Skip to main content

Generasi 70 di Pucuk Kodam

Pangdam-pangdam baru sekarang berasal dari generasi tahun 1970-an. Diharapkan, mereka bisa lebih luwes dan mengikuti perkembangan zaman. Tapi, pengamat dari LIPI meragukannya.

LOKOMOTIF di pucuk pimpinan TNI Angkatan Darat sudah berangkat. Maka gerbong-gerbong di belakangnya pun secara otomatis ikut maju. Kali ini, gerbong agak penuh, karena banyak yang harus diajak "melesat". Selain membawa para perwira yang terkena mutasi--yang paling tidak setiap setahun sekali dilakukan secara besar-besaran--juga membawa mereka yang mendapat tugas karena terjadi pemekaran atau validasi di tiga angkatan (Polri, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut).

Itulah yang terjadi dalam mutasi dan validasi yang beritanya sudah menghangatkan media massa sejak Wiranto diangkat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, 6 Juni lalu. "Terjadi mutasi 298 jabatan perwira tinggi yang terdiri dari 250 jabatan di lingkungan Departemen Hankam, 29 ditugaskaryakan, dan 19 orang pensiun," kata Kepala Pusat Penerangan ABRI, Brigjen Slamet Supriadi, dalam keterangannya kepada pers, Jumat, 18 Juli pekan lalu.

Beberapa jabatan yang disebutkan Kapuspen dalam konferensi pers itu sudah diketahui masyarakat sebelumnya. Seperti jabatan asisten sosial politik (Assospol) sudah sepekan sebelumnya diumumkan bakal dijabat oleh Mayjen Susilo Bambang Yudoyono, mantan Pangdam II/Sriwijaya yang akan mendampingi Kassospol Mayjen Yunus Yosfiah.

Duet yang akan memegang peranan penting sebagai Ketua F-ABRI dalam sidang umum MPR mendatang itu menarik perhatian masyarakat. Yunus, lulusan AMN 1965, yang terakhir menjabat sebagai Komandan Sekolah Komando ABRI tak banyak diketahui berkecimpung dalam masalah sosial politik. Ketika dihubungi pun, ia lebih banyak mengelak. "Jangan tanyai saya dulu soal Kassospol, SK pengangkatannya saja belum saya terima," katanya. Banyak pihak menduga, porsi untuk berbicara keluar akan lebih banyak diemban oleh Bambang Yudoyono, perwira lulusan Akabri 1973 yang dijuluki the rising star dan bisa bergaul dengan luwes dalam masalah-masalah sospol tersebut.

Selain dua jabatan itu, jabatan pangdam pun termasuk yang mendapat perhatian orang dalam rangkaian mutasi kali ini. Tak heran, sebagai penguasa teritorial di suatu daerah, masyarakat berkepentingan langsung dengan pangdam. Dan, pergantian itu tak meleset jauh dari yang sudah direka-reka orang beberapa minggu sebelumnya. Pangdam I Bukit Barisan akan dipegang oleh Brigjen Rizal Nurdin, 51 tahun. Lulusan Akabri tahun 1970 yang pernah belajar dan bertugas di 21 negara itu sebelumnya adalah kasdam di sana.

Pangdam II Sriwijaya dijabat oleh Brigjen Suadi Atma, lulusan Akabri 1971 yang kini masih menjabat sebagai Kasdam VIII Trikora. Pengganti Pangdam III Tayo Tarmadi adalah Mayjen Djamari Chaniago (Akabri 1971), Panglima Divisi II Kostrad. Brigjen Djadja Suparman, Kasdam II Sriwijaya akan menduduki jabatan Pangdam V Brawijaya. Djadja yang masih berusia 48 tahun adalah lulusan Akabri 1972. Pangdam Tanjungpura akan dipegang oleh mantan Kasdam Brawijaya Brigjen Muchdi Purwoprajono Adiwidjojo, 49 tahun, seorang lulusan Akabri 1970. Dan, Brigjen Syahrir M.S., lulusan Akabri 1971 yang kini menjabat sebagai Kasdam Udayana akan naik menjadi pangdam di tempat yang sama.

Dari data diri para pangdam tersebut tampak bahwa regenerasi di tubuh TNI AD sudah berjalan. Para pangdam lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) akan diganti wajah baru hasil godokan Akabri. Bertebarannya figur-figur ABRI dari generasi 1970-an yang tak hanya mempunyai kemampuan tempur, tapi juga memiliki wawasan yang luas dan tak terlibat dalam konflik-konflik generasi 45, tentu diharapkan bisa mewarnai visi ABRI di masa datang yang luwes serta mampu mengikuti perkembangan zaman.

Namun, pengamat ABRI dari LIPI, Indria Samego, menganggap harapan seperti itu terlalu berlebihan. "Saya agak pesimistis dengan harapan itu. Mereka mungkin terbuka, tapi kalau bicara praktik, mereka tetaplah militer. Tidak kelihatan signifikansinya pendidikan mereka di luar negeri dengan proses implementasi politik militer di sini," katanya.

Laporan Andreas A. Purwanto, Budi Nugroho, Tiarma Siboro, Abdul Manan, dan Bambang Soedjiartono

D&R, Edisi 970726-049/Hal. 28 Rubrik Peristiwa & Analisa

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.