Kenapa Beras Mahal?

Harga beras terus membumbung di berbagai daerah. Distribusi yang seret atau pasokan makin tipis?

RAMALAN Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Food Organization bahwa akan terjadi bencana kelaparan di Indonesia memang belum terbukti. Walau ancaman itu masih ada, yakni sekitar 7,5 juta jiwa diperkirakan akan kekurangan pangan dan 500 juta di antaranya akan menderita kelaparan akut, setidaknya tanda-tanda itu belum tampak betul. Gagal panen karena kekeringan setahun ini, dasar perkiraan FAO, tampaknya bisa diatasi dari impor beras, walau agak sulit bagi pemerintah untuk menyediakan dana.

Produksi beras yang kurang, kenaikan harga dasar gabah dari Rp 700 menjadi Rp 1.000, dan hancurnya sektor distribusi karena kerusuhan pada pertengahan Mei lalu, belakangan, telah membumbungkan harga beras. Di Jakarta, harga beras memang bisa segera ditekan dengan operasi pasar, namun di berbagai daerah, kenaikan harga beras tak bisa dibendung. "Saat ini memang tidak ada beras bermutu baik dengan harga di bawah Rp 2.000 per kilogram," ujar H.M. Koelyani, Ketua Persatuan Pedagang Beras, Pasar Dargo, Semarang.

Di Semarang, harga beras lokal, yakni jenis menthik dan sedani seharga Rp 2. 700, C4 Rp 2.400, dan rojolele Rp 3.000 hingga Rp 3.500 per kilogram. Menurut Koelyani, harga di atas Rp 2.000 per kilogram itu di Jawa Tengah sudah terhitung mahal dan sama sekali tak terbeli rakyat kecil.

Kenaikan serupa terjadi juga di Surabaya. Harga beras di sana juga melambung hingga di atas Rp 2.000. Misalnya di Pasar Bendul Merisi, beras jenis IR yang banyak dikonsumsi masyarakat sudah seharga Rp 2.300 per kilogram. Di Surabaya, beras kualitas bagus seperti rojolele harganya sudah di atas Rp 3.000 -harga yang tak mungkin dijangkau buruh di Pelabuhan Tanjungperak. Kenaikan harga itu juga terjadi di mana-mana, termasuk di Ujungpandang.

Para pedagang beras di Surabaya menuduh kenaikan harga dasar gabah sebagai penyebab naiknya harga beras. Anggapan ini tak seluruhnya benar, karena harga beras di Jakarta tak semahal di daerah. Di Pasar Induk Beras cipinang, Jakarta, misalnya, harga beras yang biasa dikonsumsi masyarakat banyak, seperti C4 dan IR, sudah turun jadi Rp 1.900.

Perbedaan harga di Jakarta dan daerah ini yang membuat Adi Susono, Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, terheran-heran. Pada acara diskusi panel di Universitas Diponegoro, Semarang, pertengahan Juni lalu, Adi menduga timpangnya harga ini karena buruknya distribusi beras di daerah. "Jika jalur distribusi bisa dipangkas, harga bisa turun lagi," katanya.

Menurut Adi, masalah serupa juga terjadi di sektor distribusi gula. Dari produsen, harga gula hanya Rp 1.400 per kilogram, namun harga itu sudah berlipat hampir dua kalinya, yakni Rp 2.700 kelika sampai di tangan konsumen. "Di Jakarta, pemangkasan jalur distribusi sudah dilakukan sehingga harga turun," ujarnya.

Harga beras di Jakarta memang sudah turun sejak Depot Logistik Daerah Khusus Ibu Kota melakukan operasi pasar dengan memasok beras impor dari vietnam, Pakistan, dan Thailand dengan harga jauh di bawah harga beras lokal. Beras asal vietnam, misalnya, dijual dengan harga Rp 1.775 per kilogramnya. Sebelumnya, harga beras di Jakarta juga ikut melambung hingga Rp 2.100 per
kilogram.

* Stok Menipis

Menurut Suherman Dinata, Direktur C.V. Alam Makmur, kenaikan harga beras beberapa waktu lalu karena adanya kabar bahwa pemerintah akan menaikkan lagi harga dasar gabah menjadi Rp 1.500 per kilogramnya. Akibatnya, para pedagang segera menaikkan harga beras dan para petani menahan melepas gabahnya. Stok beras di pasar yang sudah tipis jadi lebih tipis lagi. Buntutnya, harga makin naik.

Suherman mengakui, stok beras milik para pedagang di Jakarta sekarang ini memang tak sebanyak dulu. C.V Alam Mukmur, perusahaan perdagangan beras besar d Pasar cipinang, yang tahun lalu bisa menyimpan beras 1.000 hingga 2.000 ton di gudang, saat ini hanya memiliki 500 ton. Menurut Suherman, langkanya pasokan beras ini di samping karena banyak panen gagal, juga karena masalah distribusi. Gara-gara Kerusuhan 14 Mei, jalur distribusi hancur. Para pedagang juga tak berani menyimpan beras dalam jumlah banyak. "Tidak aman," alasan Suherman.

Tidak aman, karena mereka bisa dituduh aparat sebagai penimbun dan barangnya bisa disita. Para pedagang juga merasa takut jika terjadi kerusuhan. Stok beras mereka bisa dijarah. Jadi, memang serbasalah. Kalau dulu tiap kios beras di Pasar cipinang bisa menyimpan stok hingga 50 ton, sekarang paling hanya lima ton, atau sekitar 90 persen. "Kejadian seperti ini baru saya alami pertama kali sepanjang 30 tahun di bisnis perdagangan beras," ujar Suherman.

Walau begitu, ia menganjurkan agar masyarakat tak perlu cemas kekurangan beras, karena walaupun stok yang ada di gudang para pedagang menipis, itu tak berarti kita kekurangan beras. Nasion Baktiono dari Pengurus Pusat Pasar Induk Beras cipinang juga menjamin stok beras di pasar itu lebih dari cukup untuk melayani para pembeli. Apalagi, pasokan beras impor sudah mulai berdatangan. Warga Jakarta sudah bisa bernapas lega. Tapi, bagaimana penduduk di luar Jakarta?

Irawan Saptono/Laporan Reko Alum (Jakarta). Abdul Manan (Surabaya), dan Tomi Lebang (Ujungpandang)

D&R, Edisi 980704-046/Hal. 58 Rubrik Bisnis & Ekonomi

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO