MUDIK, Aman dalam Tanda Kutip

Kepolisian mengerahkan personelnya habis-habisan, tapi taka ada jaminan mudik aman seratus persen.

SEORANG penumpang kereta api tewas. Lemparan batu dari luar, memecahkan kaca jendela kereta, lalu menghantam kepala penumpang tersebut. Ini cerita sedih, juga sebuah peringatan buat para pemudik lebaran dengan kereta hari-hari ini. Ada usul, dari karikaturis D&R, Bung Priyanto, para pemudik dengan kereta api silakan memakai helm, menjaga kepala dari batu yang tak diundang, dan tentu tanpa karcis (lihat karikatur).

Mudik, tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun lalu memang bermasalah. Justru, di masa yang disebut sebagai reformasi, mudik tidak aman --baik dengan kereta, bus, apalagi kendaraan pribadi. Bahkan, dengan angkutan laut pun, kabarnya di pelabuhannya banyak pemalak yang siap minta uang dengan ancaman.

Tapi, di zaman hak-hak asasi manusia mulai diperhatikan, melarang orang mudik tentu saja bertentangan dengan hak itu. Juga, salah-salah bisa dituduh melecehkan agama; bukankah mudik bagian dari Idul Fitri, untuk ketemu keluarga di kampung dan bermaaf-maafan?

Bijaksanalah F.X. Sunarno dari Direktorat Lalu Lintas Ke-polisian Daerah Jawa Timur. Ia punya tiga nasihat untuk para sopir truk yang sering bolak-balik mengangkut barang antarkota, dan nasihat ini berlaku juga buat para pemudik lebaran.

Pertama, jangan mudik sendirian. Kedua, pada waktu istirahat di jalan, hendaknya juga bersama rombongan. Ketiga, hati-hati menerima tumpangan.

Memang, laporan berbagai media massa tentang keamanan jalan darat di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa begitu menggentarkan. Seorang bapak yang pekan lalu berkendaraan pribadi dari Surabaya ke Jakarta, harus mengikhlaskan sekitar Rp 200.000 untuk para pemalak sepanjang jalan pantai utara. Ia masih terhiutng untung. Menurut kabar, beberapa orang malah dirampas mobilnya.

Lo, bukankah pihak kepolisian sudah menjamin keamanan, bahkan sudah ada instruksi tembak di tempat terhadap para pelaku kejahatan jika memang kondisi memaksa? Begitu tanya Anda yang ngebet mudik. Harap diketahui, yang harus dijaga adalah jalur mudik mulai dari Sumatra Selatan sampai ke ujung Ja-Tim. Nah, sudah jelas tak mungkin penjagaan ketat, karena jumlah aparat terbatas.

Dan menurut Kepala Dinas Penerangan Markas Besar Kepolisian RI Brigadir Jenderal Togar Sianipar, para penjahat itu tidak ngetem di satu tempat. Penjahat yang biasa beroperasi di Cirebon, Jawa Barat (Ja-Bar), sekali waktu bisa pindah ke wilayah Jawa Tengah (Ja-Teng).

Tapi sedikit ununglah, polisi tak hanya pasif. Kepolisian Daerah Ja-Teng melaporkan, sampai pekan lalu pihaknya sudah menangkap 56 pelaku kejahatan dan 30-an lagi masih menjadi tget operasi. Menurut identifikasi polisi, para penjahat itu sudah diorganisasi rapi dan terbagi dalam "regu-regu" lima sampai sepuluh orang. Mereka membawa telepon genggam dan handie-talkie. Beberapa di antara mereka bahkan dicurigai membawa senjata api.

Karena penjahat berpindah-pindah, informasi bahwa kejahatan sering terjadi di tempat-tempat tertentu, mungkin tak berguna. Tapi boleh juga dicatat, sekadar buat pegangan. Untuk Ja-Bar, yang rawan jalur Karawang, Cirebon, dan Tasikmalaya. Untuk Ja-Teng harus diwaspadai daerah Rembang, Juwana, Gombel, Kendal, dan Subah (Batang). Untuk Ja-Tim, daerah yang dianggap rawan adalah jalur Tuban-Lamongan-Gresik-Surabaya-Sidoarjo.

Mengantisipasi kondisi itu, Polda Ja-Teng mengatakan telah menerjunkan "pasukan siluman" di jalur pantai utara. Ini bukan pasukan jin, melainkan anggota polisi yang menyamar sebagai penumpang angkutan umum dan ditempatkan di berbagai daerah rawan kejahatan. Mereka dibekali perintah, jika perlu, melakukan tembak di tempat terhadap pelaku aksi kejahatan yang brutal di sepanjang jalur Losari (Brebes) sampai Blora.

* Iming-Iming

Itulah perintah Kepala Polda Ja-Teng Mayor Jenderal Nurfaizi, "Agar para penjahat jera, masyarakat tidak resah, dan pemudik merasa aman di perjalanan." Kapolda itu menambahkan, sebenarnya jalur pantai utara di Ja-Teng relatif aman. Kejahatan yang banyak terjadi dan mencuat akhir-akhir ini lebih banyak berlangsung di Ja-Bar, sekitar perbatasan Brebes-Cirebon.

Benar? "Itu hanya berita di koran," kata Istanto, Kepala Dinas Penerangan Polda Ja-Bar, kepada D&R. Ditambahkannya, kasus pembegalan dan pemalakan sebenarnya tidak banyak, tapi terlalu dibesar-besarkan media massa.

Tindakan kejahatan di jalur pantai utara dalam setengah tahun terakhir tercatat tak lebih dari 60 kasus. Berarti, tiap bulan "hanya" sepuluh kasus atau setiap tiga hari hanya satu kasus. Itu pun tidak seluruhnya murni pembegalan. Suara Pembaruan, mengutip Kepala Polda Ja-Bar Mayor Jenderal Chairuddin Ismail, menyinyalir dalam sebagian kasus yang pelakunya tertangkap, ada kerja sama antara sopir atau kernet dan pelaku pembegalan untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar.

Logikanya: jika pembegalan itu begitu banyak seperti diberitakan media massa, mengapa hanya sedikit kasus yang dilaporkan ke polisi. Sebagian pengemudi angkutan umum juga menduga, sebagian begal itu adalah bekas sopir juga sehingga mengenal jalur yang dilewati dengan baik.

Tapi, itu kan sebelum suasana mudik berlangsung. Bila sepanjang jalan antre kendaraan umum dan pribadi, dan sudah terang para pemudik diduga berbekal cukup uang, bukankah ini bagaikan gula mengundang semut?

Apalagi Istanto mengakui, kendala yang dihadapi polisi adalah jalur di daerah ini terlalu panjang. Kondisi Ja-Bar juga berbeda dengan Ja-Teng, yang kantor polisinya terletak persis di pinggir jalan sehingga memudahkan pengawasan. Di Ja-Bar, banyak kantor polisinya jauh dari pinggir jalan utama.

Tapi, masalah pembegalan tampaknya memang serius. Buktinya, Nurfaizi sampai memberi "iming-iming" hadiah uang bagi anggota polisi yang berhasil membekuk begal. Mungkin, itu untuk tambahan semangat bagi polisi yang bertugas di lapangan.

Nurfaizi pada 11 Januari lalu, di Markas Kepolisian Resor (Polres) Kudus, telah memberikan hadiah Rp 3 juta ke tim gabungan polda, polwil, dan Polres Rembang yang berhasil membekuk empat tersangka perampasan truk. Kasus itu terjadi pada 9 Januari lalu di dekat Rumah Makan Mitra, Kragan, Rembang.

* Menyamar Jadi Polisi

Yayat, 29 tahun, dan Sunanjar, 26 tahun, saat itu sedang istirahat sambil mengobrol. Mendadak, sopir dan kemet truk itu dihampiri empat orang yang mengaku polisi. Tiba-tiba, salah satu "polisi" itu menodongkan senjata tajam. Mereka mengikat tangan dan menutup mulut keduanya. Yayat dan Sunanjar segera paham, polisi itu adalah para begalyang selama ini ditakuti.

Yayat dan Sunanjar masih "untung" karena masih hidup meski sempat dibuang ke Tuban, dianiaya selama dalam perjalanan, dan dirampas truknya. Pemilik warung yang melihat aksi pembegalan itu segera melapor ke Polwil Pati sehingga Yayat dan Sunanjar dapat diselamatkan polisi. Empat begal itu kemudian juga dapat diringkus polisi. Truk beserta barang bawaan juga diselamatkan. Tiga begal ternyata berasal dari Surabaya dan satu dari Tuban.

Polda Ja-Teng mengidentifikasi, untuk Ja-Teng bagian timur, pelaku kejahatan biasanya berasal dari Ja-Tim. Untuk Ja-Teng bagian barat, pelakunya berasal dari Losari, Cirebon. Baru-baru ini petugas telah menembak lima penjahat di Batang-Pekalongan dan dua lagi ditembak di Rembang. "Barangkali ada yang meninggal karena tembakan, tapi saya belum mengecek lagi," ujar Nurfaizi kepada wartawan.

Markas Polda Ja-Tim sementara ini melaporkan telah menangkap enam pelaku perampasan atau bajing loncat; dan diperiksa intensif di Polres Tuban. Untuk pengamanan jalur pantai utara, Polda Ja-Tim dibantu satuan polisi pusat dari pasukan elite Gegana Markas Besar Kepolisian RI, yang jumlahnya lebih dari satu peleton.

Untuk daerah rawan itu memang ada operasi khusus, yakni diterjunkannya pasukan Brigade Mobil. Menurut Sunarno, dalam operasi ini, Polda Ja-Tim menurunkan 11.915 personelnya, dari semua polisi di wilayahnya. Itu berarti separo dari seluruh jumlah personel polisi di Ja-Tim, yang totalnya 23.830 personel. Pihak kepolisian tampaknya memang tidak main-main dan tidak mau ambil risiko dalam pengamanan mudik ini.

Untuk Operasi Ketupat Semeru, polda itu juga dibantu 1.006 personel ABRI dan 999 personel "potensial masyarakat", yang terdiri dari Pertahanan Sipil dan sebagainya. Juga ada 991 personel dari lintas sektoral, seperti Dinas Lalu Lintas Jalan Raya dan Dinas Kesehatan. Polda Ja-Tim juga menyiapkan 221 pos komando taktis dan tiga pos simpatik, yang tersebar di berbagai polwil.

Namun, Istanto mengatakan, pada akhimya rasa aman itu terpulang ke masyarakat sendiri. "Misalnya, kalau melihat sesuatu yang mencurigakan, langsung lapor saja!" katanya. Kesimpulannya: jalur mudik memang "aman"--dalam tanda kutip.

S.A./Laporan Aendra H. Medita (Bandung), Abdul Manan (Surabaya), Blontank Poer (Solo) , dan Koresponden Semarang

D&R, Edisi 990118-023/Hal. 60 Rubrik Daerah

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO