Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
17 July 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Reportase»Hotman Siahaan: “Satu-satunya Pilihan Memang Pemilu”

Hotman Siahaan: “Satu-satunya Pilihan Memang Pemilu”

Abdul Manan4 January 1999
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
KEADAAN mendatang sangat mengkhawatirkan,” bagi kata Dr. Hotman Siahaan, dosen Fakultas Ilmu Sosial-Ilmu Politik dan Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, tentang realitas sosial-politik Indonesia. Berikut petikan wawancara reporter D&R, Abdul Manan dengan sosiolog itu.

Kerusuhan makin gampang saja terjadi di Indonesia belakangan ini. Ada apa sebenarnya?

Kerusuhan sekarang ini, amuk massa sekarang ini, sebenarnya lahir alibat banyak variabel. Sesudah terjadi reformasi, ketika ada tuntutan moral yang baru, orang lalu meragukan semua legitimasi yang datang dari negara. Di sisi lain, kemudian legitimasi negara yang sangat lemah itu juga membuat suasana orang bisa sangat rawan amuk.

Perkelahian pelajar juga semakin marak. Apakah itu bisa dilihat dalam perspektif yang sama?

Betul. Institusi-institusi pendidikan kita juga terhegemoni sehingga seolah kehilangan kiprah sebagai proses berpikir, lebih menjadi birokrasi pendidikan. Itulah yang terjadi dalam pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Dan, pelajar-pelajar itu lahir dari suatu generasi yang apolitis. Nah, luapan-luapan ekspresi mereka terwujud di jalan, semacam itu, karena memang kurikulum kita sama sekali tidak memberi peluang. Kurikulum itu membelenggu orang untuk belajar, belajar, dan belajar terus. Tidak ada luapan ekspresi yang bisa dipakai.

Apakah keadaan terhegemoni seperti itu merupakan suatu proses alami?

Dari perspektif mana? Kita mengalami ini karena proses politik kita selama ini berjalan tidak benar. Yang kita sebut demokratisasi itu hanya performa. Karena yang kita sebut proses suksesi itu hampir tidak pernah terjadi. Penyebabnya: dominasi negara yang sangat kuat, yang menghegemoni semua kekuatan politik. Dan, yang terjadi sekarang ini adalah semua tindakan ekstra konstitusional.

Kalau melihat kecenderungan sekarang, apakah kerusuhan atau situasi kacau seperti ini akan terus berlanjut?

Saya sangat sedih karena itulah yang terjadi. Selama kita tidak punya proses politik yang betul-betul mampu meredam seluruh potensi konflik, gesekan-gesekan ini makin keras. Boleh dikata, situasi kita mendatang ini sangat menakutkan. Karena apa?

Misalnya, bisa dibayangkan kalau Mei nanti kita muLai melakukan kampanye. Sekarang saja–enggak sedang kampanye dua organisasi peserta pemilu bertemu saja sudah seperti itu, bentrok. Itu kasus Blora dan Buleleng. Sekarang, jumlah partai ada ratusan. sistemnya proporsional lagi, yang kemungkinan terjadi reli-reli dalam kampanye. Ini tidak menutup kemungkinan berpapasan. Bukan main!

Jadi, bisa terjadi revolusi sosial…?

Revolusi sosial seperti apa dulu? Kalau yang dibayangkan adalah revolusi sosial yang dipicu oleh sebuah chaos, ya, memang sangat mengerikan. Tapi, kalau revolusi sosial itu terjadi sebagai bentuk perubahan total dari sebuah sistem, berjalan dalam sebuah bingkai moral politik dan etika politik, saya kira tidak terlalu mahal harganya. Yang saya, khawatir kalau terjadi revolusi sosial yang didorong oleh chaos semacam itu. Harga yang kita bayar akan sangat mahal.

Maksudnya?

Pertama, akan tejadi bentrok fisik yang memakan korban luar biasa. Suasana itu akan memancing munculnya tangan besi, militerisme. Kalau itu yang terjadi, akan sangat setback. Atau, yang kedua, revolusi sosial itu akan memicu disintegrasi. Bisa saja nanti orang dari pulau lain ingin merdeka dan keluar dari republik. Suara-suara itu sudah kencang. Di beberapa tempat orang sudah merasa “apa pengikat kami dengan republik; historis juga enggak.” Itu yang dikatakan orang-orang Irianjaya dan Timor Timur. “Kalaupun kita dianggap punya keterikatan historis, yang mana?” Mungkin, secara historis punya keterikatan. Tapi, kalau secara ekonomi dan politik tidak merasa? Itu kemungkinan terjadi pada Aceh dan Bali. Dan, itu problem yang kita hadapi sekarang. Celakanya, Orde Baru membangun nasionalismenya di atas kekuasaan dan kekerasan. Itu susahnya. Seluruh proses integrasi kita pada dasarnya byforce.

Apakah kekerasan yang berlangsung belakangan ini tidak bisa dicegah?

Seharusnya bisa dicegah. Tapi, bagaimana membuatnya kalau seluruh legitimasi dari struktur politik kita itu dipertanyakan? Di sanalah dilema kita. Karena itu, saya setuju, satu-satunya pilihan memang pemilu. Pertanyaannya kemudian, bisakah kita menciptakan pemilu yang betul-betul jujur dan adil. Itu pertanyaan besar sekarang.

D&R, Edisi 990104-021/Hal. 27 Rubrik Peristiwa & Analisa

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Manis-Pahit Budi Daya Keramba Jaring Apung

27 October 2024

Kenangan Pudar di Danau Maninjau

27 October 2024

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Jenderal Dudung soal Kebijakan TNI AD, Papua dan Revisi UU TNI

22 May 2023

Surya Paloh soal Panas Dingin Hubungannya dengan Jokowi

15 May 2023

Sukidi soal Al Quran, Akal dan Campur Tangan Negara

17 April 2023
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.