Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
17 January 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Mutiara Hilang, Ciptaan Siapa

Mutiara Hilang, Ciptaan Siapa

Abdul Manan14 December 1996
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Gara-gara hak ciptanya diperebutkan, royalti sebuah lagu nostalgia dihentikan. Herannya, pihak penuntut belum mau ke meja hijau.

BAGI Anda yang pada tahun 1970-an tergolong remaja tentu tak asing lagi dengan lagu Mutiara yang Hilang. Lagu bertema cinta itu populer melalui bibir mungil penyanyi Erni Johan. Tapi, setelah bertahun-tahun menjadi lagu nostalgia, siapa sangka lagu itu sekarang menjadi obyek rebutan hak cipta.

Seorang guru SMP Pancasila di Pasuruan, Jawa Timur, Agus Muhadi, kini berusia 66 tahun, mengklaim dirinyalah pencipta sebenarnya lagu itu, pada tahun 1956. Sementara itu, musisi Yessy Wenas dan Dodo (mendiang), sebagaimana selama ini diketahui umum, berkeras menyatakan merekalah pencipta lagu itu.

Perkara unik itulah yang belakangan ini membikin repot Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI), yang tugas utamanya sebagai kolektor dan distributor royalti untuk pencipta lagu. “Kami masih berupaya mempertemukan kedua pihak, juga arbiter (wasit) mereka,” kata Paul Hutabarat dari YKCI.

Agus mengaku pertama kali mendengar lagu Mutiara yang Hilang, ciptaannya pada tahun 1956, melalui radio. Lagu yang disebutkan sebagai ciptaan Yessy Wenas dan Dodo itu dinyanyikan Erni Johan. Waktu itu, Agus dan istrinya sedang menggeluti usaha roti di Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1974.

“Lo, itu kan lagu ciptaan saya di Denpasar dulu,” ucap Agus kepada istrinya. Yang diajak berbincang cuma menjawab sambil lalu, “Ah, kamu kayak pencipta lagu saja.” Terpaksalah Agus hanya bisa menelan rasa penasarannya.

Eee…, setahun kemudian, sewaktu Agus mengajar di SMP Pasuruan, lagu itu terdengar lagi. Karena radionya disetel keras, suara lagu dari tempat hajatan di sebelah SMP itu mengalun juga ke kelas Agus. “Apa judul lagu itu?” ujar Agus kepada para muridnya. Terdengar jawaban serentak, “Mutiara yang Hilang.”

“Tahukah kalian, siapa yang menciptakan?” kata Agus lagi. Keruan saja murid-muridnya, yang tak mengerti ujung-pangkal pertanyaan itu, cuma bisa diam. Jadilah mata pelajaran hari itu diganti Agus dengan penjelasan latar belakang penciptaan lagu Mutiara yang Hilang. Ceritanya bak novel klasik.

Alkisah, menurut penuturan Agus, pada tahun 1945, ia jatuh cinta pertama kepada seorang gadis sekampungnya di Pasuruan. Ketika itu, saat revolusi fisik, Agus baru kelas I SMP. Pada masa Agresi Militer Belanda I, tahun 1947, Agus masuk Tentara Republik Indonesia Pelajar dan ikut pasukan itu ke Blitar, Jawa Timur.

Setelah Agresi Militer II, tahun 1949, Agus menjadi anggota brigade mobil. Belakangan, ia mengundurkan diri dan melanjutkan sekolah di SMEA di Surabaya. Waktu itu, menurut Agus, hubungan asmaranya dengan gadis tetangganya di Pasuruan itu tetap berlanjut.

Apalagi, Agus kerap pulang ke kampungnya, sementara si pujaan hati sekolah di sekolah guru bagian B. Namun, apa mau dikata, jalinan cinta remaja yang sudah berlangsung delapan tahun itu berujung hampa. Lamaran Agus ditolak mentah-mentah oleh orang tua sang bunga.

Dengan hati patah tak terlukiskan, Agus pun mengembara ke Denpasar. Ia menjadi guru SMEP di sana. Namun, selama tiga tahun di Pulau Dewata, Agus mengaku sulit untuk bisa jatuh cinta lagi.

Sampai akhirnya, melalui korespondensi, Agus terpikat kepada seorang gadis bernama Arti. Gadis teman lamanya di SMEA itu tinggal di Wonokromo, Jawa Timur.

Luluhnya hati Agus oleh pesona Arti itulah yang menggugah Agus untuk menggubah sebuah lagu. Kebetulan, pada tahun 1956, lagu Love Is Many Splendored Thing sedang tenar. Hatta, Agus pun memberi judul lagu “cintanya” dengan nama Mutiara yang Hilang.

Hanya tiga minggu Agus menciptakan syairnya. Sementara itu, not baloknya dibuatnya tak sampai seminggu. “Awalnya, lagu itu hanya diiringi musik mulut,” cerita Agus. Baru pada acara Taman Pelajar di Stasiun RRI Denpasar, Agus mengiringi lagu itu dengan piano. Waktu itu, adalah Ni Luh Putu Priatni, siswi kelas III SMEP, yang melantunkan lagunya.

Setahun berlalu, pada tahun 1957, Agus sempat mengirimkan lagu itu ke alamat sebuah majalah di Jakarta. Tapi, sampai bertahun-tahun kemudian, lagu itu tak kunjung dimuat, sehingga Agus melupakan saja.

Dalam pada itu, kisah asmara Agus dengan gadis Arti ternyata juga tak seindah lagunya. Gadis itu, tak disangka, lebih memilih orang tuanya yang tak menyetujui hubungannya dengan Agus ketimbang cinta Agus. Sekali lagi, Agus patah hati.

Baru pada tahun 1959, Agus menikah dengan Murtini–istrinya hingga sekarang, yang mengarunianya enam anak. Agus lantas memboyong istri dan anak pertama mereka yang baru berumur tiga bulan ke Surakarta pada tahun 1960. Setelah itu, Agus kembali menekuni karir sebagai guru di kampung halamannya.

Setelah dua kali mendengar lagu Mutiara yang Hilang mengalun, Agus sebenarnya hendak mempersoalkan. Tapi, sulit mewujudkan hasrat itu. Sebab, “Coret-coretan lagu itu saja tak ada, apalagi saksi dan bukti lainnya,” ujar Agus.

Begitu mendengar lagu itu didendangkan penyanyi Vina Panduwinata melalui TPI, pada tahun 1994, barulah Agus memberanikan diri. Ia melayangkan pernyataan ke beberapa media cetak. Agus juga berhasil memperoleh keterangan dari lima orang saksi, yakni Ni Luh Putu Priatni, tiga orang mantan muridnya di SMEP, dan Ketut Aswin (mantan Kepala Stasiun RRI Denpasar).

Setelah mengadu ke Persatuan Pengusaha Rekaman Indonesia Jawa Timur, Agus kemudian mengirim surat senada ke YKCI pada Maret lalu. Dan, pada 1 Mei, YKCI mempertemukan Agus dengan Yessy Wenas. Hasilnya? Masih buntu. Sebab, kedua pihak sama-sama mengaku sebagai pencipta sebenarnya.

Akhirnya, YKCI menyarankan agar persoalan itu dituntaskan di pengadilan saja. Sementara itu, YKCI hanya bisa menghentikan pembayaran royalti lagu tersebut, yang selama ini mengalir ke alamat Yessy dan Dodo, sebagai penciptanya.

Herannya, Agus sendiri enggan menempuh jalur hukum. Alasannya, ia nanti mesti bolak-balik ke Jakarta. Belum lagi biaya untuk mendatangkan saksi. “Untuk ongkos ke YKCI pada 1 Mei itu saja saya harus mengumpulkannya selama sebulan. Itu pun ditambah uang dari bekas murid saya,” kata Agus.

Akhirnya, kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan masalah itu melalui arbitrase (perwasitan). Agus telah menunjuk pencipta lagu N. Simanungkalit sebagai arbiternya, sementara Yessy Wenas menunjuk Y.B. Mamuaya (lihat: “Kenapa Baru Diributkan Sekarang”). Sebagai arbiter ketiga tentu saja dari YKCI.

Namun, sampai enam bulan, sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan tanggal 1 Mei, proses arbitrase tadi belum jua membuahkan hasil. Agus sendiri berharap agar YKCI cepat memutuskan bahwa dirinyalah pencipta lagu Mutiara yang Hilang. “Mumpung saya masih hidup,” ucap kakek yang masih setia menjadi guru itu.

Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 961214-018/Hal. 36 Rubrik Hukum

Law
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

ICW: Politisi Terganggu Sepak Terjang Satgas Anti Mafia

1 December 2010

Greenpeace: Kontribusi AS Kurang dari Kebutuhan Indonesia

9 November 2010

Tak Siap, tapi Harus Jalan Terus

30 April 2010

Denny Indrayana: Bukti Tuduhan ke Pimpinan KPK Sangat Lemah

16 July 2009

Greenpeace Discovers Illegal Logging in Nabire

18 October 2008

Menangkap Kakap tanpa Melepas Teri

15 September 2008
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.