Mogok di Gudang Garam yang "Pemurah" Itu

Selama ini, Gudang Garam dikenal sebagai perusahaan raksasa yang pemurah kepada karyawannya. Ternyata, kini pihak manajemen dengan buruhnya pun retak.

BURUH PT Gudang Garam (GG) mogok? Itu berita akbar. Sebab, pabrik rokok terbesar di Indonesia tersebut selama ini dikenal makmur, sehat, dan termasuk yang paling memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Pemiliknya, keluarga Wonodidjojo, kaya raya. Majalah Forbes edisi 1997 menempatkan keluarga itu sebagai pengusaha terkaya di dunia. Kekayaan bersih mereka US$ 7,3 miliar. Setelah mereka, menyusul Eka Tjipta (US$ 5,4 miliar) dan Liem Sioe Liong (US$ 4 miliar).

Ribuan buruh dari 12 unit pabrik PT GG di Kediri, Jawa Timur, unjuk rasa dan mogok pada 27 Oktober serta 11,12, dan 13 November lalu. Mereka menuntut kenaikan gaji, pemberian gaji selama cuit haid, serta penggajian sepekan sekali. "Gudang Garam sugih, karyawan melarat" dan "Perusahan bergengsi, karyawan kurang gizi" antara lain yang tertulis di spanduk para pemogok. GG yang karyawannya sekitar 40.000 orang dan keuntungan per bulannya, kabarnya, sekitar Rp 70 miliar pun lumpuh. Mereka rugi miliaran rupiah.

Setelah adik bos besar GG, Soemarto Wonodidjojo, gagal meyakinkan para buruh, esok harinya, 12 November, bos besar GG Rahman Halim-lah yang turun berdialog dengan pemogok. Ia menjelaskan bahwa perusahan sebenarnya sudah menaikkan gaji karyawan beberapa kali. Uang haid pun sudah diberikan. Hanya, yang terakhir digabung dengan komponen gaji yang lain. Tapi, Rahman berjanji akan meninjau tuntutan karyawan tentang penghapusan surat keputusan penggajian. Pun, tuntutan kenaikan gaji akan dipelajari pihak manajemen.

Setelah penjelasan Rahman Halim yang sekitar 45 menit itu, pabrik berangsur pulih. Apalagi, setelah dalam pertemuan dengan musyarah pimpinan daerah (muspida), pihak manajemen GG bersedia menaikkan gaji setidaknya pada Desember ini. Kini, keadaan sudah normal. Namun, karyawan masih menunggu realisasi janji perusahaan, yakni kenaikan gaji itu. Beberapa tuntutan lain sudah dipenuhi, seperti uang cuti haid.

Perbaikan kesejahteraan merupakan tuntutan utama dalam aksi mogok yang mengejutkan masyarakat Kediri itu. Meski upah terendah buruh GG melampaui angka upah minimum regional yang Rp 127.500 per bulan, jumlah itu dianggap masih kurang, apalagi untuk sekarang, saat harga-harga naik menyusul krisis ekonomi regional. "Beras tadinya Rp 900 sampai Rp 1.000 per kilogram, sekarang sudah Rp 1.300 sampai Rp 1.400," kata seorang pekerja perempuan berusia 52 tahun yang sudah 22 tahun bergabung di sana. Perempuan yang sudah nenek itu turut dalam aksi mogok.

Menurut sumber D&R, mereka yang mogok itu adalah buruh harian bergolongan A sampai D. Kabarnya, aksi mogok dimulai dari unit V, yang sebagian besar anggotanya buruh muda lulusan sekolah lanjutan atas. Mereka menganggap jerih payahnya tak diganjar setimpal oleh perusahaan. Unit V selama ini dianggap sebagai jantung GG. Sebab, di sanalah Surya 12 dan Surya 16 yang menjadi andalan GG dibuat.

Para buruh belia itulah yang tak bisa menerima pembedaan sistem penggajian dan fasilitas yang diterima masing-masing golongan. Demikian juga sistem penggolongan yang terlalu panjang. Maka mereka, misalnya, mempermasalahkan pakaian. Golongan A sampai D hanya mengenakan kaus oblong dan celana biru; sedangkan staf (golongan E-G) memakai baju putih dan celana biru. Beberapa waktu lalu, buruh harian protes. Sebab, jatah pakaian yang diberi bermutu rendah.

Satu ketimpangan lain yang dicatat para pemogok itu adalah bangunan di kompleks GG. Menurut mereka, para direksi GG membuat kompleks perumahan seperti kediaman raja-raja. Di sana ada lapangan golf. Para buruh yang setiap hari berjalan kaki dan bersepeda menyaksikan semua itu saban hari sebagai sebuah pemandangan karikatural.

Kabarnya, kemewahan mencolok itu setelah pendiri GG, Surya Wonodidjojo, meninggal. Sang perintis dikebumikan di sebuah bukit di kompleks GG dan makamnya tak bisa dilihat langsung oleh buruh. Sepeninggal Surya, menurut beberapa buruh, anak-anaknya bergelimang kekayaan. Mereka pun beberapa kali menjadi pembayar pajak pribadi terbesar di Indonesia. Padahal, Surya dulu dikenal sebagai tauke bersahaja dan dermawan kepada buruh. Menurut para pemogok, para pewaris Surya Wonodidjojo lebih suka memberi uang pelicin kepada para pejabat daripada memberi uang tempel atau uang sabun kepada mereka.

Namun, isu kesenjangan itu dibantah pihak Muspida Kediri. Kepala Kepolisian Wilayah Kediri Kolonel Rubani malah menduga pemogokan itu ditunggangi pihak lain. Ia menyebut, sedang diteliti beberapa mahasiswa yang menyusup dalam aksi itu.

Dasar di negeri ini banyak teorisi konspirasi, seperti kata pengamat ekonomi Richard Robison, sewaktu ramai-ramainya aksi mogok itu ada juga yang mengatakan bahwa gerakan itu merupakan ulah pihak luar. Ada yang menyebut nama sebuah organisasi buruh sebagai yang berulah. Ada pula yang menamai sebuah keluarga terkemuka di Jakarta. Konon, yang terakhir itu hendak menguasai GG. Tapi, seperti biasa, isu semacam itu sulit dibuktikan. Tapi, beberapa buruh yang ikut mogok mengatakan aksi mereka murni untuk memperbaiki nasib saja. Barangkali, kemiskinanlah yang menunggangi mereka. Bukan siapa-siapa.

Abdul Manan dan Zed Abidin (Kediri)

D&R, Edisi 971206-016/Hal. 54 Rubrik Fokus

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO