Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
29 April 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Akhir Penyamaran Jagung Bakar

Akhir Penyamaran Jagung Bakar

Abdul Manan1 May 2006
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Pria separuh baya itu bertamu tengah malam, Rabu pekan lalu. Sugiono, penjaga kantor perwa-kilan bus Damri di Jalan Wonosobo, Jawa Tengah, menjamunya riang gembira. Maklum, si tamu mengaku utusan kantor pusat Damri di Jakarta. ”Saya utusan kantor pusat, ditugasi di sini,” katanya memperkenalkan diri. Sugiono tentu saja mengangguk takzim.

Tapi ada yang aneh. Tiga hari menginap di situ, si bos dari Jakarta ini tak pernah bicara soal kantor. Sekadar bertanya soal Damri pun ia tak berselera. Ia lebih doyan ngerumpi soal tetangga sebelah. Rumah di sebelah kantor Damri itu memang dikontrak sejumlah orang sejak November 2005 lalu.

Sabtu pagi pekan lalu, semua menjadi jelas bagi Sugiono. Saat hari belum terang tanah, si bos dari Jakarta membangunkannya tergesa-gesa. ”Saya petugas, silakan menyingkir dari sini,” katanya tegas. Sugiono tentu saja bingung. Begitu ia keluar rumah, puluhan polisi sudah mengurung rumah sang tetangga. Beberapa polisi malah mengacungkan bedil ke pintu rumah.

Pukul lima lebih 30 menit, lewat pengeras suara polisi mengumumkan agar penghuni rumah menyerahkan diri. Tak ada jawaban. Dari penjelasan sejumlah warga, Sugiono akhirnya paham tetangganya itu tersangka teroris.

Lantaran sasaran tak kunjung menye-rah, polisi meledakkan pintu utama rumah. Desingan peluru bersahutan. Kesunyian pagi itu pecah sebelum penduduk terjaga. Tembakan balasan dari dalam rumah juga menyalak garang. Beruntung cuma menghantam mobil polisi. Mobil itu bolong-bolong dihantam peluru.

Baku tembak baru berhenti pukul enam pagi. Polisi menerobos masuk se-telah meledakkan bom di pintu masuk. Dua orang tewas. Belakangan mereka diketahui bernama Abdul Hadi alias Bambang, dan seorang lagi bernama Gempur Budi Angkoro alias Jabir. Keduanya anak buah Noordin Mohamad Top, gembong teroris paling dicari di kawasan Asia. Dua mayat itu dibungkus kantong berwarna oranye, langsung dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara di Semarang.

Dua orang lagi memilih menyerah. Mereka adalah Muftafirin dan Sholahuddin. Muftafirin sempat menggunakan senjata revolver, menembak aparat. Pelurunya menghantam mobil.

Jabir adalah tokoh penting dalam jaringan Noordin. Itu sebabnya penangkapan itu mendapat pujian dari sejumlah kalangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang sedang melawat ke Timur Tengah, juga memberi perhatian. Dari Istana Bayan, Kuwait, Sabtu pekan lalu itu, ia memerintahkan polisi terus meng-uber Noordin.

Dalam penggerebekan itu, Noordin M. Top memang tidak tertangkap. Sejumlah sumber menyebutkan orang Malaysia itu memang sempat bersama kelompok ini, tapi sejak November lalu ia berpisah tempat dengan Jabir.

Jabir dan Abdul Hadi sudah lama diincar polisi. Mereka sudah lama malang melintang bersama Noordin dan Doktor Azahari, yang tewas di Batu, Jawa Timur, November 2005. Menurut polisi, Hadi adalah jagoan perakit bom. Ilmu itu dipetiknya dari si doktor bom: Azahari. Adapun Jabir adalah tokoh senior dalam ke-lompok Noordin. Dia salah satu tokoh kunci peledakan bom di Kedutaan Australia di Jakarta, September 2004. Pe-ran Jabir itu diketahui dari nyanyian tersangka bom kedutaan itu yang dibekuk polisi.

Bersama Azahari dan Noordin, Jabir membawa empat tas besar berisi bahan peledak TNT, sejumlah 50 kilogram, ke sebuah rumah kontrakan di Menceng, Cengkareng, 22 Juli 2004. Bom itu dirakit dalam aneka bentuk. Bahan laknat itulah yang meluluh-lantakkan jalanan di depan Kedutaan Australia itu. Jabir pula yang merekrut Heri Kurniawan, pelaku bom bunuh diri di kedutaan itu. Diuber puluhan polisi, Jabir tak kunjung- bisa diringkus.

Persembunyiannya di rumah kontrakan di Wonosobo terendus setelah polisi mendapat laporan warga. ”Informasi- dari warga, ada orang mencurigakan di rumah itu,” kata Kepala Dinas Penerangan Mabes Polri, Brigadir Jenderal Anton Bachrul Alam, yang Sabtu pekan lalu itu terlihat di lokasi penggerebekan. Polisi lalu mengintai tempat tersebut sejak dua pekan lalu.

Sumber di kepolisian menuturkan, petunjuk ke Wonosobo juga diketahui dari sejumlah anak buah Noordin yang dibekuk polisi sebelumnya. Awal 2006, Detasemen Khusus 88, unit pemburu teroris di kepolisian, menangkap 15 anggota kelompok ini. Perburuan itu difokuskan ke daerah-daerah lantaran kelompok Noordin ini belakangan mengubah siasat.

Sesudah Dr Azahari ditembak, Noordin membentuk kelompok baru yang disebut sebagai Tandzim Qoedatul Jihad. Dia menyebut diri sebagai pemimpin kelompok itu di kawasan Melayu, meliputi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Noordin menyerahkan pelaksanaan aksi ke tingkat daerah. Detasemen Khusus 88 di daerah belakangan gencar memburu kelompok ini.

Dari keterangan sejumlah orang yang ditangkap di Jawa Tengah itu polisi kemudian memburu anggota kelompok ini di sejumlah daerah. Di Jawa Timur, Detasemen Khusus 88 membekuk Ahmad Basyir. Dia ditangkap di Surabaya, 3 Maret lalu.

Ahmad Basyir ternyata juga kaki tangan langsung Noordin M. Top dan Azahari. Kepada polisi, ia mengaku pernah- menyiapkan rumah untuk pelarian kedua dedengkot teroris di Asia itu, sebelum peristiwa Batu, Jawa Timur. Dari rumah penangkapan Basyir, polisi menyita sejumlah dokumen. Di antaranya catatan pergerakan kelompok ini.

Anton Bahrul Alam saat itu menuturkan, dengan penangkapan Basyir, ruang gerak Noordin bisa dipersempit. Polisi juga terus memburu anggota kelompok ini. Sebab, kata Anton, ”Semakin banyak yang ditangkap, berarti kita semakin dekat dengan Noordin.”

Upaya penjepitan berlangsung di sejumlah daerah. Di Palu, Sulawesi Tengah, polisi bersiaga penuh sepanjang April ini. Santer beredar kabar bahwa anak buah Noordin bakal meledakkan bom di sana. Tapi polisi juga masih yakin bahwa bos komplotan ini, yakni Noordin, sudah terkurung di Jawa Tengah. ”Dia masih di Jawa Tengah, mau lari ke mana dia?” kata Anton Bachrul Alam, awal Februari lalu. Polisi terus memburu hingga meletus baku tembak di Wonosobo, Sabtu dini hari pekan lalu itu.

Orang tua Jabir di Madiun, Jawa Ti-mur, belum yakin betul si Jabir sudah tewas. Zein, paman Jabir, saat ditemui para wartawan di Desa Mejorejo, Kebon Sari, Sabtu siang pekan lalu, mengatakan keluarga belum percaya Jabir tewas. Jika dia benar-benar tewas, keluarga menerimanya. ”Ibarat jualan sudah laku,” kata Zein.

Polisi kini terus memburu Noordin dan anak buahnya ke sejumlah daerah, yang bisa menyamar dengan rupa-rupa cara. Di Semarang, para buron kerap menyamar sebagai pedagang alat-alat elektronik, sepatu, dan sandal jepit. Di Surabaya juga begitu.

Mereka yang tertangkap di Wonosobo, Sabtu pekan lalu itu, menyamar sebagai pedagang baju, juga penjual jagung bakar di pasar Kretek, tak berapa jauh dari rumah kontrakan mereka. Sejumlah penduduk setempat menuturkan Jabir dan kawan-kawan cukup ramah.

Ketika terjadi baku tembak antara polisi dan penghuni rumah, warga tentu saja terperangah. Penyamaran jagung bakar itu berakhir Sabtu dini hari pekan lalu.

Wens Manggut, Abdul Manan, Imron Rosyid, Syaiful Amin (Wonosobo)

Majalah Tempo, Edisi. 10/XXXV/01 – 7 Mei 2006

Doktor Azahari Noordin M. Top terorisme
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Jumat Berdarah di Al-Rawdah

4 December 2017

Angin Segar Kompensasi Korban

25 September 2017

Yang Tekor Setelah Teror

2 January 2017

Direnggut Teror setelah ‘Amen’

21 November 2016

Pasal Karet Penangkal Teror

23 May 2016

Senat Minta Gedung Putih yang Edit Laporan Penyiksaan CIA

10 April 2014
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.