Skip to main content

Bukan Sembarang Cuti

Seorang Wakil Kasir PT Gudang Garam memanipulasi pembayaran. Caranya halus: sebagian masuk rekening pribadi, sebagian untuk perusahaan.

PADA mulanya ia cuma diketahui mengambil cuti. Kemudian diketahui Rudi Wijayanto, Wakil Kasir PT Gudang Garam di Surabaya, juga mengambil uang perusahaan Rp 8,5 miliar.

Rudi seharusnya bekerja kembali di kantornya pada 17 Februari lalu. Tapi, sampai menjelang Februari habis, ketika staf keuangan di Gudang Garam Surabaya harus menyusun laporan keuangan, wakil kasir itu belum juga nongol. Padahal, salah satu tugas Rudi adalah membuat laporan keuangan. Berkali-kali pihak Gudang Garam menelepon ke rumahnya, tak ada jawaban. Karena laki-laki itu tak terendus juga baunya, pada bulan Maret, manajemen perusahaan terpaksa membuat laporan keuangan tanpa dia.

Dan, kemudian, tahulah mereka: Gudang Garam Surabaya tak cuma kehilangan wakil kasirnya, tapi juga sejumlah uang, mendekati Rp 8,5 miliar. Pihak manajemen menemukan selisih antara kas sesungguhnya dan nilai yang tertera di pembukuan peninggalan Rudi. Maksudnya, jumlah uang di kas lebih kecil daripada di pembukuan.

Dirunutlah kesalahan yang terjadi. Ditemukanlah adanya beberapa transfer aneh, yaitu dari perusahaan masuk ke rekening pribadi si wakil kasir.

Rudi memang mempunyai rekening di bank yang sama dengan rekening Gudang Garam Surabaya, yaitu di Bank Central Asia Jalan Veteran di Kota Buaya itu. Uang miliaran itu berasal dari setoran PT Surya Bhakti Utama, distributor Gudang Garam. Kantor Surya Bhakti bersebelahan, malah satu atap, dengan kantor Gudang Garam di Jalan Pengenal. Jumlah yang hilang tadi adalah hasil pencairan 18 lembar giro bilyet Rp 6 miliar lebih dan uang kontan Rp 2 miliar lebih.

Mengetahui manipulasi itu, Gudang Garam segera memecat Rudi dengan tidak hormat, tanpa menunggu kemunculannya--yang dianggap mustahil. Empat hari kemudian, Direktur Keuangan Djajusman Surjowijono melapor ke polisi. Sementara itu, sempat beredar di masyarakat bahwa perusahaan rokok kretek itu kebobolan sekitar Rp 24 miliar. Untuk membantah itu, Kadispen Polda Jawa Timur Letkol Sofwat Hadi mengadakan jumpa pers.

Bagaimana Rudi bisa menggondol segepok Rp 8,5 miliar tanpa kepergok? Menurut polisi, pria yang dikabarkan beristri wanita Hong Kong itu memang telah menyusun rencana rapi.

Setidaknya, ia tahu bahwa, menjelang Lebaran, manajemen perusahaan sedang kerepotan mengatur pembagian tunjangan hari raya. Karyawan Gudang Garam Surabaya memang terbilang besar, sekitar 50 ribu orang. "Dia tahu kapan direksi lemah," ujar Sofwan.

Maka, mulai Januari, memasuki bulan Puasa, Rudi mengerjai setoran Surya Bhakti. Caranya cukup halus. Jika ada setoran, tidak seluruhnya dia alihkan ke rekening pribadi, melainkan sebagian saja. Biar tak cepat ketahuan, separo lagi tetap ia bayarkan ke Gudang Garam. Tampaknya, di sana, seorang wakil kasir tak masuk dalam jaringan sistem kontrol. Dengan kata lain, ia hanya dikontrol setiap ada penyusunan laporan keuangan dan itu baru dikerjakan sebuan sekali. Apalagi, rekeningnya dan rekening Gudang Garam berada di cabang bank yang sama, sehingga memudahkan penjelasan andai pihak bank menanyakan ihwal transfer uang itu.

Menurut polisi, antara 6 Januari dan 1 Februari, setiap hari Rudi mengambil uang kas untuk ditransfer ke simpanannya di Bank Central Asia. Setiap harinya, ia "mencicil" Rp 150 juta hingga Rp 500 juta.

Menjelang Lebaran, setelah ia menumpuk uang di rekening pribadinya sekitar 20 hari, ia mengambil cuti. Tak ada orang yang memperhatikan sebab mereka sibuk dengan pembagian tunjangan serta rencana berlibur masing-masing. Ternyata, Rudi cuti untuk seterusnya alias menghilang. Ketika wartawan D&R mencoba mengecek alamatnya di Jalan Manyar Kertoarjo 81, rumah bertingkat itu tampak sepi. Hanya terlihat empat mobil berjajar di garasinya yang agak terbuka. Dua sedan dan dua lagi sejenis mobil penumpang. Di halaman ada lagi sebuah mobil, Isuzu Panther. Tapi, hanya pemuda 17 tahun yang keluar. Saat ditanya, ia menjawab: "Salah alamat. Ini bukan rumahnya Pak Rudi." Lalu, pemuda tadi menutup pintu rapat-rapat. Menurut polisi, rumah di alamat itu adalah tempat tinggal Rudi. Polisi mengaku belum mau menyita benda di rumahnya.

"Untuk menyita mesti diselidiki dulu, apa benar itu hasil curian," ujar Sofwat. Sementara itu, diduga Rudi telah terbang ke luar negeri. Polisi yang dilapori peristiwa itu pada 12 Maret baru mengirim surat permohonan cekal ke Kejaksaan Agung pada 14 Maret. Artinya, Rudi punya waktu lebih dari satu bulan untuk kabur, misalnya, ke Hong Kong, wilayah koloni Inggris, tempat istrinya berasal. Karena itu, polisi juga meminta bantuan Interpol untuk melacaknya.

Sementara itu, Gudang Garam tak cuma kehilangan uang. Persoalan itu membawa masalah baru bagi pengelola Gudang Garam. Sebab, perusahaan rokok yang pernah nomor satu di Indonesia itu telah masuk bursa. Karena itulah, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal I Putu Gde Ary Suta melayangkan surat teguran. Gudang Garam dianggap tidak cepat melaporkan kebobolan perusahaan publik itu. Karena kesalahan dilakukan oleh orang dalam, Gudang Garam juga terpaksa menomboki kebobolan yang merugikan pemegang saham itu, yang sebagian adalah masyarakat. Menurut Djajusman Surjowiyono, direksi akan merogoh uang pribadi untuk menutup kerugian Rp 8,5 miliar.

Laporan Zed Abidin dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 970322-031/Hal. 100 Rubrik Kriminalitas

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.