Harga Naik kendati Permintaan Turun

Tidak biasanya harga semen naik di pengujung tahun. Benarkah karena harga ekspor turun, produsen mencari kompensasi di pasar domestik?

PRODUSEN semen Indonesia unjuk gigi. Secara serentak sejak awal November lalu, harga semen di Indonesia mengalami kenaikan. Tidak merata memang, tergantung pada tiaptiap produsen. Tapi, sembilan anggota Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menikmati kenaikan sebesar 18 persen. Naiknya harga semen mungkin bukan berita luar biasa karena komoditas ini sudah lama dikenal paling gampang naik-turun. Namun, kenaikan kali ini agak mengherankan mengingat lonjakan itu justru terjadi di musim hujan saat konsumsi semen biasanya menurun.

Mengapa? Direktur Industri Kimia Anorganik Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Ida Bagus Agra Kusuma, mengatakan melonjaknya harga semen disebabkan beberapa hal, terutama komponen produksi mengalami kenaikan ongkos. Sebelumnya, produsen menggunakan komponen yang dibeli dengan kurs lama dan saat ini stok sudah habis sehingga memaksa produsen membeli komponen baru dengan kurs dolar yang lebih tinggi.

Tanpa bersedia menyebutkan harga komponen, Wakil Sekjen ASI Tjipto Winoto mengatakan, peralatan yang rutin harus diganti minimal dua kali setahun adalah grinding stone, untuk pemecah batu, dan ballaz, alat menghaluskan bahan baku.

Nah, kendati dalam produksi semen terdapat komponen lokal seperti batu bara, kertas semen, dan batu kapur, itu semua harus dibeli dalam dolar. Bambang Subroto, Kepala Hubungan Masyarakat PT Semen Gresik, pun mengakui. "Ada kenaikan cukup besar, yang dari awalnya 10 persen sekarang menjadi 25 persen. Kenaikan ini termasuk bahan-bahan baku yang masih diimpor seperti gips, pasir silika, dan pasir besi," ujarnya.

Sebab yang lain, biaya distribusi khususnya yang menggunakan angkutan laut juga mengalami kenaikan karena menggunakan tarif dolar.

Menaikkan harga semen semestinya sudah dilakukan produsen sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada Juli 1997 lalu. Namun, karena pemasaran ekspor relatif baik terutama karena besarnya selisih nilai kurs dolar, rencana menaikkan harga semen domestik ditunda. "Tingginya nilai dolar membawa dampak positif terhadap penjualan semen ekspor sehingga mampu menyubsidi penjualan di dalam negeri yang anjlok sampai 20 persen," ujar seorang eksekutif pabrik semen.

Sejumlah pedagang, baik di Jawa maupun di luar Jawa, yakin harga semen masih bisa menanjak. Prediksi itu berdasarkan fakta makin berkurangnya pasokan semen dari pabrik atau dari distributor ke pengecer. Ini juga karena animo masyarakat konsumen menurun. Misalnya Ny. Franki, pengecer semen di Pasar Hamadi, Jayapura, menyebutkan, ia hanya untung Rp 250 dari selisih beli Rp 24.750 dan dijual seharga Rp 25 ribu.

Kenaikan harga jual semen ini semata hanya untuk mengimbangi naiknya biaya produksi semen sebesar 40 persen. Terutama akibat naiknya suku cadang dan bahan baku semen impor. "Kami tidak mungkin lagi mempertahankan harga jual lama, karena penerimaan dari ekspor sudah mulai menurun. Jika harga tidak dinaikkan, bisa-bisa perusahaan mengalami kerugian," ujar eksekutif tadi.

* HPS Telah Dihapus

Dibanding dengan harga barang lain, kata Tjipto, harga semen naiknya belum sampai dua kali lipat. Sebelum krisis moneter, harga semen berkisar Rp 9.500 per sak dan sekarang di Jakarta mencapai sekitar Rp 17.500 per sak. Barangkali benar, sebelum krisis moneter, harga semen berkisar Rp 9.500 per sak. Kini harga semen di Jakarta mencapai sekitar Rp 17.500 per sak.

Baik Agra maupun Tjipto menyebutkan bahwa pemerintah saat ini sudah tidak lagi mengatur menentukan harga semen. "Harga semen diserahkan sepenuhnya ke pabrik," ujar Agra. Harga semen yang tidak menentu sekarang ini tidak ada urusannya dengan ASI. "Mekanisme pasar sekarang yang menentukannya sejak harga patokan semen (HPS) dicabut," ujar Tjipto lagi.

Ketika HPS masih belum dicabut, ASI memang terlibat ikut memantau harga meskipun pengaruh pasar tetap saja sangat menentukan. Bahkan, saat pemerintah melakukan pembatasan ekspor semen pun, harga tetap juga naik. Sebab, saat itu pembangunan berbagai proyek hampir tak pernah berhenti. Misalnya saja pembangunan jalan tol, bendungan besar, dan berbagai pabrik. Tentu saja kondisi ini lak terulang karena sekarang zaman susah. Secara psikologis, kata Agra, daya beli masyarakat makin melemah, proyek besar tidak ada, dolar melejit, jadi produksi turun. "Itu kan logis," kata Agra.

Fadjar Hariyanto/Laporan Abdul Manan (Surabaya), Budi Nugroho. Titi A.S. (Jakarta), dan H. A. Ondi (Jayapura)

D&R, Edisi 981121-014/Hal. 56 Rubrik Bisnis & Ekonomi

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO