The Secret Intelligence Service (SIS), yang lebih dikenal dengan MI6, merupakan badan intelijen Inggris yang beroperasi di luar negeri. Badan intelijen domestik adalah MI5. Tugas MI6 adalah mengumpulkan intelijen dari luar negeri untuk memahami ancaman dan peluang bagi Inggris dan kepentingan luar negerinya.
Badan ini dibentuk pada awal tahun 1900-an saat Inggris merasa terancam oleh meningkatnya kekuatan Jerman. Sebuah Biro Dinas Rahasia akhirnya didirikan pada Juli 1909 dan dibagi menjadi dua: Bagian Dalam Negeri (kemudian menjadi MI5) dan Bagian Luar Negeri (MI6). Pada Oktober 1909, Mansfield Cumming, seorang Perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris berusia 50 tahun, yang dipilih untuk memimpin MI6.
Mansfield Cumming yang awalnya menandatangani setiap suratnya dengan huruf “C”. Setelah itu, kepala MI6 kemudian dikenal sebagai “C”. Tahun ini MI6 membuat sejarah baru dengan memilih perwira intelijen perempuan, Blaise Metreweli, sebagai kepala MI6 pada Oktober 2025 lalu.
Metreweli bukan orang baru di MI6. Perempuan 47 tahun itu adalah seorang perwira intelijen karier. Menurut Aljazeera, Metreweli bergabung dengan MI6 sebagai petugas kasus pada 1999. Sebagian besar karirnya bertugas di Eropa dan Timur Tengah. Di masa lalu, ia juga pernah bekerja di MI5. Lulusan Pembroke College, Universitas Cambridge ini kemudian menjabat sebagai direktur jenderal teknologi dan inovasi MI6, yang juga dikenal sebagai “Q”, sebelum menjadi “C”.
Kepala MI6 adalah satu-satunya personel badan intelijen luar negeri itu yang namanya diumumkan secara publik. Ia melapor langsung kepada Menteri Luar Negeri Inggris. Badan ini juga bekerja sama erat dengan MI5 dan Markas Besar Komunikasi Pemerintah (GCHQ), yang berfokus pada penyadapan dan analisis sinyal elektronik serta menangani keamanan siber.
MI6 juga bekerja sama dalam kemitraan intelijen Five Eyes yang terdiri dari badan intelijen dari Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat.
Dalam pidato pertamanya kepada publik Senin, 16 Desember 2025 di markas besarnya di London, Inggris. , Metreweli menyebut Rusia menimbulkan ancaman “agresif, ekspansionis, dan revisionis” yang masih berupaya menaklukkan Ukraina dan mengganggu anggota Pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Seperti dilansir Reuters, Metreweli juga meragukan seberapa besar Putin menginginkan perdamaian. Ia juga menuding Rusia menggunakan taktik “tepat di bawah ambang batas perang”, termasuk serangan siber terhadap infrastruktur penting, drone yang berterbangan di bandara dan pangkalan militer, “aktivitas agresif” di atas dan di bawah laut, pembakaran dan sabotase, serta operasi propaganda.
Rusia sendiri membantah tuduhan bahwa mereka berada di balik insiden drone terbaru atau serangan siber di negara-negara Barat. Rusia juga membantah memiliki rencana menyerang NATO, aliansi yang telah menyediakan senjata, intelijen, dan bantuan lainnya kepada Ukraina sejak invasi Moskow tahun 2022.
Dalam pidato itu, Metreweli lebih banyak berfokus pada bahaya yang ditimbulkan oleh inovasi teknologi, seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, dan komputasi kuantum. Sebab, perkembangan itu membuat kekuasaan menjadi lebih tersebar dan tidak dapat diprediksi, dan juga bergeser dari negara ke perusahaan, dan terkadang ke individu.
Metreweli menyodorkan dilema-dilema dari perkembangan teknologi, termasuk wataknya yang seperti pisau bermata dua. “Penemuan yang menyembuhkan penyakit juga dapat menciptakan senjata baru,” katanya.

