Skip to main content

Golput, Siapa Takut

Seperti penyakit kronis, Golput meradang setiap menjelang pemilu. Juga pada Pemilu 1997, mahasiswa-mahasiswa berkampanye Golput.

KAIN hitam berserak simpang-menyimpang ke sana-kemari memperkuat kesan keprihatinan spanduk hitam yang bertuliskan Repertoar Pemakaman Demokrasi: Satu Tahun Makassar Berdarah, 24 April 1996. Di sisi sebelah kiri tangga masjid, tempat yang dipakai untuk aksi tersebut, terdapat selembar kecil Bendera Merah-Putih. "Ini adalah temu kader Golput pertama di Yogya," kata seorang aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Masyarakat Mahasiswa untuk Tragedi Makassar (Maut), mengomentari pertemuan mereka yang judul resminya adalah memperingati setahun Peristiwa Berdarah Ujungpandang.

Yang muncul berikutnya adalah adegan teatrikal mengenang Peristiwa Ujungpandang, yang dimainkan tiga mahasiswa bertelanjang dada dan bercelana Pak Tani warna hitam. Baru kemudian muncul maksud sebenarnya, yaitu penyikapan atas Golput. "Golput! Golput!" teriak salah seorang pemain dengan mengacungkan keempat jarinya. "Kami tidak punya pilihan lain selain tidak akan memilih," kata Agus, aktivis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga.

Acara pada 25 April di kampus IAIN Sunan Kalijaga itu sebenarnya merupakan rentetan aksi Golput yang memarak di Yogya dalam beberapa minggu terakhir ini. Kampanye Golput yang dilakukan sekelompok mahasiswa di Yogya telah mengakibatkan beberapa di antara mahasiswa itu ditangkap.

Sehari sebelum Maut membuat acara temu kader Golput Yogya, di Surabaya juga terjadi deklarasi berdirinya Gerakan Mahasiswa Golongan Putih di Universitas Airlangga. Sekitar 100 mahasiswa dari kota-kota di Jawa dan Bali berkumpul pada pukul 10.00 untuk melakukan aksi mendukung Golput. Poster-poster--seperti biasa, kreatif dan lucu--pun dibentangkan: Pemilunya, sih, biasa. Golputnya yang luar biasa; Golput bukan basa basi; Kumpul ora kumpul sing penting Golput, dan banyak lagi.

Kelompok-kelompok mahasiswa "bermisi" Golput tampaknya bukan hanya dominasi kota-kota besar. Di Jombang, kota santri yang terkenal dengan Pesantren Tebu Ireng, sekelompok mahasiswa membentuk Aliansi Barisan Golput pada 23 April lalu. Mahasiswa Jember malah terlebih dahulu muncul dengan Serikat Mahasiswa Jember (10 April 1997) sebagai wadah perjuangan Golput-nya. Singkat kata, pada bulan April ini, Jawa Timur penuh dengan berdirinya kumpulan mahasiswa Golput, mulai dari Surabaya, Malang, Probolinggo, hingga Madura.

Belum lagi yang demonstratif seperti di Ujungpandang. Dua pekan menjelang kampanye pemilu, Makassar meriah dengan selebaran-selebaran yang berisi ajakan "memilih untuk tidak memilih" dan "ikut memilih berarti mendukung pemilu yang tidak jujur dan adil". Di kantor pusat Universitas Hasanuddin malah ada majalah dinding Golput, berupa kertas merah yang ditempeli artikel-artikel mengajak Golput.

Adapun mahasiswa Universitas Indonesia sengaja membuat penelitian Golput selama tiga bulan untuk menyambut kampanye ini. Hasilnya, dari 936 mahasiswa yang diambil sampelnya, sebanyak 48,7 persen tidak akan menggunakan hak pilihnya alias Golput. Malah, hasil jajak pendapat Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia-Malang pada akhir Februari lalu lebih gila lagi: lebih dari 90 persen pemuda Malang memilih jadi Golput.

Aksi-aksi mahasiswa itu bertambah panjang dengan sikap-sikap kelompok seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD), lembaga-lembaga swadaya tertentu, dan para suhu kaum "golputis", seperti Arief Budiman. Komitmen Pijar dan PRD- nya Budiman Sudjatmiko, untuk memboikot pemilu atau Golput, misalnya, tetap menjadi "bensin" kemarahan pemerintah. Apalagi, kelompok mereka secara provokatif menggelar demonstrasi-demostrasi bersamaan dengan sidang peradilan PRD.

Tidak mengherankan kalau maraknya kelompok-kelompok yang melebur dalam gerakan Golput, seperti biasa, membuat sibuk pemerintah dan aparat keamanan setempat. "Kalau masalah Golput, saya tidak tahu itu, yang penting saya mengamankan," kata Kapolda Metro Jaya Mayjen Hamami Nata dengan tegas. Sikap yang senada dengan Kapolda Metro Jaya juga berkumandang di seluruh pelosok Tanah Air. Bahkan, sikap Polri dinyatakan tegas oleh Brigjen Nurfaizi, Kadispen Polri, bahwa petugas akan menyikat pengganggu pemilu dan yang brutal ditembak. Ucapan itu tampaknya tak sekadar gertak. Februari lalu, empat mahasiswa di Purwokerto ditahan hanya gara-gara membuat stiker Golput.

Padahal, walaupun aksi Golput terjadi di mana-mana dan semakin gegap-gempita setiap kali menjelang pemilu, sebenarnya Golput itu tidak "ganas". Artinya, dalam sejarah pemilu Orde Baru, belum pernah ada cerita kalau Golput sampai membatalkan keabsahan sebuah pemilu. Itu kalau pihak pemerintah dan aparat keamanan mau belajar sejarah Golput.

Karena, kalau ditelusuri sejak berdirinya, yaitu "Deklarasi Golongan Putih", 28 Mei 1971, gerakan Golput adalah sebuah gerakan kultural dan sikap individu, bukan kelompok. Jadi, Golput tidak pernah secara formal mengorganisasi massanya sendiri. Dengan kata lain, karena Golput bukan organisasi penggalangan massa, "makhluk satu itu" (terbukti) sulit berkembang menjadi besar. Namun, memang, gerakan itu dianggap mengganggu langkah pemerintah. Kalau diibaratkan, mungkin seperti kerikil tajam dalam sepatu. Selalu mengganggu dan malah dapat melukai kaki.

Laporan L.N. Idayanie (Yogyakarta), Abdul Manan (Surabaya), Koresponden Ujungpadang, dan Puji Sumedi (Jakarta)

D&R, Edisi 970503-037/Hal. 25 Rubrik Laporan Utama

Comments

SEKJEN PENA 98 said…
Memang banyak yang pergi
Tidak sedikit yang lari
Sebagian memilih diam bersembuyi
Tapi… Perubahan adalah kepastian
dan untuk itulah kami bertahan
Sebab kami tak lagi punya pilihan
Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

Kawan… kami masih ada
Masih bergerak
Terus melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.