Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
10 December 2025
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Sinyal Akhir Era Netanyahu

Sinyal Akhir Era Netanyahu

Abdul Manan19 February 2018
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

KELIHAIANNYA lolos dari sejumlah krisis politik membuat Benjamin Netanyahu, Ketua Partai Likud dan Perdana Menteri Israel, dijuluki Si Ahli Sulap. Lelaki 68 tahun ini bahkan bisa menjadi perdana menteri empat periode. Nasib baiknya menjadi tanda tanya setelah Kepolisian Israel, Senin pekan lalu, merekomendasikan agar ia didakwa karena dua kasus pidana.

Pemimpin oposisi dari Partai Uni Zionis, Avi Gabbay, menyebut rekomendasi polisi itu “jelas, tegas, dan menentukan” atas kasus yang menimpa Netanyahu. “Waktunya telah tiba untuk mengakhiri budaya korupsi pemerintah. Setelah sembilan tahun Netanyahu memerintah, masyarakat layak mendapatkan pemimpin baru dan perdana menteri yang bersih dan jujur,” ujarnya, Selasa pekan lalu. Ia menyebut perkembangan ini sebagai akhir era Netanyahu.

Pernyataan Gabbay keluar beberapa jam setelah polisi mengumumkan rekomendasi mereka kepada Jaksa Agung Avichai Mandelblit untuk mengajukan dua dakwaan terhadap Netanyahu. Dakwaan pertama adalah soal dugaan Netanyahu menerima suap dari produser Hollywood, Arnon Milchan, dan pengusaha Australia, James Packer, yang dikenal sebagai Kasus 1000. Dakwaan kedua, dugaan Netanyahu menerima suap dari pengusaha media Arnon Mozes, yang disebut sebagai Kasus 2000. Bola kini di tangan Mandelblit untuk memutuskan apakah akan mengajukan dakwaan atau tidak terhadap perdana menteri yang sedang berkuasa itu.

***

BENJAMIN Netanyahu, yang biasa dipanggil Bibi, lahir di Tel Aviv pada 1949. Pada 1963, keluarganya pindah ke Amerika Serikat ketika ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan dan aktivis Zionis, ditawari jabatan akademis di sana. Pada usia 18 tahun, Netanyahu kembali ke Israel dan masuk militer, termasuk menjadi kapten di unit elite komando Sayeret Matkal. Setelah dinas militernya berakhir, Netanyahu kembali ke Amerika serta mendapatkan gelar sarjana dan magister di Massachusetts Institute of Technology.

Pada 1988, dia kembali ke Israel dan bergabung dengan Partai Likud. Ia memenangi kursi di Knesset (parlemen) dan menjadi wakil menteri luar negeri. Setelah Likud kalah dalam pemilihan umum 1992, dia menduduki posisi ketua partai. Empat tahun kemudian, Netanyahu menjadi Perdana Menteri Israel termuda. Itu adalah pemilihan yang dipercepat setelah Yitzhak Rabin terbunuh.

Tiga tahun kemudian, Netanyahu meminta pemilihan umum dipercepat setelah koalisi pemerintahannya pecah. Likud kalah suara dari Partai Buruh. Hasil itu mengantar Ketua Partai Buruh, Ehud Barak, menjadi perdana menteri. Kekalahan tersebut mendorong Netanyahu mundur dari Knesset. Posisinya sebagai Ketua Likud diisi Ariel Sharon. Pada 2001, setelah Sharon terpilih menjadi perdana menteri, Netanyahu kembali ke pemerintahan. Ia kembali ke tampuk kepemimpinan Likud pada 2009 dan terpilih kembali sebagai perdana menteri. Jabatan itu terus dipegangnya setelah ia terpilih lagi untuk periode ketiga pada 2013 dan keempat pada 2015.

Penyelidikan polisi terhadap Netanyahu meningkat sejak Agustus 2017, meski sebenarnya sudah dimulai dua tahun sebelumnya. Dalam Kasus 1000, Netanyahu dan istrinya, Sara, dicurigai menerima hadiah dari jutawan Arnon Milchan dan James ­Packer berupa cerutu dan sampanye senilai sekitar 1 juta shekel atau lebih dari Rp 3,8 miliar.

Salah satu saksi kunci polisi dalam kasus ini adalah Ari Harow, pengusaha dan politikus Partai Likud. Pria kelahiran Amerika ini menjadi Kepala Staf Perdana Menteri Israel pada 2009, ketika Netanyahu memimpin negeri itu, tapi mundur setahun kemudian karena alasan kesehatan. Belakangan, polisi menyeret Harow ke pengadilan dalam kasus penyuapan, penipuan, dan pencucian uang dengan ancaman hukuman penjara. Agustus tahun lalu, Harow setuju untuk bersaksi melawan Netanyahu. Sebagai imbalannya, jaksa tak akan menuntutnya dengan hukuman penjara, tapi hanya hukuman enam bulan pelayanan masyarakat dan denda sekitar Rp 2,7 miliar.

Polisi menyatakan telah punya cukup bukti untuk mendakwa Netanyahu dalam kasus suap, kecurangan, dan pelanggaran kepercayaan terkait dengan hubungannya dengan pengusaha Milchan dan ­Packer. Menurut polisi, sebagai imbalan atas hadiah yang diberikan kedua jutawan itu, Netanyahu mencoba meloloskan undang-undang yang akan membebaskan pajak untuk orang-orang Israel yang kembali ke negara tersebut dari luar negeri. Kebijakan tersebut, yang akhirnya ditolak menteri keuangan saat itu, akan memberi manfaat finansial besar bagi Milchan.

Menurut laporan media, pada Selasa malam pekan lalu, Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, menjadi salah satu saksi utama yang akan memberatkan Netanyahu. Menteri keuangan periode 2013-2014 ini kabarnya memberikan bukti bahwa sang Perdana Menteri mendorong amendemen sebuah undang-undang yang akan menguntungkan kolega pengusahanya itu jutaan dolar dari potongan pajak.

Netanyahu juga diketahui mencoba membantu proyek Milchan dan Ratan Tata, jutawan India, untuk membangun zona perdagangan bebas di dekat perbatasan Israel-Yordania. Politikus yang juga meraih kesarjanaan dari Harvard University itu pernah pula melobi Menteri Luar Negeri Amerika, John Kerry, dan Duta Besar Amerika untuk Israel, Daniel B. Shapiro, untuk membantu Milchan menghadapi masalah perpanjangan visanya. Saat menjadi menteri komunikasi pada 2014, ia dikabarkan mencoba membantu Milchan menjadi pemegang saham stasiun televisi Channel 2 Israel.

Dalam Kasus 2000, Netanyahu dituding membuat kesepakatan rahasia dengan penerbit surat kabar Yedioth Ahronoth, Arnon Mozes, pada 2009. Netanyahu akan mendapat liputan positif dari Yedioth, sedangkan Mozes akan mendapat dukungan promosi dari Netanyahu, termasuk bantuan untuk membatasi kekuatan media pesaingnya, Israel Hayom, surat kabar gratis milik Sheldon Adelson, pendukung Netanyahu.

Rekaman audio pertemuan Netanyahu dengan Mozes, yang dibuat secara diam-diam, ada di telepon seluler Ari Harow. Polisi merekomendasikan agar Netanyahu didakwa dalam kasus suap, kecurangan, dan pelanggaran kepercayaan. Polisi merekomendasikan Mozes didakwa karena menawarkan sogokan.

Menurut CNN, yang membuat Netanyahu layak khawatir adalah penegak hukum Israel punya rekam jejak tidak takut dalam menyelidiki dan menuntut pemimpin dan politikus seniornya. Mantan perdana menteri Ehud Olmert menjalani 16 bulan penjara karena menerima uang dari pengusaha Amerika dan menerima suap untuk proyek perumahan saat dia menjabat Wali Kota Yerusalem. Bekas presiden Moshe Katsav dihukum karena kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Netanyahu, yang sudah diinterogasi polisi tujuh kali, membantah tudingan korupsi. Ia menyebut investigasi selama berbulan-bulan terhadapnya adalah fitnah dan upaya untuk menggulingkannya dari kekuasaan. “Mereka telah menyerang istri dan anak-anak saya secara brutal untuk menyakiti saya,” ujarnya, mengomentari rekomendasi polisi itu.

Ketua partai koalisi dari Likud, David Amsalem, menyebut apa yang dihadapi Netanyahu ini bukan hal baru dan seperti upaya melepaskan “puluhan anak panah” dengan harapan salah satunya akan mengenainya. “Di negara demokratis, pemerintah digulingkan dengan cara pemilihan di bilik suara, bukan oleh tentara atau polisi,” tuturnya.

Ketua aliansi partai Persatuan Zionis, Avi Gabbay, mendesak Netanyahu segera mundur. Desakan sama disampaikan ­Ayman Odeh, Ketua Partai Arab Bersatu. “Netanyahu adalah perdana menteri yang korup dan berbahaya. Dia akan melakukan segalanya untuk tetap berada di pemerintahan,” ucap Odeh.

Netanyahu mengabaikan tekanan itu. “Saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk terus memimpin Israel. Pemerintah kita akan menyelesaikan masa jabatannya,” ujarnya.

Abdul Manan (The Times Of Israel, Jerusalem Post)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 18 Februari 2018

Amerika Serikat Benjamin Netanyahu Israel korupsi Sayeret Matkal
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Ambisi Sang Putri Saudi

29 July 2019

Geliat Haiphong di Tengah Perang

7 July 2019

Bahri Tak Mampir di Le Havre

3 June 2019

Jeanne, Agen Perempuan CIA Penangkap Mata-mata

30 April 2019

Jack Barsky dan Kisah Pembelotannya dari KGB

27 April 2019

Khaled Meshaal dan Misi Gagal Mossad di Yordania

27 April 2019
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Korea Selatan Luncurkan Satelit Mata-mata ke-4 untuk Awasi Korea Utara

26 April 2025

Mantan Manajer Petronas Didakwa dengan Spionase Bisnis

24 April 2025

Protes AP ke Gedung Putih dan Isu Amandemen Pertama

15 February 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Greenpeace Hamas Indonesia Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin
© 2025 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.