Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
9 March 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Faktor Albania di Senjata Kimia Suriah

Faktor Albania di Senjata Kimia Suriah

Abdul Manan19 November 2013
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Den Haag – Kerjasama penuh dari Pemerintah Bashar al-Assad tak lantas membuat penghancuran senjata kimia Suriah berjalan mulus. Saat proses ini memasuki tahapan lebih krusial, Albania, negara yang diminta menjadi tuan rumah penghancuran senjata mematikan itu, menyatakan tak bisa ikut dalam operasi yang inisiatifnya berasal dari Rusia dan Amerika Serikat ini.

Penolakan Albania menandai sikap yang jarang dan belum pernah terjadi sebelumnya mengingat permintaan itu datang dari sekutu tradisionalnya, yaitu Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pemusnahan senjata kimia ini merupakan salah satu rangkaian diplomasi untuk mengakhiri konflik di negara yang sudah berlangsung tiga tahun dan menewaskan sekitar 100.000 orang.

“Tidak mungkin bagi Albania untuk terlibat dalam operasi ini. Kami tidak memiliki kapasitas yang diperlukan untuk terlibat,” kata Perdana Menteri Albania Edi Rama dalam pidato di televisi, Jumat lalu. Meski tak disebutkan secara eksplisit, penolakan publik Albania juga menjadi penyebab pemerintah di Tirana mengatakan “tidak” atas permintaan Washington.

Ratusan demonstran turun ke jalan-jalan di Tirana, ibukota Albania, Jumat lalu. Mereka mengecam rencana menjadikan Albania sebagai tempat penghancuran senjata kimia Suriah karena khawatir atas dampaknya. Pengumuman Rama di televisi Jumat lalu itu disambut tepuk tangan sekitar 2.000 pengunjuk rasa yang berkemah di luar kantor sang perdana menteri.

Bukan tanpa sebab AS meminta negara dengan penduduk 2,8 juta di Mediterania itu untuk menjadi tuan rumah pemusnahan senjata kimia. Albania adalah satu dari tiga negara yang mengakui memiliki senjata kimia kepada Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), dan sudah memusnahkannya. Dua lainnya, Rusia dan Amerika, belum menyelesaikan penghancurannya sesuai rencana dan tenggat yang ditetapkan.

Tapi, Albania pernah punya masalah dengan penyimpanan amunisi. Pada Maret 2008, sebuah gudang amunisi di Gerdec, dekat Tirana, meledak dan menewaskan 26 orang dan merusak sekitar 5.500 rumah. Hasil penyelidikan menunjukkan, insiden itu ternyata disebabkan oleh rokok, yang kemudian memicu kebakaran di pabrik yang menyimpan sekitar 1.400 ton bahan peledak, dan artileri yang sebagian sudah usang.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki berusaha mengecilkan dampak dari keputusan Albania dengan mengatakan ada beberapa negara lain yang “mempertimbangkan secara serius” untuk menjadi tuan rumah bagi upaya penghancuran senjata kimia. Amerika Serikat, kata Psaki, berharap batas waktu penghancuran senjata akan terpenuhi meskipun ada penolakan Albania.

Direktur Jenderal OPCW Ahmet Uzumcu mengatakan, program penghancuran senjata kimia ini memiliki peta jalan yang jelas dan target yang ambisius. Ia menyebut tahap berikutnya, yaitu proses penghancuran fasilitas senjata kimia, pengiriman senjata kimia ke luar negeri dan pemusnahannya “sebagai masalah yang paling menantang.”

Jumat lalu, OPCW mengadopsi jadwal akhir dari program penghancuran senjata kimia ini. Penghancuran fasilitas senjata kimia di Suriah akan mulai dilakukan pada 15 Desember 2013 hingga 15 Maret 2013. Penghancuran senjata kimianya akan dilakukan di luar Suriah, April 2014. “Target waktu sudah ditentukan dan OPCW yakin ada alternatif negara lain sebagai tempat penghancuran,” kata Malik Ellahi, penasihat politik Uzumcu.

Abdul Manan (Reuters | Guardian | Al-akhbar.com | CNN)

KORAN TEMPO | 19 November 2013
senjata kimia Suriah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Cerita dari Bunker Kota Ghouta

26 February 2018

Setelah Raqqa Jatuh

30 October 2017

Generasi ‘Anak Singa’ ISIS

21 July 2015

Inggris Minta Warga Muslim Cegah Anaknya Perang ke Suriah

24 April 2014

AS: Iran Perintahkan Serang Kepentingan AS di Irak

10 April 2014

Jalan Jihad Jabhat Nusrat

28 April 2013
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.