K.H. Abdurrahman Wahid, Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Dien Samsuddin, umpamanya.

Berikut, safari sejumlah wartawan D&R dari pesantren ke pesantren.

* Pesantren di Tengah Kota

Di Jakarta, sejak tahun 1960-an sudah ada tiga pesantren yang dikelola dan dibesarkan oleh ulama Betawi sendiri Pertama, Pesantren Asyafi'iyyah di Balimatraman, Manggarai, Jakarta Selatan, didirikan K.H. Abdulah Syafi'i, ayah Dra. Hj. Tuty Alawiyah, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita sekarang. Lalu, Aththahiriyah di Kampungmelayu, Jakarta Timur, didirikan K.H. Thahir Rahili. Dan ketiga, Pesantren Al Ashiratus Syafi'iyyah, Kampungdukuh, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, didirikan K.H. Syafi'i E ladzami, Ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jaya Ibu Kota pun menambah pesantrennya ketika sejumlah santri Betawi pulang dari Gontor dan lain-lain. Mereka mendirikan pesantren-pesantren baru, misalnya Darun Najah di Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan; Darul Rahman di Jalan Senopati, Jakarta Selatan, yang dipimpin K.H. Syukron Makmun; lalu Darul Maarif yang didirikan K.H. Dr. Idham Chalid; Pesantren Alhusnayan yang didirikan K.H. Chalil Ridwan, dan; sebagainya.

Akibatnya, mau tak mau, terjadilah persaingan. Aththahiriyah, misalnya, kini hanya menampung sekitar 100 santri menetap yang berasal dari luar Jakarta. "Sekitar 30 persen santri dari luar Jakarta, seperti Madura, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Timor Timur," kata Hj . Maisaroh Madsuni, wakil pimpinan pesantren yang kini dipimpin mubaligah terkenal Hj. Dra. Suryani Thaher itu. "Prinsip kami bertahan saja. Tempatnya juga terbatas," kata Maisaroh. Pesantren yang memungut Rp 120.000 all in untuk santri yang mondok ini mengandalkan nama besar pendirinya, mantan anggota DPR, serta para pengasuhnya yang lulusan Al Azhar, Mesir. Pendatang baru yang berkembang pesat adalah Ashiddiqiyah. Pesantren ini menerapkan dua konsep: tradisional dan sekaligus modern. Tradisional, dengan ciri mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik dan penekanan ubudiyah, seperti kaharusan tahajud tiap malam. Sementara itu, ciri modern terlihat dalam sistem pendidikannya serta pembiasaan santri menggunakan bahasa Arab dan Inggris.

Bisa dibilang, Ashiddiqiyah yang didirikan di tahun 1985 itu kini menjadi pesantren bergengsi dan terbesar di Jakarta. Jumlah santri sekitar 6.000, belum terhitung santri di cabang-cabang: Batuceper, Karawang, Setu Tangerang, Cijeruk Bogor, dan Purwakarta.

Yang unik, cabang-cabang Ashiddiqiyah punya kekhasannya sendiri. Pesantren di Setu, misalnya, dikhususkan untuk pengajaran kitab salaf. Tidak ada sekolah. Pesantren di Purwakarta yang luas tanahnya 100 hektare akan digunakan untuk pesantren agrobisnis. Sementara itu, cabang yang di Karawang akan dikembangkan menjadi pusat pendidikan yang lebih kompleks lagi. Santri pun tidak hanya datang dari sekitar Jakarta, tapi juga dari Malaysia dan Singapura. Tak terbilang sudah lulusan Ashiddiqiyah yang tertampung di berbagai perguruan tinggi negeri maupun luar negeri, seperti Al Azhar, Mesir. "Ini berkat sistem dan metodologi yang terencana dengan baik," kata K.H. Noer Muhamad Iskandar, S.Q., pemimpin dan pendiri pondok pesantren itu.

Untuk sebuah pendidikan di Jakarta, Ashiddiqiyah termasuk murah. Sebulan, seorang santri hanya dikenakan Rp 125.000. Itu sudah termasuk makan, sekolah, serta asrama. "Kalau lebih dari itu, kasihan mereka. Saya harus pintar-pintar mencari peluang di luar," kata Noer. Caranya, ia mengaku mendapat bantuan dari kawan-kawan. Bantuan pemerintah? Pesantren yang pernah menjadi tuan rumah Muktamar Rabithah Ma'ahidil Islamiyah tahun 1994 dan dihadiri Presiden, hampir-hampir Lak pernah menerima apa pun dari pemerintah.

Sebagai pesantren kota, Ashiddiqiyah punya pengalaman unik. Misalnya, tutur Kiai Noer, suatu hari datang satu keluarga dengan komposisi pakaian yang unik. "Anaknya berkerudung, bapaknya pakai celana pendek, ibunya pakai hot pan, " katanya. "Kami juga menghadapi anak-anak pejabat yang terbiasa dengan disiplin yang kendur di rumah. Ketika menghadapi disiplin pondok, mereka kaget."

Berkembangnya Pesantren Ashiddiqiyah tak bisa lepas dari manajeman yang diterapkan oleh Kiai Noer. Ia sukses membawa nama pesantren hingga koperasi pesantren ke pentas nasional. Dan untuk itu, tahun lalu Kiai Noer memperoleh gelar doktor honoris causa dari American University dalam bidang manajemen pendidikan dan koperasi. Tentang andil besar kiai untuk popularitas pesantrennya, tampaknya relatif. Kiai Noer bercerita, ada pesantren didirikan oleh seorang tokoh, ulama kondang, toh tak berkembang juga sampai sekarang.

Adapun Kiai Noer menyadari benar bahwa pangsa pasar sebuah pesantren adalah masyarakat yang heterogen. "Karena itu, saya harus banyak melakukan hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat untuk bisa memahami keinginan mereka, sehingga kondisi pondok juga harus disesuaikan dengan pangsa pasar," tuturnya mengenai kiat Ashiddiqiyah menjaring santri.

Di luar itu, yang juga diangap penting oleh kiai satu ini adalah soal meningkatkan kualitas dan menciptakan image. Lalu lanjutnya, "Saya ingin agar pondok pesantren tidak dimarginalkan, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakatnya sendiri. Dan, saya harus melakukan pendekatan-pendekatan tidak hanya edukatif, tapi juga struggle mission."

* Pesantren untuk Mujahadah

Sekitar 900 km di timur Jakarta, di ibu kota Jawa Timur, pesantren kota juga berkembang. Pondok Raudhotul Muta'allimin (atau Taman Para Santri) di Surabaya tergolong memiliki ciri khas. Santrinya selalu mengenakan jubah serta peci putih. Wajah mereka, konon, selalu memantul sinar bersih. Pesantren yang terletak di atas tanah kurang dari satu hektare dan berada di tengah permukiman penduduk yang sangat padat ini kini diasuh K.Hr Minanul Rahman, salah seorang putra K.H. Usman Ishaqi (almarhum), pendirinya.

Ketika Kiai Usman yang digelari Syekh Usman Nadi Al Ishaqi pada tahun 1951 mendirikan pesantren ini, santrinya hanyalah warga sekitar yang kebanyakan orang Madura. Baru heberapa tahun kemudian, berdatangan sanlri dari luar. Tapi, sampai sekarang, sebagian besar santri tetap berasal dari Pulau Garam.

Pesantren ini memang sangat khas, khususnya dengan kegiatan pendekatan diri kepada Allah (mujahadah). Ini pantas, karena Kiai Usman adalah mursyid (pemandu) Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Di sini sudah sangal biasa santri membaca manaqib (riwayat hidup) Syekh Abdul Qadir Aljailani, tokoh sufi asal Irak yang masih keturunan Nabi Muhammad. Manaqib itu tersusun dalam karya Syekh Albarzanji dalam bukunya yang sangat terkenal Allujaynud Dani. Bahkan, banyak di antara santri pesantren ini yang hafal luar kepala. Manaqib ini tak asing di lingkungan Nahdlatul Ulama yang biasa dibaca tiap bulan, malam 11 kalender Hijriah. Tujuannya untuk mencari berkah dari sultanul awliya (sultan para wali) itu. Karena itu, dengan kewajiban seperti itu, calon santri di pesantren kota ini seperti terbatasi dengan sendirinya.

"Jumlah santri hanya sekitar 600 orang," kata Kiai Minan. Tapi, jalur tradisional dipilih Kiai Usman bukannya tanpa alasan. Pilihan itu untuk semacam membagi lahan dengan pesantren lain yang sejak tahun 1960an membuka diri dengan mata pelajaran umum dan mengarah pada pondok modern.

Biar Taman Para Santri hanya mampu menyediakan sekolah ibtidaiah (setara SD), sampai kelas 6, mengingat luas lahan yang dimiliki, kulitas belajar-mengajar dipertahankan. "Kitab yang dikaji selalu berganti-ganti. Begitu satu kitab selesai, diganti kitab yang baru. Dalam fikih, misalnya, ada ribuan kitab. Kitab hadis juga begitu," kata Kiai Minan. Kiai ini selalu menganjurkan agar santrinya melanjutkan ke tempat lain.

Keunikan lain pesantren ini adalah profil santrinya yang 90 persen dari keluarga tidak mampu. Ada keluarga tukang becak, tukang ojek, pedagang kecil di pasar. Itulah agaknya yang membuat Kiai Minan tak ingin ngoyo membangun. Di sini tak ada iuran bulanan yang wajib. Juga, tak dikenal uang pangkal. "Asalkan anak mau mengaji, itu sudah untung. Agama itu jangan dikomersialkan. Begitu pesan ayah saya."

Memang ada iuran santri. Menurut seorang santri, tiap bulan dia membayar iuran pesantren sebesar Rp 5.000 (Rp 2.000 untuk uang sekolah madrasah, dan Rp 3.000 untuk listrik). Selebihnya tidak ada. Hanya, jika pesantren memiliki perhelatan, otomatis santri ikut mendukung dengan dana. Misalnya, untuk acara haul K:H. Usman dan ulang tahun pesantren. Dana itu pun tak banyak, tahun ini hanya Rp 5.000.

Dalam hal "ketradisionalan"-nya, Raudhotul Muta'allimin hanya diimbangi Pesantren Salafiyah di Pasuruan, masih di Jawa Timur. Di Salafiyah, kegiatan santri tercatat sejak subuh: mengaji, sekolah, salat, serta melakukan mujahadah. Otomatis, kegiatan itu menciptakan suasana khusyuk.

Juga di malam hari, selepas isya, ketika acara membaca managib, gemuruh yang terdengar adalah keramaian yang syahdu. Khusus hari Senin, acara lepas isya itu diisi dengan pembacaan burdah (puji-pujian untuk Nabi Muhammad S.A.W., yang ditulis oleh Imam Albushiri). Kamis malam diisi pembacaan tahlil. Salat berjamaah menjadi kewajiban di sini. Setiap akan salat, santri diabsen oleh ustadnya secara ketat.

Soal baju jubah putih yang selalu dikenakan santrinya itu tak lain untuk mendisplinkan santri pada baju yang dikenakan Rasulullah. Itu pun hanya diwajibkan untuk salat, atau kegiatan pesantren. "Warna putih itu enak dipandang," komentar Kiai Minan.

Seperti layaknya pesantren lain, di sini peraturan juga berlaku ketat. Izin keluar pesantren hanya diberikan pada hari Jumat, yang biasanya digunakan untuk salat Jumat di Masjid Ampel, yang jaraknya tak sampai satu kilometer. Mereka harus kembali paling lambat pukul 14.00. Untuk keperluan lain, tidak ada toleransi. Sebab, semua kebutuhan sehari-hari santri sudah tersedia di areal pesantren, mulai warung makan, wartel, hingga toko buku.

* Dibangun oleh Santri Sendiri

Nun di provinsi sisi barat, adalah pesantren kuno yang hampir seabad usianya. Pesantren Almusthafawiyah sangat dikenal di Sumatra Utara karena lulusannya yang telah menyebar ke mana-mana. Pesantren ini didirikan Syekh Musthafa Husein Nasution, di Desa Purbabaru, Kecamatan Kotanopan, Tapanuli Selatan, sekitar 12 jam perjalanan dari Medan. Di lahan seluas 10 hektare itu saat ini dihuni sekitar 6.000 santri. Tercatat asal santri antara lain Malaysia dan Singapura. Di bulan Ramadan ini pesantren libur panjang.

Syekh Musthafa, sang pendiri, yang belajar ilmu agama selama 13 tahun di Makkah itu meninggal pada November 1955. Pimpinan pesantren berpindah kepada anak lelaki tertuanya, H. Abdullah Musthafa. Warisan yang ditinggalkan hanya satu unit bangunan papan dengan enam ruangan kelasnya.

Ternyata, jumlah santri yang ingin memperdalam ilmu agama semakin meningkat dari tahun ke tahun, apalagi Almusthafawiyah mulai menerima santriwati. Karena itu, Haji Abdullah Musthafa pun membeli tanah di lokasi Kampung Tengah Purbabaru dan membangun tiga ruang belajar darurat. Ruang belajar itu hanya berdinding bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. "Herannya, jumlah santri yang ingin belajar bukannya tambah surut malah bertambah banyak," tutur Hajjah Zahara Hanum Lubis, istri H. Abdullah Musthafa Nasution (almarhum) yang mengelola asrama putri.

Pada tahun 1960 dibangun lagi satu unit gedung dengan sepuluh ruang belajar. Kali ini bangunannya sudah semipermanen. Pada tahun 1962, ruang belajar yang dibangun dari sumbangan para orang tua santri berupa sekeping papan dan selembar seng setiap orangnya ditambah tabungan H. Abdullah Musthafa Nasution itu selesai. Bangunan ini diresmikan Jenderal Purnawirawan Abdul Haris Nasution.

H. Abdullah Musthafa meninggalkan sejumlah aset pesantren berupa bangunan megah, tempat 6.000 orang santri dan santriwati menuntut ilmu. Pesantren Musthafawiyah yang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Purbabaru itu kini memiliki banyak fasilitas, antara lain tiga unit gedung belajar dengan masing-masing 16 ruang belajar yang terletak di lokasi tengah yang sebagian dananya dari bantuan masyarakat dan Pemda Tapanuli Selatan, satu unit asrama putri berlantai dua dengan 20 kamar yang masing-masing dihuni sedikitnya 60 orang santriwati, satu unit warung serba ada yang dikelola para santri, dua unit rumah pegawai, dan sebagaunya.

Di lahan enam hektare ini, para santri dilatih kemandiriannya dengan membangun pondok tempat tinggal mereka. Ribuan pondok yang terhampar di Desa Purbabaru ini menjadi pemandangan unik di jalan lintas Sumatra. Ada yang merupakan bangun sederhana dengan atap rumbia dan dinding papan, tapi ada juga yang membangun dengan model mutakhir, bahkan tak sedikit yang bertingkat dua atau tiga. Yang menarik, walau mereka bangun dengan model mutakhir, tetap dengan penerangan lampu sumbu dan beralaskan tikar pandan. Bukannya mereka tak sanggup membeli, tapi soal kepraktisan saja. Para santri tidak mau repot harus membawa-bawa seluruh harta bendanya saat liburan panjang. Sebab, ketika liburan, seluruh pondok dibiarkan terbuka takterkunci.

Untuk mendapatkan pondok tidak gratis. Ada sistem sewa kapling dengan membayar dua tabung beras per semesternya (satu tabung beras sama dengan empat kilogram) untuk setiap santri. Dan pembayaran itu diberikan kepada penduduk yang memiliki tanah. Sewa kapling tanah itu dilakukan karenajumlah pondok yang berdiri sudah melebihi areal yang enam hektare itu. Tetapi, banyak juga santri baru yang tidak membangun pondok; mereka membeli dari santri yang lulus.

Hal lain yang kerap menjadi perhatian adalah bila mereka sedang mandi di Sungai Batang Gadis yang terhampar mengelilingi ribuan pondok tersebut. Maka, jubah-jubah mereka yang putih itu pun mulai memenuhi batu-batu sungai. Tapi, itu pula yang menjadi kebahagiaan tersendiri buat para santri. Hidup bersama alam dan kemandirian.

Berbeda dengan para santri putra yang hidup dalam kemandirian, santri putri harus tinggal di asrama. Mereka justru tidak pernah memasak makanan sendiri. Namun, menurut Hj. Zahara Hanum, dengan kondisi saat ini, pihak asrama tidak dapat lagi memenuhinya. Saat ini setiap penghuni asrama putri diwajibkan membayar 4,5 tabung beras setiap bulan (sama dengan 18 kilogram beras), dan memasak sendiri. "Untuk lauknya mereka membeli," kata Hj. Zahara yang berjanji jika keadaan ekonomi sudah agak membaik, para santri tak perlu lagi membeli lauk. "Kasihan mereka," katanya.

Tapi sebenarnya, para santri putri punya peluang mendapatkan uang. Di asrama mereka memperoleh banyak keterampilan dari menyulam taplak meja hingga menjahit dan membordir mukena. Produk itu dijual ketika mereka kembali ke kampung halaman atau kepada penduduk setempat.

Uang pendidikan di pesantren hanya Rp 7.500, itu sudah termasuk uang asrama, bagi santri wanita. Bila ada saudaranya menjadi santri, ada hitungan lain. Anak tertua dikenakan biaya penuh, sedangkan anak kedua mendapat potongan separonya, menjadi Rp 3.750. Jika ada adiknya lagi, tidak dikenakan biaya lagi. Gratis juga dikenakan pada santri anak guru dan yatim piatu. Tapi, biaya makan dihitung sendiri.

Lama pendidikan di sini tujuh tahun, dari kelas satu sampai kelas tujuh. Setahun pertama digunakan untuk pengenalan Alquran dan belajar memhaca ejaan Arab yang merupakan bahasa wajib di pesantren ini. Jumlah staf pengajar tercatat 150 orang, berasal dari berbagai pendidikan di luar negeri, khususnya dari Kairo, India, dan Makkah. Jumlah staf pengajar itu tentu tidak sepadan dengan jumlah santri yang ribuan. Untuk itu Departemen P dan K Sumatra Utara menempatkan gurunya di sana. "Mereka harus alumni IAIN serta mampu berbahasa Arab," Zahara menjelaskan.

Hanya, karena besarnya biaya pengelolaan yang tidak sebanding dengan jumlah uang yang diterima dari para santri, itu menyebabkan pesantren Al-Musthafawiyah masih mendapatkan subsidi dari Pemda Tingkat II Tapanuli Selatan.

* Pesantren Tua di Kediri

Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, juga merupakan wajah pesantren tradisional yang sangat terkenal. Pesantren yang didirikan K.H. Ahdul Karim, pada tahun 1910 M itu memanfaatkan tanah seluas 11,05 hektare, di Mojoroto, Kodya Kediri. Dengan jumlah santri mencapai 7.600 santri, tak pelak jika pesantren ini termasuk salah satu pesantren besar. Pesantren ini tercatat membesar setelah dipimpin duet K.H. Marzuki dan K.H. Machrus Ali. Kiai Marzuki mengasuh urusan dalam pesantren, sedangkan Kiai Machrus bertindak sebagai public relation.

Kini, pesantren ini dipimpin trio ulama dengan masing-masing memiliki kelebihan. K.H. Idris Marzuki, sebagai sesepuh yang mengurus dalam pesantren, dibantu K.H. Imam Machrus. Lalu, K.H. Ma'shum Jauhari banyak bergerak di luar pesantren.

Pesantren ini di samping memiliki lembaga pendidikan nonformal (salaf), juga memiliki beberapa madrasah. Antara lain, madrasah persiapan (i'dadiyah), Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) yang terdiri dari madrasah ibtidaiah (6 tahun), madrasah tsanawiyah (3 tahun), madrasah aliyah (3 tahun), dan Madrasah Murottilil Quran (MMQ). Lirboyo juga punya lembaga pendidikan formal, yang berada di bawah naungan Yayasan Tribakti, dari TK, tsanawiyah, aliyah, hingga Institut Agama Islam (IAI) Tribakti. Letak perguruan itu agaknya dari lingkungan pesantren.

Asrama santri di Lirboyo cukup sederhana. Model dan letak bangunannya tidak teratur sehingga terkesan semrawut. Hanya asrama yang dibangun belakangan ini yang dibangun bagus. Menurut Jamaluddin Nawawi, Bagian Penerangan Pesantren, beberapa kamar yang luasnya hanya 1 kali 1. meter hanya dipakai untuk menyimpan kopor. Untuk tidur, para santri memanfaatkan masjid, dan ruang-ruang lain.

Di sini santri dikelompokkan berdasarkan asal daerah--menurut Jamaluddin agar mereka mudah betah. Di pesantren ini semua kebutuhan santri terpenuhi. Di pesantren ada toko kelontong, warung, hingga wartel. Karena itu, santri "diharamkan" keluar pesantren. Jangan coba-coba nekat keluar malam jika tak ingin ditakzir (hukum) gundul dan disiram air comberan. "Biar jera," kata salah seorang santri. Dan kalau ada yang ketahuan pacaran, diusir. Mereka dilarang membawa majalah dan radio. Yang berusia di bawah 20 tahun dilarang merokok.

Menurut K.H. Ma'shum Jauhari, salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo, salah satu kelebihan pesantren ini adalah para pembinaan akhlak. "Dalam mencetak kader yang berkarakter (caracter building), itu hanya didapat di pesantren-pesantren salafiyah," katanya Kelebihan lain, pendidikan kemasyarakatan Karena itu, kata kiai yang jago silat ini, pesantren tak pernah takut berhadapan dengan masa depannya. "Di Pondok juga diajarkan tentang hortikultura, peternakan, dan ketrampilan lain, termasuk menjahit, secara komplet."

Pendidikan komplet, mungkin itulah penyebab pondok pesantren seperti tak lekang ditimpa panas, tak lapuk ditimpa debu

M.H./Laporan: Edrin Adriansyah (Medan), Multa Fidrus, Budi Nugroho (Jakarta), Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990118-023/Hal. 17 Rubrik Liputan Utama

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO