Menolak Sate Kambing dan Selebaran Gelap

Selebaran gelap anti-Gus Dur beredar di berbagai daerah. Cara mengatasinya cukup dengan pengajian. "Semuanya untuk mendiskreditkan NU," kata Gus Dur.

KIAI Haji Abdurrahman Wahid untuk sementara mesti menyingkirkan jauh-jauh santapan kegemarannya: sate kambing. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga "haram" menyentuh semua masakan yang mengandung garam, santan, atau lainnya yang berpotensi mendongkrak kadar kolesterolnya. Maklum, ia baru diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Koja di Jakarta Utara, Rabu pekan lalu, 16 Juli, setelah dirawat selama 10 hari di sana lantaran penyakit darah tinggi.

Namun, boleh jadi, bukan pantangan makanan itu yang paling berat bagi tokoh yang lebih populer dipanggil Gus Dur itu. Menurut Yeni, putri keduanya, dokter juga melarang ayahnya memikirkan persoalan yang membuat kening berkerenyit. "Pokoknya, tak boleh memikirkan yang berat-berat dulu," ujarnya.

Padahal, akhir-akhir ini cukup banyak masalah yang mengharuskannya berpikir keras. Di antaranya, semakin meruyaknya serangan terhadap pribadinya maupun organisasi yang dipimpinnya. Salah satunya adalah selebaran gelap yang memasang judul Membuka Kedok Gus Dur.

Selebaran yang dibikin kelompok yang menamakan diri Forum Cinta Bangsa itu mengupas tentang perjalanan hidup dan sepak terjang Gus Dur. Anak K.H. Wahid Hasyim dan cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy'ari itu disebut-sebut "tak bersih lingkungan". "Guru privat bahasa Inggrisnya adalah tokoh Gerakan Wanita Indonesia, organisasi mantel Partai Komunis Indonesia, yang melahirkan tragedi berdarah G30S/PKI," tulis selebaran itu. Gus Dur juga dituding banyak berhubungan dengan Partai Ba'ath di Irak, yang sekuler dan sangat protektif pada masalah keagamaan.

Selebaran itu juga menyorot dan berusaha mengait-ngaitkan aktivitas Gus Dur dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), sikap tokoh-tokoh NU lain, dan petinggi-petinggi organisai sosial-politik lain yang belakangan berhubungan akrab dengannya. Intinya, menurut selebaran itu, sepak terjang Gus Dur selama ini merupakan bagian dari strategi suatu kelompok tertentu yang beraliran nasionalis sekuler untuk menggoyang stabilitas politik pemerintah Orde Baru.

* Kerap Mengundang Polemik

Itu merupakan tuduhan yang menyeramkan, memang. Cuma, ya, itu, karena bernama selebaran gelap, tentu saja susah untuk melacak sumbernya. Apalagi, membuktikan kebenaran isi ataupun logika berpikirnya. Ibaratnya, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin keras pula angin menerpa. Begitu pula dengan Gus Dur. Selama lebih dari satu dekade terakhir, ada yang bilang ide atau komentarnya tentang suatu isu kerap membikin pengaruh serangan balik yang jauh lebih hebat daripada isunya sendiri. Setiap lontaran atau setiap tindakan Gus Dur hampir selalu mengundang polemik yang membuat masalahnya semakin ramai.

Beberapa peristiwa di seputar Gus Dur yang masih hangat antara lain tentang Operasi Naga Hijau, dana kerusuhan Rp 300 miliar, dan serangkaian perjalanannya dengan Ketua Golkar Ny. Siti Hardijanti Rukmana (Tutut). Istilah Operasi Naga Hijau yang dicetuskan Gus Dur pascakerusuhan Tasikmalaya sempat membuat beberapa kalangan, antara lain tokoh-tokoh militer dan ICMI, seperti kebakaran jenggot. Betapa tidak? Dengan istilah itu, Gus Dur menuding adanya suatu kegiatan terencana yang memancing munculnya kerusuhan di berbagai tempat. Kegiatan itu dibiayai dengan sebagian kecil dana Rp 300 miliar yang diputar di bursa saham.

Namun, Gus Dur sendiri menanggapi reaksi orang dengan gayanya yang khas. "Kok, kebakaran jenggot? Apa operasi itu dari pihak militer? Belum tentu. La, wong, Emil Salim saja bikin operasi untuk menolong gajah di Waykambas dan Pangeran Bernhard bikin operasi menolong siamang," kata Gus Dur. Dan, silang pendapat tentang Operasi Naga Hijau berakhir secara kekeluargaan.

* Langkah Politik

Isu paling mutakhir yang membuat banyak mulut melongo adalah "gandeng tangan" Gus Dur dengan Tutut pada masa kampanye baru lalu. Karena, pria berbadan tambun itu sebelumnya dikenal dekat dengan Ny. Megawati Soekarnoputri, Ketua Partai Demokrasi Indonesia yang didongkel Soerjadi dengan dukungan pemerintah di Kongres Medan, tahun silam. Gus Dur dan Tutut tampil bersama dalam acara istighosah kubro (doa bersama) yang digelar warga NU di Sidoarjo, Jawa Timur (Ja-Tim) dan Semarang, Jawa Tengah. Di depan ribuan massa NU, Gus Dur menyatakan sengaja mengundang Tutut untuk memperkenalkannya dengan pada nahdliyin (warga NU). Sebab, "Mbak Tutut adalah tokoh masa depan," kata Gus Dur.

Protes pun bermunculan, terutama dari kalangan NU sendiri. Pengurus NU Cabang Bangkalan dan Jombang, Ja-Tim, misalnya, sengaja tak hadir pada acara istighosah di Sidoarjo. Sementara itu, Forum Komunikasi Generasi Muda NU di Yogyakarta menyerukan agar Gus Dur lebih arif melangkah.

Tak pelak, banyak yang bertanya-tanya maksud di balik duet Gus Dur-Tutut itu. Gus Dur sendiri cuma bilang ingin memperkenalkan Tutut kepada warga NU. Sementara itu, Tutut tak banyak komentar. Orang pun lalu berpikir bahwa peristiwa itu merupakan bagian dari langkah politik Gus Dur.

Menurut selebaran Forum Cinta Bangsa itu, langkah Gus Dur tersebut merupakan "misi suci" kelompok ekstrem kiri dan nasionalis sekuler yang melakukan "strategi salami" (strategi khas kelompok kiri) dan infiltrasi ke pusat kekuasan. "Langkah ini persis yang dilakukan Pater (Romo) Beek yang melakukan penetrasi ke pusat kekuasaan melalui Yusuf Wanandi, Hari Tjan Silalahi (Centre for Strategic and International Studies), Ali Moertopo (Menteri Penerangan), dan Soedjono Hoemardhani (Asisten Pribadi Presiden)," tulis selebaran itu. Tujuannya: menciptakan kekuasaan nasionalis sekuler di Indonesia pada masa pasca-Presiden Soeharto.

* Beredar di Kantung NU

Sebenarnya, selebarannya sendiri telah beredar sejak akhir masa kampanye. Dan, menariknya, pengedarannya dilakukan di kawasan seputar masjid-masjid yang cukup berpengaruh luas, yakni di halaman Masjid Arief Rahman Hakim (Jakarta), Alfalah (Surabaya), dan Chatijah (Malang).

Tak cuma itu, pada masa kampanye, kantor PWNU Ja-Tim mendapat kiriman ribuan lembar selebaran gelap dan surat kaleng yang isinya menjelek-jelekkan nama Gus Dur. Berdasarkan informasi, kata Fuad Anwar, Sekretaris PWNU Ja-Tim, selain di Surabaya dan Malang, selebaran itu juga beredar di berbagai daerah kantung-kantung NU, antara lain Bangkalan dan Jember. Kebetulan, Masjid Alfalah dan Chatijah dikelola oleh orang-orang Muhammadiyah.

PWNU Ja-Tim memang tak berusaha melacak sumber selebaran-selebaran itu dan tak menanyakannya kepada pengurus masjid yang bersangkutan. "Tapi, saya yakin yang menyebarkan bukan pengurus masjidnya," kata Fuad kepada D&R.

Sampai di sana, masalah yang mungkin bisa menggoyang hubungan NU dengan masjid-masjid itu selesai. Tapi, yang cukup menarik untuk disimak adalah hubungan selebaran itu dengan Gus Dur dan NU. Maksudnya begini: apakah selebaran itu (juga serangan yang lain) hanya ditujukan untuk menggoyang Gus Dur pribadi atau untuk mendiskreditkan NU secara keseluruhan?

* Untuk Pribadi atau NU?

Wakil Rois Aam Suriah PBNU K.H. Sahal Mahfudz tak mau berkomentar. "Untuk masalah selebaran gelap, saya tidak berkomentar. Yang jelas, kesehatan Pak Dur mulai membaik," katanya kepada D&R. Menurut kalangan dekatnya, penolakan Kiai Sahal itu bukan karena tak mengikuti perkembangan terakhir. Tapi, "Justru Kiai Sahal tahu banyak tentang persoalan yang mendera NU dan Gus Dur pribadi," kata salah satu orang dekatnya.

Menurut Kiai Yusuf Hasyim, tokoh NU yang juga paman Gus Dur, serangan itu ditujukan untuk Gus Dur pribadi. Yang melakukannya, kata Kiai Yusuf, mungkin saja kelompok "prodemokrasi" yang menganggap kedekatan Gus Dur dengan Tutut sebagai inkonsistensi.

Sebab, Pak Ud (panggilan akrab Kiai Yusuf) menganggap tindakan Gus Dur berkeliling dengan Tutut ke berbagai daerah sebagai "gebrakan" politik. Karena, menurut dia, pada kesempatan-kesempatan itu Tutut tampil sebagai Ketua Golkar. Dan, akan lain halnya bila Tutut muncul dalam kapasitasnya yang lain lagi. Sebagai bos Grup Citra Lamtorogung misalnya. "Ia dianggap berkhianat. Ini semacam peringatan kepada Abdurrahman," kata Pak Ud, yang kerap bersilang pendapat dengan keponakannya itu.

Namun, Ny. Safira Machrusah menyatakan sebaliknya. Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri NU itu memang menganggap serangan tersebut dilancarkan terhadap pribadi Gus Dur. Tapi, "Ini merupakan upaya pihak eksternal untuk menggulingkan (Gus Dur) dan kemudian memperburuk citra NU," kata Safira. Karena, menurut dia, bagaimanapun, orang melihat setiap manuver Gus Dur merepresentasikan sikap NU.

Pendapat terakhir itu senada dengan tanggapan Gus Dur sendiri. Berbagai selebaran dan kerusuhan di basis-basis NU, menurut dia, merupakan usaha untuk menggosok warga NU agar mudah mengamuk sehingga nantinya bisa dijadikan kambing hitam. "Jadi diciptakan dua hal: warga NU dibikin frustrasi dan selebaran gelap yang menjelek-jelekkan saya. Semuanya dimaksudkan untuk mendiskreditkan NU," kata Gus Dur dalam wawancaranya dengan majalah Ummat.

Bagi NU sendiri, menurut Gus Dur, pengaruhnya insya Allah tak ada. "Kaum sarungan" di kampung-kampung pun sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Karena, kata Gus Dur, NU selama ini telah melakukan pemerataan informasi. Caranya antara lain seperti yang dilakukan PWNU Ja-Tim. "Bagi NU, itu mudah. Kami memanggil dan memberikan penjelasan kepada cabang-cabang di bawahnya dan mengharapkan agar mereka menyebarluaskannya melalui jaringan pengajian di masjid-masjid dan musala-musala," kata Fuad.

Gus Dur sendiri menganggap kedekatannya dengan Tutut, juga Megawati, adalah sikap yang wajar. "Nek iso, Tutut karo Megawati diakurno (kalau bisa, Tutut dan Megawati diakurkan)," katanya. Dengan begitu, Gus Dur menjamin sikapnya untuk memecahkan masalah secara damai akan tetap konsisten. "Jangan bilang saya mencla-mencle, saya sangat keberatan," ujarnya lagi.

Mungkin Gus Dur benar. Cuma, masalahnya, sampai kapan umat harus bingung, Gus?

Laporan Ahmad Nur S. (Jakarta), Prasetya (Semarang), Zed Abidin, dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 970726-049/Hal. 34 Rubrik Peristiwa & Analisa

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO