Skip to main content

Mutiara Hilang, Ciptaan Siapa

Gara-gara hak ciptanya diperebutkan, royalti sebuah lagu nostalgia dihentikan. Herannya, pihak penuntut belum mau ke meja hijau.

BAGI Anda yang pada tahun 1970-an tergolong remaja tentu tak asing lagi dengan lagu Mutiara yang Hilang. Lagu bertema cinta itu populer melalui bibir mungil penyanyi Erni Johan. Tapi, setelah bertahun-tahun menjadi lagu nostalgia, siapa sangka lagu itu sekarang menjadi obyek rebutan hak cipta.

Seorang guru SMP Pancasila di Pasuruan, Jawa Timur, Agus Muhadi, kini berusia 66 tahun, mengklaim dirinyalah pencipta sebenarnya lagu itu, pada tahun 1956. Sementara itu, musisi Yessy Wenas dan Dodo (mendiang), sebagaimana selama ini diketahui umum, berkeras menyatakan merekalah pencipta lagu itu.

Perkara unik itulah yang belakangan ini membikin repot Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI), yang tugas utamanya sebagai kolektor dan distributor royalti untuk pencipta lagu. "Kami masih berupaya mempertemukan kedua pihak, juga arbiter (wasit) mereka," kata Paul Hutabarat dari YKCI.

Agus mengaku pertama kali mendengar lagu Mutiara yang Hilang, ciptaannya pada tahun 1956, melalui radio. Lagu yang disebutkan sebagai ciptaan Yessy Wenas dan Dodo itu dinyanyikan Erni Johan. Waktu itu, Agus dan istrinya sedang menggeluti usaha roti di Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1974.

"Lo, itu kan lagu ciptaan saya di Denpasar dulu," ucap Agus kepada istrinya. Yang diajak berbincang cuma menjawab sambil lalu, "Ah, kamu kayak pencipta lagu saja." Terpaksalah Agus hanya bisa menelan rasa penasarannya.

Eee..., setahun kemudian, sewaktu Agus mengajar di SMP Pasuruan, lagu itu terdengar lagi. Karena radionya disetel keras, suara lagu dari tempat hajatan di sebelah SMP itu mengalun juga ke kelas Agus. "Apa judul lagu itu?" ujar Agus kepada para muridnya. Terdengar jawaban serentak, "Mutiara yang Hilang."

"Tahukah kalian, siapa yang menciptakan?" kata Agus lagi. Keruan saja murid-muridnya, yang tak mengerti ujung-pangkal pertanyaan itu, cuma bisa diam. Jadilah mata pelajaran hari itu diganti Agus dengan penjelasan latar belakang penciptaan lagu Mutiara yang Hilang. Ceritanya bak novel klasik.

Alkisah, menurut penuturan Agus, pada tahun 1945, ia jatuh cinta pertama kepada seorang gadis sekampungnya di Pasuruan. Ketika itu, saat revolusi fisik, Agus baru kelas I SMP. Pada masa Agresi Militer Belanda I, tahun 1947, Agus masuk Tentara Republik Indonesia Pelajar dan ikut pasukan itu ke Blitar, Jawa Timur.

Setelah Agresi Militer II, tahun 1949, Agus menjadi anggota brigade mobil. Belakangan, ia mengundurkan diri dan melanjutkan sekolah di SMEA di Surabaya. Waktu itu, menurut Agus, hubungan asmaranya dengan gadis tetangganya di Pasuruan itu tetap berlanjut.

Apalagi, Agus kerap pulang ke kampungnya, sementara si pujaan hati sekolah di sekolah guru bagian B. Namun, apa mau dikata, jalinan cinta remaja yang sudah berlangsung delapan tahun itu berujung hampa. Lamaran Agus ditolak mentah-mentah oleh orang tua sang bunga.

Dengan hati patah tak terlukiskan, Agus pun mengembara ke Denpasar. Ia menjadi guru SMEP di sana. Namun, selama tiga tahun di Pulau Dewata, Agus mengaku sulit untuk bisa jatuh cinta lagi.

Sampai akhirnya, melalui korespondensi, Agus terpikat kepada seorang gadis bernama Arti. Gadis teman lamanya di SMEA itu tinggal di Wonokromo, Jawa Timur.

Luluhnya hati Agus oleh pesona Arti itulah yang menggugah Agus untuk menggubah sebuah lagu. Kebetulan, pada tahun 1956, lagu Love Is Many Splendored Thing sedang tenar. Hatta, Agus pun memberi judul lagu "cintanya" dengan nama Mutiara yang Hilang.

Hanya tiga minggu Agus menciptakan syairnya. Sementara itu, not baloknya dibuatnya tak sampai seminggu. "Awalnya, lagu itu hanya diiringi musik mulut," cerita Agus. Baru pada acara Taman Pelajar di Stasiun RRI Denpasar, Agus mengiringi lagu itu dengan piano. Waktu itu, adalah Ni Luh Putu Priatni, siswi kelas III SMEP, yang melantunkan lagunya.

Setahun berlalu, pada tahun 1957, Agus sempat mengirimkan lagu itu ke alamat sebuah majalah di Jakarta. Tapi, sampai bertahun-tahun kemudian, lagu itu tak kunjung dimuat, sehingga Agus melupakan saja.

Dalam pada itu, kisah asmara Agus dengan gadis Arti ternyata juga tak seindah lagunya. Gadis itu, tak disangka, lebih memilih orang tuanya yang tak menyetujui hubungannya dengan Agus ketimbang cinta Agus. Sekali lagi, Agus patah hati.

Baru pada tahun 1959, Agus menikah dengan Murtini--istrinya hingga sekarang, yang mengarunianya enam anak. Agus lantas memboyong istri dan anak pertama mereka yang baru berumur tiga bulan ke Surakarta pada tahun 1960. Setelah itu, Agus kembali menekuni karir sebagai guru di kampung halamannya.

Setelah dua kali mendengar lagu Mutiara yang Hilang mengalun, Agus sebenarnya hendak mempersoalkan. Tapi, sulit mewujudkan hasrat itu. Sebab, "Coret-coretan lagu itu saja tak ada, apalagi saksi dan bukti lainnya," ujar Agus.

Begitu mendengar lagu itu didendangkan penyanyi Vina Panduwinata melalui TPI, pada tahun 1994, barulah Agus memberanikan diri. Ia melayangkan pernyataan ke beberapa media cetak. Agus juga berhasil memperoleh keterangan dari lima orang saksi, yakni Ni Luh Putu Priatni, tiga orang mantan muridnya di SMEP, dan Ketut Aswin (mantan Kepala Stasiun RRI Denpasar).

Setelah mengadu ke Persatuan Pengusaha Rekaman Indonesia Jawa Timur, Agus kemudian mengirim surat senada ke YKCI pada Maret lalu. Dan, pada 1 Mei, YKCI mempertemukan Agus dengan Yessy Wenas. Hasilnya? Masih buntu. Sebab, kedua pihak sama-sama mengaku sebagai pencipta sebenarnya.

Akhirnya, YKCI menyarankan agar persoalan itu dituntaskan di pengadilan saja. Sementara itu, YKCI hanya bisa menghentikan pembayaran royalti lagu tersebut, yang selama ini mengalir ke alamat Yessy dan Dodo, sebagai penciptanya.

Herannya, Agus sendiri enggan menempuh jalur hukum. Alasannya, ia nanti mesti bolak-balik ke Jakarta. Belum lagi biaya untuk mendatangkan saksi. "Untuk ongkos ke YKCI pada 1 Mei itu saja saya harus mengumpulkannya selama sebulan. Itu pun ditambah uang dari bekas murid saya," kata Agus.

Akhirnya, kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan masalah itu melalui arbitrase (perwasitan). Agus telah menunjuk pencipta lagu N. Simanungkalit sebagai arbiternya, sementara Yessy Wenas menunjuk Y.B. Mamuaya (lihat: "Kenapa Baru Diributkan Sekarang"). Sebagai arbiter ketiga tentu saja dari YKCI.

Namun, sampai enam bulan, sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan tanggal 1 Mei, proses arbitrase tadi belum jua membuahkan hasil. Agus sendiri berharap agar YKCI cepat memutuskan bahwa dirinyalah pencipta lagu Mutiara yang Hilang. "Mumpung saya masih hidup," ucap kakek yang masih setia menjadi guru itu.

Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 961214-018/Hal. 36 Rubrik Hukum

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.