Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
2 June 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Reportase»Penantian Panjang Ashari

Penantian Panjang Ashari

Abdul Manan1 March 1999
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Padamnya listrik memengaruhi berbagai sektor ekonomi Madura dan menghambat roda pemerintahan.

WAKTU terasa berjalan sangat lambat bagi Muh. Ashari. Pengusaha mebel di Sampang ini adalah korban langsung dari padamnya listrik di Madura. Ashari menuturkan kepada D&R, sejak listrik padam, banyak peralatan untuk membuat ranjang ukiran–istilah Maduranya adalah dipan palek–tak bisa berfungsi. seperti bor listrik, mesin bubut, dan mesin perata atau pasra.

Akhirnya, Ashari harus kembali menggunakan alat lamanya: alat dengan tenaga tangan. Kalau dihitung-hitung hasilnya, ada perbedaan produktivitas cukup besar. Jumlah produk mesin dibandingkan tenaga tangan adalah tiga banding satu. Mau lak mau, itulah yang dilakukan Ashari dan dua buruhnya kini.

Selain itu, usahanya belakangan ini sangat seret. Malah, menurut Ashari, usaha yang diwarisi dari orang tuanya itu sudut sekarat kondisinya. “Mau beli mesin diesel tak punya uang,” ucapnya. Ashari menyatakan, masih akan menunggu dan terus menunggu listrik ini hidup. Dan, ia akan terus menunggu sampai kesabarannya habis.

Ashari hanyalah salah satu dari puluhan ribu korban. PLN sebenarnya juga tak berdiam diri. Kebutuhan listrik di Madura adalah 73 megawatt, sedangkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang ada cuma tiga megawatt. Dalam sehulan ini, PLN akan memasok kebutuhan listrik di pulau itu sebanyak 13 megawatt, khusus untuk menerangi proyek vital, seperti rumah sakit dan air minum. Artinya, masih 60 megawatt lagi atau 82 persen kebutuhan listrik Madura yang tidak terpenuhi.

Sebenarnya, Madurabaru benar-benarmenikmati listrik interkoneksi pada dekade 1990-an. Sampai tahun 1989, Madura hanya dihidupi PLTD yang terpusat di Pamekasan. Setiap kabupaten masih menyimpan PLTD-nya untuk kebutuhan lokal. Itu sebabnya, menurut data PLN sampai 1992/1993, pelanggan di Madura yang dilayani PLN Cabang Pamekasan hanya mencakup empat persen dari seluruh pelanggan di Jawa Timur.

Bagi kalangan yang masih menyimpan generator milik pribadi, warisan zaman PLTD, dengan cepat bisa beralih ke cara lama itu. Bagi yang sudah telanjur menjual generatornya, matinya listrik untuk waktu lama memang cukup merepotkan. Pengguna beban daya terbesar, sekaligus penderita kerugian terbesar, tetap sektor rumah tangga, yang mencapai 72 persen.

* Memindahkan PLTU

“Untuk mengembalikan kondisi Madura seperti semula memang butuh waktu lama. Itu artinya harus memindahkan PLTD besar atau pembangkit listrik tenaga uap ke Madura, sembari menunggu kabclnya dibetulkan,” kata Menteri Pertambangan dan Energi, Kuntoro Mangkusubroto, pekan lalu.

Bagi industri-industri besar yang sudah memiliki generator sendiri, musibah ini akan segera teratasi. Tapi, bagi industri kecil dan menengah, ini bisa merugikan. Di Madura, menurut Kepala Kantor Wilayah Departemen Perindustlian dan Perdagangan Jawa Timur, Suharno, kini terdapat lebih dari 68.000 industri kecil dan menengah, mulai dari industri makanan dan minuman sampai tekstil. Jumlah itu berarti 11 persen dari jumlah seluruh industri di Jawa Timur. Kerugian bukan cuma bagi pemilik, tapi terutama bagi puluhan ribu buruh yang bekerja di sektor itu.

Sungguhpun begitu, ada yang menganggap angka dari kantor wilayah itu tidak vallid, dengan alasan Madura sebenarnya belum banyak beranjak dari usaha agro-ekonomi tembakau dan garam. Bukan listrik, melainkan sinar matahari yang menjadikan Madura sebagai produsen 70 persen kebutuhan garam nasional. Menurut Bupati Sampang Fadhilah Budiono, listrik PLN lebih banyak berfungsi untuk penerangan sehingga dampak padamnya listrik terhadap industri kurang terasa.

Bagaimanapun, bagi pemerintah daerah (pemda) sendiri, padamnya listrik itu sangat terasa mengganggu. Urusan administrasi terhambat karena surat kembali harus ditulis dengan mesin ketik, tidak lagi dengan kompuler. Untuk kebutuhan fotokopi terpaksa harus ke Surabaya. Belum lagi kebutuhan mencetak foto aktivitas rutin bagian hubungan masyarakat–yang juga harus ke Surabaya. Kontak dengan Pemda Tingkat I Jawa Timur juga jadi tak efisien karena surat yang sebelumnya cukup dikirim melalui faksimile kini harus lewat kurir.

Bukan cuma pemda yang kelabakan. Menurut pemantauan D&R, 24 Februari instansi yang helum teraliri listrik cukup banyak, di antaranya kantor pemda, Kepolisian Resor Bangkalan, kantor Badan Perencana dan Pembangunan Daerah, pengadilan negeri, kejaksaan negeri, komando distrik militer, alun-alun, pasar, masjid agung, dan beberapa kantor lain. Penantian ini tampaknya masih panjang.

Satrio Arismunandar/Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990301-029/Hal. 62 Rubrik Hukum

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Manis-Pahit Budi Daya Keramba Jaring Apung

27 October 2024

Kenangan Pudar di Danau Maninjau

27 October 2024

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Jenderal Dudung soal Kebijakan TNI AD, Papua dan Revisi UU TNI

22 May 2023

Surya Paloh soal Panas Dingin Hubungannya dengan Jokowi

15 May 2023

Sukidi soal Al Quran, Akal dan Campur Tangan Negara

17 April 2023
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.