Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
17 May 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Tegang dan Depresi karena Sutet

Tegang dan Depresi karena Sutet

Abdul Manan20 September 1997
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi “senjata” baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi Ekstra Tinggi (SUTET) yang dibangun PLN. Mereka khawatir keberadaan jaringan itu akan berpengaruh pada kesehatan. Tapi, gugatan yang mereka ajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Agustus 1996 lalu ditolak. Hakim menilai bukti berdasarkan penelitian di luar negeri yang menunjukkan bahwa keberadaan jaringan itu berbahaya bagi kesehatan tidak sahih, karena penelitian tidak dilakukan di Indonesia (lihat: Boks).

* Keluar-Masuk Kampung

Nah, kata Fuad, penelitian itu dilakukan karena dua alasan. Pertama, data tentang dampak SUTET atas kesehatan itu di Indonesia memang masih minim. Yang kedua, ya, mereka memang diminta oleh warga Singosari. “Ada surat dari warga agar kami melakukan penelitian di sana,” ujar Fuad kepada D&R.

Jadilah tim yang beranggotakan enam orang dokter dan satu insinyur itu keluar-masuk kampung selama tiga bulan (September – Desember 1995). Ada tiga kelompok penduduk yang mereka teliti. Kelompok pertama, mereka yang tinggal langsung di bawah SUTET (tegangan listriknya lebih besar atau sama dengan 500 kV). Kedua, mereka yang tinggal di bawah jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)–tegangan listriknya sekitar 150 kV. Ketiga adalah kelompok kontrol, yakni penduduk yang tinggal di daerah yang tak ada jaringan listriknya. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 65 orang. Khusus untuk kelompok pertama, responden terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang sudah tinggal di daerah itu selama 3-10 tahun. Para ibu ini dipilih, karena merekalah–bersama anak-anak–kelompok paling rentan terhadap pengaruh induksi listrik tersebut.

Untuk memperoleh data umum, tim menyebar kuesioner. Lalu, mereka melakukan tes medis, meliputi pemeriksaan fisik, paru-paru, nadi, tekanan darah, dan kondisi kejiwaan si responden. Mereka juga mengukur kuat medan elektromagnet–yang ditimbulkan oleh induksi listrik tegangan tinggi–di lokasi. Alat yang digunakan adalah ELF survey meter berkode HI-3604/1992.

* Gangguan Syaraf

Hasilnya mengejutkan. Ternyata, medan listrik di kawasan yang tepat berada di bawah SUTET–terutama pada jam-jam pemakaian listrik tinggi–sudah melampaui ambang batas aman yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Meski begitu, medan magnetnya masih di bawah ambang batas. Tapi, tes medis menunjukkan adanya gangguan signifikan terhadap kesehatan warga di lokasi penelitian. Warga di kawasan SUTET dan SUTT, pada umumnya mengeluh mengalami rasa nyeri di kepala, pusing, rasa terbakar, kulit nyeri, semutan, sering lupa, gemetar, dan mengalami gangguan tidur. “Badan saya rasanya meriang, istri saya sering mengeluh pusing,” tutur Guwanto, 38 tahun, penduduk kampung Jegong kepada D&R.

Lalu, dari pemeriksaan fisik pada penduduk yang tinggal di bawah jaringan SUTET didapati adanya kecenderungan perubahan pada denyut nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah, lekosit, dan limfosit darah. Pemeriksaan syaraf juga menunjukkan mereka cenderung menderita vertigo dan mengalami perubahan refleks tendon. Dengan kata lain, mereka berpotensi menderita gangguan syaraf.

Tak mengherankan bila tim juga mendapati tingginya tingkat kecemasan dan depresi pada warga yang tinggal di kawasan SUTET. Maklum, hidup di bawah jaringan tegangan tinggi tentulah tegang dan jauh dari rasa aman dan nyaman. “Apalagi kalau hujan turun lebat, suara jaringan itu berdengung,” cerita Ratman, tetangga Guwanto. Maka, bila hujan turun, ia meminta seluruh anggota keluarganya berkumpul di teras rumah. “Kalau terjadi sesuatu, kami bisa cepat lari,” sambungnya.

Singkat kata, temuan tim PPLH Unair itu membuktikan SUTET berdampak bagi kesehatan manusia. Temuan serupa, sejatinya, juga sudah dibuktikan oleh sejumlah riset di luar negeri. Riset di Swedia, Norwegia, dan Denver, Amerika Serikat, mendapati medan magnet ini berpotensi menimbulkan kanker darah (leukemia). Satu kasus yang cukup menghebohkan terjadi di Meadow Street, Connecticut, AS pada tahun 1990 ketika lima orang penghuni dari sembilan rumah yang terletak berdekatan dengan gardu listrik bertegangan tinggi, terkena kanker otak. Ada juga temuan yang menyebutkan, medan magnet ini berisiko menyebabkan kemandulan.

Toh, kontroversi tak juga menyurut karenanya. Pihak PLN, misalnya, masih meragukan temuan itu. Kepala Dinas Humas PLN Abbas Thaha menunjukkan serangkaian temuan lain–baik yang dilakukan PLN, Departemen Kesehatan, Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB)–yang menunjukkan bahwa medan magnet dan medan listrik dari SUTET dan SUTT masih di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh WHO. Abbas, seperti dikutip Kompas, memaparkan hasil temuan tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI dan ITB di Jawa Barat pada tahun 1995, yang menemukan medan magnet di dalam rumah maksimum 80 volt /meter dan di lapangan terbuka 2.770 volt/meter. Ini masih jauh di bawah ambang batas aman yang dipatok WHO pada 5.000 volt/meter. Tim juga menemukan, medan magnet di dalam rumah 2,25 mG dan di luar rumah 2,29 mG. Padahal angka batas yang dipasang WHO adalah 10 mG.

Karena itu, Abbas mempertanyakan kesahihan metode yang digunakan tim Unair itu. Tapi, kata Fuad, metode yang dilakukan timnya adalah metode standar yang sudah teruji kesahihannya dan para penelitinya pun ilmuwan yang teruji integritasnya. Penelitian itu juga tak diniatkan untuk memojokkan siapa pun. “Kalau ada yang mau memanfaatkannya silakan, tidak perlu izin kami,” katanya.

Akan tetapi, lepas dari siapa benar siapa keliru, apakah salahnya bila pihak PLN lebih berhati-hati, karena bukankah mencegah lebih baik ketimbang mengobati?

Laporan Abdul Manan (Surabaya) dan Zed Abidien (Gresik)

D&R, Edisi 970920-005/Hal. 74 Rubrik Iptek

Social
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

KIARA: Pemerintah Tak Berpihak kepada Nelayan

28 December 2010

Morality plays

21 March 2006

Tensi Tinggi di Antara Pasal Lonjong

20 March 2006

Berjuang dengan Usulan

20 March 2006

A Revolutionary Move

27 February 2006

Not a Magic Wand

27 February 2006
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.